Tampilkan postingan dengan label Cerita Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Misteri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Oktober 2014

"Kejutan Terakhir"

Aku terbangun dari tidurku karena gemercik air mengenai wajahku, saat aku melihat jam sekarang baru pukul 1 malam, aku ingin kembali tidur saat aku menarik selimutku kembali tiba-tiba sebuah kertas kecil menempel di selimutku, kertas itu bertulis:
Halo Nadia! Maukah kamu menolong Mama? Coba kamu ke rak buku di ruang tengah sekarang dan coba kamu ambil buku Mama yang berjudul ‘Sepasang Mata Merah’ lalu kamu kasih ke kamar Mama, Terima kasih, sayang!

“Aduh Mama ada-ada saja, kenapa Mama tidak ambil sendiri? Huh aku baru tau Mama punya buku horror seperti itu,” ucapku malas, tetapi aku kerjakan perintah Mama tadi walaupun sedikit berlebihan memakai surat segala.

Aku membuka pintu kamar Mama karena ingin mengembalikan buku itu, tiba-tiba Papa dan Mama tidak ada di dalam kamar aku menemukan surat lagi di gagang pintu kamar Mama yang berisi:
Kamu pasti bingung Mama pergi kemana, bagaimana kamu sekarang ke dapur lalu masak telur dadar buatanmu yang sangat disukai Nenek, karena Nenek sebentar lagi akan datang, kerjakan sekarang!

Dengan kesal aku membanting buku itu, tiba-tiba di dalam buku itu ada pisau jatuh berlumuran darah, jantungku berdetak kencang karena aku takut Papa dan Mama kenapa-napa. Aku bergegas masak ke dapur, saat telur itu jadi aku langsung meletakannya di piring dan menaruhnya di meja makan. Seorang wanita tua yang wajahnya tertutup rambut putihnya itu lewat lalu ia langsung berlari ke tangga dan naik ke atas.
“Itu siapa? Apakah itu Nenek? Katanya Nenek akan datang nanti, tetapi kenapa ia berlari dan berkeliaran sekeliling rumah tengah malam ya?” kataku berbicara sendiri,

Di kursi meja makan ada surat lagi yang berisi:
Terima kasih Nadia, apakah kamu barusan melihat seorang wanita tua berjalan ke atas? Coba kamu ikuti dia!

Lagi-lagi aku harus mengikuti perintah surat dari Mama itu, dan aku menuju atas. Saat aku melirik keluar jendela dekat tangga rumahku, wanita tua yang wajahnya tertutup rambutnya itu ternyata ada di luar sambil mencakar-cakar jendela rumahku. Tadi kan ia ke atas? Mungkin ia lewat tangga lainnya, aku coba ke luar saat aku ke luar tidak ada siapa-siapa. Malah, ada sepucuk surat dari Mama lagi yang berisi:
Mama sayang padamu! Pergilah, disini tidak aman nak! Mama ingin bertemu Nadia lagi!

Aku bingung apa maksud surat yang ditulis oleh cat air merah itu, mungkin Mama ingin memberikan kejutan kepadaku? Aku pergi dari tempat itu dan kembali ke dalam. Saat aku naik ke atas, aku bertemu wanita itu yang barusan menempelkan sepucuk surat di pintu kamar Kak Sabrina yang berisi:
Masuk ke kamar Kak Sabrina, coba kamu ambil setangkai bunga mawar di dalam sana dan bawalah sampai rantai surat ini berakhir

Aku segera masuk ke kamar Kak Sabrina dan aku menemukan setangkai bunga mawar di meja rias Kak Sabrina, saat aku melihat kaca ada seorang gadis sedang menyisir rambutnya.
“Nadia, rambut Kakak indah kan? Tolong sisirkan rambut Kakak untuk terakhir kalinya sayang, Nadia Kakak selalu menyayangimu,” ucap gadis itu, dari suaranya mirip Kak Sabrina. Aku tersentak kaget dan membaca do’a agar tidak ada makhluk gaib menggangguku, saat aku melihat ke belakang ternyata tidak ada siapa-siapa.

Ah mungkin itu hanya halusinasiku, batinku, aku langsung ke luar kamar dan mencari surat selanjutnya. Tiba-tiba kedua adik kembarku Vianna dan Vionna berlarian di hadapanku ia bermain sangat gembira dan mereka terlihat sangat bahagia.
“Via, Vio, kalian kok belum tidur? Nanti dimarahin Mama lho!” kataku mengingatkan mereka berdua.
“Ayo Kak Nadia, ikutan main! Hahaha!” tawa mereka yang masih berlari-larian dengan sangat riang.

Aku melihat kertas kecil di dekat tangga menuju balkon, aku membaca isi kertas itu. Kertas itu berisi:
Sekali lagi nak coba kamu naik ke atas dan kamu lihat ada apa gerangan? Hihihi, anak Mama pintar bisa melanjutkan petualangan surat ini!

Aku begitu penasaran, saat aku ingin membuka pintu balkon, “NENG NADIA!” panggil seseorang dari bawah, aku langsung menghentikan langkahku dan menuju ke seseorang yang memanggilku itu.
“Bibi Sumiah? Ada apa? Loh kok Bibi menangis?” kataku bingung melihat pembantu rumah tangga-ku itu menangis.
“Apakah kamu habis menyelesaikan petualangan surat dari Mama? Dan sudah sampai balkon?” tanya Bi Sumiah sambil terisak.
“Belum Bi, kan tadi Bibi menghentikanku memang kenapa?” tanyaku sangat bingung.
“Hiks, coba kamu lihat ke balkon sekarang!” perintah Bibi, aku langsung berlari menuju balkon dengan perasaan gembira dan terkejut aku melihat banyak sekali bunga dan lampu yang dihias disana, ada sebuah bunga yang dirangkai menjadi tulisan ‘HAPPY BIRTHDAY NADIA!’ sangat besar, aku sangat bahagia menerima kejutan ini. Tetapi ada sesuatu yang kurang,
“Bi, Mama, Papa, Kak Sabrina, Vianna, dan Vionna mana? Kok mereka tidak ada?” tanyaku bingung.
“Hiks, Bibi sedih neng Bibi sedih,” jawab Bibi yang duduk sambil mengeluarkan air matanya itu.
“Ada apa, Bi? Bibi ada masalah? Coba cerita dulu ke Nadia,” kataku memegang tangan Bibi yang terlihat sangat sedih.
“Papa, Mama, Kak Sabrina, Vianna, dan Vionna mereka…”
“Kenapa Bi?” tanyaku penasaran.
“Meninggal dunia, tadi seorang penjahat membunuh mereka menggunakan golok tanpa sebab dan polisi sudah menemukan mereka semua,” jelas Bi Sumiah dengan sangat sedih.
“BIBI SERIUS??? BI? INI BUKAN SAATNYA BERCANDA BI!” kataku kaget, air mata langsung keluar dari mataku.
“Iya neng, saat neng masih tidur dan Bibi saat baru pulang dari supermarket. Tadi permintaan terakhir Mama, Mama mau neng menyelesaikan surat buatan Mama itu coba neng lihat surat terakhir di kursi yang diukir oleh mereka tadi sekitar jam 9” kata Bibi menunjuk ke sepucuk surat terakhir. Surat itu berisi:
Selamat ulang tahun Nadia sayangku! Semoga kamu makin sehat, pintar, dan segalanya. Satu lagi semoga kita semua bisa bersama selamanya!

Seketika air mata membasahi pipiku,
“Kenapa waktu begitu cepat? Mengapa saat pembunuhan berlangsung aku tidak dibunuh juga? Mama, Papa, Kak Sabrina, Vianna, Vionna, aku sayang kalian semua selamanya” kataku memeluk dan mengecup foto kami saat masih berkumpul dan bersama.

Kebahagiaan cepat berlalu, terima kasih atas kejutan kalian untuk ulang tahunku walaupun kalian lebih bahagia disana. Bibi menghampiriku dan memelukku dari belakang.
“Bi, Nadia mau tanya” kataku sambil menghapus air mataku.
“Tanya apa, sayang?” kata Bibi yang juga menghapus air matanya.
“Kan kata Bibi pembunuhan tadi pakai golok tetapi kenapa tadi di kamar Mama aku menemukan sebuah pisau? Lalu tadi nenek yang menunjukkan arah kepadaku siapa yang tadi naik ke atas tangga?” tanyaku bingung.
“Wanita tua itu Bibi neng, karena Mama juga mau Bibi ikut menyamar” jelas Bibi Sumiah.
“Hm, Bibi kan tadi naik ke atas kenapa tadi tiba-tiba Bibi muncul di jendela luar dan meninggalkan sepucuk surat pakai tinta merah dan menyuruhku pergi? Lalu tadi di kamar Kak Sabrina yang sedang menyisir rambut siapa, Bi? Apakah teman Bibi ikut dalam rencana ini?” tanyaku semakin bingung.
“Wah kalo soal itu Bibi tidak tahu, neng” kata Bibi, aku terdiam sangat bingung.
Lalu kenapa ada pisau di kamar Mama tadi? Siapa wanita tua yang diluar itu? Dan siapa yang sedang menyisir di kamar Kak Sabrina tadi? Aku kira itu teman Bibi ternyata bukan, lalu mereka semua siapa?

END

Minggu, 20 Oktober 2013

Joko Kendil yang Tampan

Alkisah, hiduplah seorang janda tua dan bocah laki-laki bernama Joko Kendil di suatu dusun terpencil. Joko Kendil ini memiliki bentuk fisik sedikit lucu dan aneh. Karena itu, teman-teman sebayanya kerap mengolok-olok kekurangannya tersebut. Walaupun demikian, Joko Kendil tetaplah percaya diri. Selama bertumbuh dari anak-anak menjadi remaja, tidak ada hal-hal yang membuat Joko Kendil bersedih. Justru si ibu yang sering bersedih, selalu mendengar olok-olok dari teman Joko Kendil.

Suatu hari, Joko Kendil yang sudah beranjak dewasa bilang pada ibunya bahwa dia sudah ingin punya istri. Ibunya senang sekaligus bersedih mendengar perkataan joko kendil tersebut. Senang karena anaknya normal layaknya anak-anak yang lain, sedih karena ibunya tahu tidak bakalan ada yang mau menjadi istri Joko Kendil yang buruk rupa. Belum selesai ibunya terbengong memikirkan perkataan anaknya, dia lebih terkejut lagi saat anaknya minta untuk melamarkan putri raja untuk dijadikan istrinya. Lama sekali ibunya meyakinkan Joko Kendil agar tidak menyuruh ibunya melamar putri raja, karena sudah pasti akan ditolak. Jangankan putri raja, rakyat jelata saja belum tentu ada yang mau menjadi istri Joko Kendil. Tetapi tekad Joko Kendil tidak bisa dibendung oleh ibunya, sehingga sang ibu pun dengan terpaksa menyanggupi permintaan Joko Kendil untuk melamar putri raja.

Dengan perasaan tidak karuan, Ibu Joko Kendil pergi menghadap Raja untuk mengutarakan permintaan anaknya. Ibu Joko mengungkapkan keinginan anaknya pada Raja. Raja sama sekali tidak marah mendengar penuturan Ibu Joko. Sebaliknya, Raja meneruskan lamaran itu pada ketiga putrinya yang cantik-cantik.

Putri Sulung dan Putri Tengah menolak mentah-mentah, bahkan menghujat dan menghina ibu dan Joko Kendil. Berbeda dengan kedua kakaknya, Putri Bungsu justru menerima pinangan itu dengan senang hati. Raja dan kakak-kakaknya sangat heran. Tapi karena Putri Bungsu sudah setuju, ia tak dapat mencegah pernikahan itu.

Putri Bungsu selalu diejek kedua kakaknya, karena mempunyai suami Joko Kendil. Meskipun Putri Bungsu sedih karena diejek terus-terusan tapi ia berusaha sabar dan tabah.

Suatu hari, Raja mengadakan lomba ketangkasan. Tapi, Joko tidak bisa ikut. Ia mengatakan pada Raja, badannya sakit. Lomba ketangkasan itu diikuti banyak orang penting seperti para pangeran dan panglima. Mereka berlomba naik kuda dan menggunakan senjata. Tiba-tiba datang seorang ksatria gagah. Ia sangat tampan dan tangkas menggunakan senjata.

Putri Sulung dan Putri Tengah senang sekali melihatnya. Mereka jatuh cinta pada ksatria itu. Ia kembali mengejek adiknya, karena terburu-buru menikahi Joko Kendil. Putri Bungsu pun berlari ke kamarnya sambil menangis. Di sana ia melihat sebuah kendi. Karena kesal, ia membanting kendi itu hingga berkeping-keping.

Ksatria gagah itu masuk ke dalam kamar Putri Bungsu. Ia mencari kendi, tapi kendi itu sudah hancur. Lalu ia melihat Putri Bungsu menangis tersedu-sedu. “Ada apa istriku?” tanyanya. Tentu saja Putri Bungsu kaget. Bukankah suaminya adalah Joko Kendil? Lalu ksatria itu menceritakan dirinya yang sebenarnya. Ia sebenarnya Joko Kendil, suaminya. Ia selama ini harus memakai pakaian dalam bentuk kendi. Tapi ia dapat kembali menjelma menjadi ksatria kalau seorang putri mau menikah dengannya.
***
Cerita rakyat Indonesia barusan memberi kita pelajaran bahwa apa yang kita lihat belum tentu yang benar. Bisa jadi sesuatu buruk untukmu, tapi ia sangat bermanfaat. Begitulah kehidupan. Semoga cerita rakyat diatas dapat diambil hikmahnya untuk kita semua.

Hantu Tanpa Kepala

Perkenalkan, nama ku Thiyan. Saya adalah seorang pelajar di SMA swasta di kota Bandung. Aku akan menceritakan sebuah kisah yang tidak akan pernah bisa aku lupakan dan juga menjadi pembelajaran kepadaku untuk meyakini bahwa ada makhluk selain manusia di dunia ini.
Kejadian ini bermula ketika aku dan teman teman satu bandku pergi ke sebuah studio musik di riung bandung untuk latihan rutin, aku dan temanku bernama subarkah pergi dengan berboncengan. saat itu kami harus melewati sebauh terowongan jembatan Guruminda. Tetapi aku merasa biasa biasa saja ketika melewatinya, hemm mungkin karena masih jam 8 malam dan masih banyak juga kendaraan yang lalulalang.
Singkat cerita kami selesai latihan band di studio tersebut. Ketika kulihat jam, ternyata ini sudah pukul 11 malam. Kami pulang dengan santai dan tak terfikirkan sedikitpun hal hal yang aneh. Kupacu motorku dengan kecepatan sedang, ketika 200 meter mendekati terowongan guruminda hawa tiba tiba berubah menjadi hangat yang asalnya dingin sekali. Bulukudukku sontak berdiri semua, aku mulai memasuki terowongan itu. Terowongan ini sangat gelap, tidak ada penerangan lampu sedikitpun, jalanan hanya diterangi lampu motorku yang redup ini, dan tidak ada satupun kendaraan yang lewat.
Semakin memasuki terowongan semakin panas udaranya, kapalaku seperti ada yang memaksa untuk menengok ke arah kiri, dan astaga terlihat sesosok makluk tanpa kepala yang berdiri tegak di pinggir terowongan, saking kagetnya aku menarik gas terlalu cepat dan akhirnya aku terjatuh.
Awww... sambil kurasakan sakit aku menengok ke arah sosok tadi berdiri dan dia ternyata masih ada, dia menghampiri kami dengan jalanna yang gontai. Aku tidak bisa bergerak, dan tiba tiba aku disadarkan oleh subarkah yang menepuk pundakku dan menanyakan apakah aku baik baik saja, aku hanya menganggukan kepala. Kulihat ke arah tadi sosok itu berdiri, dan ternyata dia sudah menghilang.
Temanku menawarkan diri agar ia saja yang menyetir, lalu aku menanyakan kepadanya ‘ehh lu liat orang tanpa kepala yang berdiri di situ waktu sebelum kita jatuh ga?” “engga, ah lu mah ngehayal aja, mungkin lu terlalu cape kali..!!!” jawabnya sambil tersenyum. Jadi yang melihat sosok itu hanya aku saja....
Di sepanjang perjalanan pulang aku masih memikirkan sosok tadi. Sesampainya di rumah aku berwudhu dan sholat, agar menengakan fikiranku. Setelah sholat aku akhirnya tertidur.
Tiba tiba aku melihat sosok manusia tanpa kepala yang berlumuran darah dari lehernya sedang berdiri di pojok ruangan kamar, dia menulis dengan darahnya ke dinding “tolong temukan kepala saya” ahhhh.... aku terbangun dan ternyata itu hanya mimpi.
Tubuhku di penuhi keringat dingin. karena aku takut bermimpi sosok tadi, jadi aku tidak mau dan takut untuk tidur lagi.
Pagi hari pun tiba, ku baca koran harian dan betapa kagetnya ternyata kemarin sekitar pukul 4 sore ada seseorang yang ter tabrak kereta hingga kepalanya putus di jalan guruminda. “Jadi hantu yang kemarin aku lihat apakah arwah dari orang ini??? “
Setelah selama seminggu aku selalu di datangi makhluk itu, entah itu di kamar, di mimpi dan di tempat lain ketika aku sedang sendirian. Karena tidak tahan lagi aku menceritakannya kepada ayahku yang juga seorang ustad,  lalu ayah mendatangi ke terowongan guruminda tanpa aku. Dan setelah itu, aku tidak diganggu lagi oleh hantu tersebut.

Teror Rumah Baru

Hai semua, salam kenal saya Siska 20 tahun. Saya mau bercerita tentang pengalaman mistis di rumah baru kami. Kejadian ini aku alami 2 tahun lalu saat kami baru menikah. Suamiku mas Damar 9 tahun lebih tua dariku, maklum waktu lulus SMA saya dijodohkan.

Sore itu seperti biasa mas Damar yang bekerja di salah satu bank swasta di daerah ini (Pekalongan) pulang kerja jam 18.00, langsung fitness dan biasanya pulang jam 20.00 atau hampir jam 21.00 lah. Saya hanya sendirian di rumah kami yang baru dibeli.

Sebagai gambaran, rumah kami berada di daerah perumahan yang saat itu masih sangat sepi, dengan luas yang tidak terlalu besar 7x14 meter, dengan 3 kamar tidur. Tentu saja hanya 1 yang ditempati, 2 kamar lagi untuk gudang pakaian serta perabotan, dan saat itu rumah tersebut baru kami tempati selama 3 bulan (sesuai dengan usia pernikahan kami waktu itu).

3 bulan pertama kami lalui tidak ada sesuatu yang terjadi. Tapi sore itu suamiku pulang selepas isya. Awalnya aku tidak menaruh curiga, tapi anehnya dia pulang tidak mengucap salam dan sangat dingin, bahkan tidak menciumku seperti biasanya. Aku pikir mungkin lagi ada masalah. Tapi yang tambah mencurigakan, pakaiannya tidak basah oleh keringat seperti biasanya.

Aku pun bertanya "Pa, hari ini gak nge-gym? kok pulangnya lebih awal" tanyaku. Namun dia tidak menjawab, tapi dia melepas bajunya dan menuju ke toilet yang saat itu masih banyak piring kotor dilantainya (maklum keran tempat cuci piring lagi rusak). Trus tiba-tiba dia melempar piring2 itu sambil berkata "Dasar bodoh mengapa menaruh ini disini" dengan wajah yang marah dan matanya pun merah. Padahal mas Damar gak pernah berkata kasar terhadapku, dan aku pun langsung menangis menyaksikan kelakuan anehnya.

Dia memaki-makiku tiada henti, aku yang dalam keadaan menangis dan menunduk tiba-tiba mendapat telpon dari nomor mas Damar "Asalamu`alaikum, ma gak usah masak ya? papa lagi perjalanan pulang bawain nasi goreng di depan fitness centre". Seketika aku kaget dan melihat sosok didepanku yang berubah menjadi gumpalan asap putih lalu menghilang diiringi suara tawa laki-laki bajingan di sinetron2...

Tak lama kemudian suamiku pulang dalam keadaan seperti biasa yang penuh keringat karena nge-gym, dan aku pun berlari kearahnya serta menangis sejadinya dalam pelukannya. Aku pun menceritakan semua padanya lalu dia pun menghiburku. Cerita tak berhenti disini, pada malam itu ketika kita selesai menjalankan misi (bikin adek :D) kita pun mulai terlelap. Namun apa yang terjadi? dengan tiba-tiba pintu kamar terbuka. Kulihat sesosok pocong menggantung di depan pintu dengan wujud yang sangat hancur, muka biru rata tidak ada mata, hidung dan mulut bergerak layaknya ayunan.

Aku yang melihat hal itu langsung berteriak membangunkan suamiku tapi tidak bisa bagaikan sudah tersihir untuk tidur. Aku yang waktu itu panik tak sempat membaca doa namun hanya bisa memeluk tubuh mas Damar yang sedang tertidur seerat-eratnya. Tiba-tiba keluar sesosok makhluk mengerikan dari lemari pakaian di kamar kami, sosok wanita berambut panjang dengan muka yang mirip kambing serta baju berlumuran darah dan bau yang sangat amis. Dan akupun jatuh pingsan...

Paginya kami pun memanggil ustad terdekat untuk mengatasi makhluk2 itu, dan beliau mengatakan bahwa 2 makhluk itu hanya numpang lewat saja sambil mencari tempat tinggal yang akhirnya mereka temukan di sebuah rumah contoh pemasaran yang sengaja dikosongkan. Sampai sekarang sudah tidak ada gangguan lagi dan rumah menjadi sedikit ramai dengan hadirnya putri kecil kami yang usianya 14 bulan atau setahun lebih 2 bulan.



Sumber: http://kisahmisteri666.blogspot.com

Didatangi Orang Yang Sudah Meninggal

Namaku Amru, aku mau berbagi cerita yg bikin aku merinding dan mungkin juga bisa di ambil hikmahnya bagi pembaca primbon yg budiman. Kurang lebih 2 tahun yang lalu seorang "ibu" tetangga di sebelah rumahku meninggal dunia karena sakit yg sudah lama dideritanya, sebut saja nama beliau Ibu Sitti. Beliau mempunyai 4 orang anak, 3 orang anak beliau sudah menikah sedangkan anak paling bungsu belum menikah dan masih kuliah, sebut saja namanya Anto. Dia merupakan kawan bermainku sejak kecil tetapi semenjak SMU kami sudah jarang ngumpul karena sekolah kami yg berbeda... singkat cerita, akhir2 ini aku sering bergadang hingga larut malam untuk menyiapkan skripsi kuliah, pada suatu malam sejak solat Isya tadi angin bertiup kencang dan sekitar jam 2 pagi suara petir dibarengi kilat berdentum keras mengejutkanku di depan komputer dan seketika itu juga lampu padam... sunyiii sekali dan untuk beberapa saat aku terdiam, hanya suara gesekan daun2 yg tertiup angin ribut terdengar. Perlahan2 aku bergerak menuju jendela kamar dan menyingkap tirai melihat rumah para ketetangga yg ternyata listriknya juga padam, beberapa menit kuperhatikan di sekeliling pekarangan rumah yg gelap gulita dan ketika aku ingin menutup tirai jendela tanpa sengaja mataku melihat semacam sosok bayangan orang yg berdiri dibawah pohon mangga pembatas tanah kami dg rumah Anto, dan jarak dari jendela kamarku ke pohon itu sekitar 10 meter, setelah cukup lama kuperhatikan lebih seksama dan yakin benar bahwa itu memang sosok orang yg lagi berdiri menghadap ke arahku, tanpa ada firasat apa2 kubuka jendela untuk menegur orang itu... tetapi belum aku berkata sesuatu orang itu perlahan2 sudah menuju ke arahku, setelah agak dekat tiba2 seluruh bulu ditubuhku berdiri tegang. "Pocong" hanya itu kalimat pantas untuk menggambarkan sosok tersebut yg berbalut kain putih dari kaki sampai menutup diatas kepalanya, saat itu aku jangankan berteriak apalagi bergerak untuk bernafaspun terasa susah. Lamaaa rasanya aku terpaku seperti patung berhadapan dg pocong yg berwajah tak sepucat wajahku. Tiba2 di dalam hatiku teringat ceramah seorang ustad di TV disaat seperti itu ucapkan "HASBIYALLAH (cukuplah Allah pelindungku)" tanpa terasa kalimat itu keluar dari mulutku. Hatiku agak lebih tenang dan mulai bisa mengontrol diri dg terus beristigfar didalam hati sementara pocong itu terus menatapku dg jarak tak kurang dr 2 meter. Setelah aku agak tenang dan bisa sedikit bergerak kuperhatikan wajah pocong itu yg samar2 terlihat dikegelapan seakan2 aku merasa kenal dg wajahnya seperti wajah almarhum Ibu Sitti tetanggaku... tiba2 hantu/arwah itu berkata parau pelan dan kelihatan agak sedih... Amru.. aku Ibu Sitti.. sampaikan pesanku untuk Anto.. rajin2 solat dan jangan lupa mendo'akan aku.. Mimpikah aku??? atau ini memang nyata? kukedipkan mataku berberapakali untuk meyakinkan apakah ini hanya mimpi... tiba2 hantu/arawah tadi tak ada lagi didepanku, cepat2 kututup jendela dan tiduran didalam selimut. Aku gak bisa menggambarkan bagaimana perasanku saat itu, kejadian yg seumur hidup belum pernahku alami. Sebelum adzan subuh listrik hidup dan sampai pagi harinya aku gak bisa tidur teringat kejadian aneh tadi malam dan aku yakin kejadian itu bukan halusinasi atau mimpi tetapi benar2 "nyata". Siang harinya setelah berpikir panjang kuputuskan untuk menyampaikan pesan kejadian itu kepada Anto, ternyata Anto gak marah dan malah berterimakasih kepadaku. Beberapa minggu setelah peristiwa itu aku bermimpi bertemu dg almarhum Ibu Sitti dan dia kelihatan bahagia dan tersenyum kepadaku. Kalau Anto dan keluarga membaca cerita ini "saya mohon Ma'af yg sebesar2nya, saya bercerita hanya bertujuan untuk berbagi pengalaman dg sahabat2 pembaca primbon yg budiman semoga bisa mengambil hikmah dan mendo'akan keluarganya yg sudah meninggal.
Wassalam...

Genderuwo Yang Menyamar Jadi Suamiku

Nama ku Pristia, ini cerita nyata yang ku alami sendiri.

Cerita ini berawal saat aku baru saja menikah dan menempati rumah di asrama Armed XV Martapura Sumatera Selatan. Suamiku seorang tentara dan sering kali piket malam dan meninggalkan aku sendirian di rumah. Biasanya saat suamiku piket aku selalu ditemani Desi anak tetangga sebelah. Tapi karena besok Desi mau ulangan, ibunya tidak mengizinkan Desi untuk menemaniku.

Sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa dirumahku meskipun tetangga kanan kiri kerap memperingatkan ku tentang sosok Gendoruwo yang sering mengganggu pasangan pengantin baru di area asrama, sehingga aku tidak terlalu cemas bila tidur sendirian malam itu.

Dan malam itu antara sadar dan tidak sadar aku terbangun karena mendengar suara sepatu PDL (sepatu tentara yang tebal dan berat) lengkap dengan suara langkah kaki khas suamiku di luar jendela. Awalnya aku sempat curiga kalau itu bukan suami ku. Aku langsung melihat jam dinding di kamarku. Di mataku kala itu sudah jam 05.10, dan seperti janji suami ku kemarin dia akan membawakan ku bunga teratai dari kolam depan piketan untuk acara organisasi istri prajurit subuh ini.

Aku bergegas membukakan pintu depan rumah kami. Tapi aku tidak menemukan suamiku meskipun sudah aku panggil berkali-kali. Karena suamiku suka mencandaiku, maka aku pikir dia sedang mempermainkanku. Jadi aku tetap tidak sadar. Ku bukakan pintu samping rumah kami (rumah kami bentuk L) tapi tetap saja tidak ada.

Aku masih berpikir positif. Aku langsung kebelakang dan bergegas menampi beras. Inilah awal kecurigaanku. Biasanya bu Ansori tetangga sebelah rumah ku jam segitu sudah pada ribut dengan suara tangisan anak-anaknya yang susah dibangunkan untuk pergi sekolah.

Dengan perasaan curiga, aku masuk lagi ke dalam rumah karena suami ku tidak kunjung masuk. Sambil mencari suamiku, aku kembali melihat jam. Dan betapa kagetnya aku setelah benar-benar berusaha melihat dengan benar, ternyata saat itu bukanlah jam 05.10, tapi jam 02.30. Dengan perasaan takut aku langsung masuk meletakkan begitu saja beras dalam tampah yang sedang aku tampi tadi dan langsung menutup pintu rumahku dengan tergesa-gesa dan buru-buru masuk kedalam kamar lagi.

Paginya jam 05.45 suamiku benar2 baru pulang. Dan ketika aku ceritakan pada suamiku. Suamiku mengaku tidak pulang semalam dan ibu-ibu di asrama ini ternyata juga memang sering diganggu oleh genderuwo yang bisa menyerupai manusia itu.

Besoknya setelah kami adakan yanisan kecil-kecilan di rumah, genderuwo itu tidak lagi datang mengganggu.

Cerita Keranda Mayat Berjalan Sendiri di Koridor Rumah Sakit

Cerita Keranda Mayat Berjalan Sendiri di Koridor Rumah Sakt  ini diangkat dari pengalaman sebuah pengalaman yang dialami Suseno, tujuh belas tahun yang lalu. Waktu itu, Suseno sedang menjaga kawannya yang sedang drawat di sebuah Rumah Sakit Umum di Malang. Saat tengah malam, karena kelelahan dan tidak bisa tidur, Ia duduk di pinggir koridor rumah sakit sambil menyelonjorkan kaki. Saat itulah ia melihat ada keranda mayat yang berjalan sediri di koridor itu.  Berikut adalah cerita Keranda Mayat BerjalanSendiri di Koridor Rumah Sakit itu.
Waktu itu, aku sedang menjaga kawanku yang dirawat di rumah sakit karena sakit  sakit tipes.  Pas tengah malam aku tidak bisa tidur, aku keluar kamar dan ke koridor utama Rumah Sakit Umum itu untuk menghirup udara segar. Karena tengah malam, suasana koridor sangat sepi, hanya beberapa orang yang terlihat duduk-duduk di samping koridor.  Lalu aku juga duduk di samping koridor utama itu.
Sambil duduk aku membaca buku cerita ko ping ho yang sengaja aku bawa untuk menemaniku dikala aku sendiri.  Sesekali aku menoleh kiri kanan untuk sekedar melihat suasana, lalu meneruskan membaca cerita.  Karena di koridor utama,  sesekali aku melihat para perawat maupun dokter melintasi di depanku.
Satu jilid buku cerita kopingho telah kubaca habis. Beberapa saat kemudian, rasa kantuk mulai menghingapiku. Kulihat  jam tangan butut merk SEIKO kesayanganku menunjukkan waktu sudah pukul 02.15 dinihari.  Mataku sudah perih, sudah tak uat melanjutkan untuk membaca sambungan cerita ko ping ho pada jilid berikutnya.  Berkali-kali sudah aku menguap.  Ingin rasanya aku merebahkan badan ini, tapi tak mungkin aku lakukan di koridor itu.
Karena kelelahan duduk menekuk kaki, tak sengaja aku menyelonjorkan kaki.  Aku tak menyadari kalau kakiku akan menghalangi atau paling tidak mengganggu orang yang melintasi. Tiba-tiba aku melihat ada keranda mayat berjalan ke arahku. Aku  tak memperdulikannya karena hal itu biasa terjadi di rumah sakit.  Keranda mayat itupun melintasi di depanku. Aku cuek saja.
Setelah beberapa saat baru aku menyadari ada sesuatu yang aneh. “Mestinya kakiku yang terselonjor akan menghalangi jalannya keranda itu, dan orang yang mendorong keranda pasti menegurku”, kataku dalam hati.  “Tapi kenapa keranda itu berjalan tanpa terganggu atau terhalangi kakiku ?”, tanyaku pada dirku sendiri. Ya. Aku ingat, keranda mayat itu melintasi didepanku dan melindas kakiku tapi aku tidak merasakan terlindas apa-apa, dan keranda mayat itu berjalan sendiri tanpa ada orang yang mendorongnya. Mulai muncul rasa takutku, aku sedkit merinding sampai berdiri bulu kudukku.
Lalu aku bediri dan berjalan mendekati dua orang yang juga duduk di pinggir koridor yang tak jauh diriku, lalu aku bertanya kepada mereka “maaf pak, barusan melihat ada keranda mayat yang lewat di sini kan?”. “Gak ada mas, dari tadi yang lewat di sini cuma ada beberapa perawat saja, saya lihat dari tadi mas asyik baca buku sendirian di situ, kok tiba-tiba tanya keranda mayat. memangnya ada apa mas?” Orang yang terlihat lebih tua menjawab sambil bertanya kepadaku.
Sejenak aku bingung, “kok mereka tidak melihat ada keranda mayat yang barusan lewat, aneh” kataku dalam hati.  Aku dikagetkan dengan pertanyaan orang yang lebih muda “ada apa mas, kok kelihatannya seperti orang kebingungan?”. Akupun segera menjawab “nggak, nggak apa-apa, bener  bapak tidak melihat keranda mayat tadi?”, tanyaku kembali kepada mereka. “bener mas, saya tdak melihat, memangnya kenapa?”, tanya orang yang lebih tua.
“tadi saya melihat ada keranda mayat lewat di depan saya, kan kaki saya selonjor ke depan, mestinya kan kaki saya menghalangi rodanya, tapi keranda itu melintasi seperti tanpa terhalang apa-apa, dan kaki saya juga tidak merasa terlindas roda keranda itu.  Dan lagi, keranda itu berjalan sendiri, tdak ada orang yang mendorong pak”, kataku menjelaskan.
“waduh, pasti hantu itu”, kata orang yang lebih muda sambil merapat ke orang yang lebih tua. “ya sudahlah, gak usah dipikir mas, namanya juga di rumah sakit. Ada hantu di rumah sakit sudah jadi rahasia umum mas, sudah biasa”, kata orang yang lebih tua. “ah, biasa bagaimana, aku nanti pagi pulang, gak mau nginep di rumah sakit lagi, takut”, kata orang yang lebih muda. “kamu ini kenapa takut, mas ini yang melihat saja tidak takut, kenapa kamu yang tidak melihat malah takut?, ya nggak mas?”, kata orang yang lebih tua. “ya sebenarnya agak merinding juga sih, tapi mau bagaimana lagi?, namanya juga harus menjaga kawan”, jawabku.

Sumber: http://cerita-mistik.blogspot.com

Cerita Bertemu Hantu Baik hati Penunggu Rumah Kontrakan



Cerita Bertemu Hantu Baik hati Penunggu Rumah Kontrakan ini diangkat dari peristiwa yang kami alami. Tiga tahun yang lalu, kami sekeluarga terpaksa harus pindah rumah kontrakan.  Waktu itu kami bingung harus pindah kemana. Setelah mencari-cari informasi rumah kontrakan yang kosong di sekitar tempat tinggalku, akhirnya aku menemukan satu rumah petak yang ada di sudut pertigaan jalan.  Di rumah itulah Cerita Bertemu Hantu Baik hati Penunggu Rumah Kontrakan ini terjadi. Tempatnya cukup strategis untuk usaha, di pinggir jalan, walaupun jalan kecil tetapi cukup ramai. 

Setelah melihat situasi yang cukup ramai ini, akupun berpikir untuk buka usaha berjualan pulsa agar bisa membantu pendapatan keluarga, kebetulan ada etalase nganggur, pas buat usaha jual pulsa. Tanpa banyak pikir, kami langsung membayar uang kontrak kepada pemilik rumah agar kami segera bisa pindah ke rumah kontrakan yang baru itu.

Sebelum kami sekeluarga menempati rumah kontrakan yang baru itu, suamiku terlebih dahulu membersihkan rumah itu dan melakukan sedikit ritual dengan membaca do’a-do’a untuk memohon kepada Tuhan agar kami mendapat berkah dari-Nya. Setelah itu baru kami sekeluarga pindah dan menempat rumah kontrakan itu. 

Setelah semua barang-barang sudah kami pindahkan ke rumah kami yang baru, kami langsung menata semua perabot rumah, tidak terlalu lama karena barang-barang kami memang tidak banyak. Akupun langsung meletakkan etalase  di teras rumah untuk tempatku usaha berjualan pulsa. Meskipun cukup melelahkan, tapi kami senang dan merasa nyaman di rumah kontrakan kami yang baru itu. Saat itu juga, aku tetepon kakakku untuk dibantu modal buat usaha berjualan pulsa, dan uang modal pun langsung ditransfer ke rekeningku.  Aku langsung belanja pulsa ke agen pulsa.  Aku juga minta banner ke agen pulsa untuk dipasang di teras rumah tempat aku usaha jual pulsa.

Selesai belanja pulsa dan segala perlengkapannya akupun pulang dan sampai di rumah pas menjelang maghrib. Aku langsung pasang banner dan menata semua perlengkapan usaha jualan pulsa di etalase.  Semua berjalan lancar dan cepat.  Semua selesai pas adzan maghrib dikumandangkan di mushalla dekat rumah kontrakan.  Lalu kami sekeluarga bersama-sama pergi ke mushalla untuk  menunaikan shalat maghrib berjama’ah di mushalla.

Malampun tiba, usai shalat isya’ dan makan malam, kami segera tidur karena cukup kelelahan seharian mengatur dan menata rumah kontrakan kami yang baru serta belanja pulsa dan  segala perlengkapan usaha berjualan pulsa.  Kamipun segera terlelap.

Seperti biasa, pas jam 12 malam aku terbangun, aku menuju kamar mandi yang ada di sebelah dapur untuk mengambil air wudlu’ untuk melakukan shalat malam. Saat membuka kelambu pintu dapur, aku terkejut, ada sosok wanita berkerudung hitam berdiri di dapur melihatku. “Astaghfrullahal ‘Adzim”, ucapku spontan.  “jangan takut, aku memang sengaja menemuimu. Namaku Laras, aku juga tinggal di rumah ini, tapi aku tidak akan mengganggumu dan semua keluargamu.  Aku suka kalian tinggal d rumah ini, kalian rajin shalat dan mengaji, au juga akan membantu usahamu. Insya Allah lancar dan beruntung. Assalamu’alaikum”, kata wanita itu dan langsung menghilang. “wa’alaikumussalam”, jawabku.  Dengan dada mash berdebar karena rasa kaget bercampur takut, aku menuju kamar mandi dan mengambil air wudlu’, lalu aku melakukan shalat malam dan berdo’a sebisaku.  Usai shalat malam dan berdo’a, au kembali tidur.

Kami terbangun saat gema tarhim dikumandangkan di mushalla, pertanda sebentar lagi waktu shubuh tiba. Kami segera bergiliran mandi dan bersiap-siap menunaikan shalat shubuh berjama’ah di mushalla.  Usai berjama’ah,  aku mempersiapkan sarapan pagi. Aku beli nasi uduk di warung pok Lela, seberang rumah kontrakan.  Kamipun sarapan pagi berjama’ah. Usai sarapan, suamiku berangkat kerja dan aku mengantar  dua anakku ke sekolah.

Pulang mengantar anak ke sekolah, aku langsung cuci kaki dan ambil air wudlu’ lalu dengan membaca Basmalah aku mulai buka usaha jualan pulsa.  Aku buka kain penutup etalase, dan aku pasang tulisan “Jual Pulsa”, di atas etalase.  Hari memang masih pagi, jalanan cukup ramai. Aku duduk dan membaca buku  sambil menunggu pelanggan datang. Alhamdulllah, hari pertama aku membuka usaha Jualan Pulsa sudah mendapatkan banyak pelanggan.

Detik demi detik, dan hari demi hari kami lalui dengan usaha, do’a dan rasa syukur. Alhamdulillah, usaha sampai hari ini, jualan pulsa yang aku jalankan dengan penuh ketekunan, meskipun harus disela dengan mengurus keluarga, berjalan dengan baik dan mendapatkan keuntungan. Dan yang sangat membuatku bahagia, dari usahaku ini, selain bisa menambah pendapatan keluarga, kami juga bisa menyisihkan hasil usaha kami untuk membantu tetangga-tetangga kami yang sedang membutuhkan uluran tangan.

Tak lupa pula, setiap usai shalat, selain aku berdo’a untuk kedua orang tua, aku juga berdo’a untuk Laras, makhluk halus penunggu rumah kontrakanku.  Setidaknya, selain aku bersyukur kepada Tuhan, aku berterima kasih kepada Laras,  makhluk halus penungg rumah kontrakanku, atas dukungan moril yang diberkan saat aku berjumpa dengannya di malam itu.
 

Cerita Hantu Wanita Memesan Bakso



Hantu Wanita Bergaun Putih
Cerita Hantu Wanita Memesan Bakso ini diangkat dari kisah nyata kejadian yang dialami Supeno, salah seorang pedagang bakso keliling di Jakarta Timur.  Cerita Hantu memang cukup mengasyikkan, terlepas dari percaya atau tidak, cerita hantu memang ada di masyarakat. Peristiwa ini terjadi lima tahun yang lalu, pas Malam Jum’at Kliwon saat Supeno sedang berkeliling di sebuah perkampungan menjajakan bakso.  Berikut ini adalah Cerita Hantu Wanita Memesan Bakso

Malam itu, lima tahun yang lalu, tidak seperti biasanya jalanan di perkampungan tempat saya biasa menjajakan bakso terasa sepi. Sampai jam 9 malam baru 10 mangkok bakso yang saya jual.  “sepi banget ya malam ini”, kata saya dalam hati sambil berjalan mendorong gerobak bakso dan memukul-mukul kentongan untuk memberi tanda bahwa tukang bakso sedang jualan bakso.

Tepat di sebuah pertigaan jalan saya sempat bimbang, mau belok ke kiri apa ke kanan. Dua-duanya terlihat sepi.  Akhirnya saya putuskan ambil jalan kanan. Baru melewati dua rumah, ada seorang wanita bergaun putih keluar dari pagar rumah memanggil saya “bang, baksonya satu ya”. “ya bu”, jawab saya dan saya lihat wanita itu kembali masuk pagar. Sayapun langsung menyiapkan satu porsi bakso yang dipesan.
Setelah usai saya menyiapkan satu mangkok bakso pesanan wanita itu, sayapun mengantarnya ke rumah tempat wanita itu. Sampai di depan pagar saya sempat heran “kok pintu pagarnya ditutup ya, diselot lagi, padahal ibu tadi perasaan tidak membuka dan tidak menutup pagar”, kata saya dalam hati. Saya menepis keheranan saya itu, saya buka bagar. Walaupun diselot tapi tidak dikunci. Saya langung masuk menuju pintu.  Pintunya tertutup.

Sesampai di depan pintu, perlahan saya ketok “tok tok tok, permisi, ini baksonya bu”, kata saya kepada wanita tadi yang saya yakini adalah penghuni rumah ini. Tidak ada jawaban dari dalam rumah, saya ketok lagi “tok tok tok, permisi, ini baksonya bu”, kata saya lagi agak keras.  Akhirnya terdengar langkah kaki dari dalam rumah dan pintupun dibuka. Yang membuka adalah seorang wanita muda dan bertanya “ada apa mas?”. “ini mbak, tadi ada ibu-ibu di rumah ini pesan bakso sama saya” jawab saya kepada wanita muda itu. “Ibu-ibu?, di rumah ini tidak ada ibu-ibu mas, saya di sini cuma tinggal bertiga dengan  suami dan anak saya mas”, kata wanita muda itu. “ya tadi sih masuk ke sini mbak”, kata saya.

Tiba-tiba seorang lelaki muda yang tentunya suami wanita muda ini keluar dari dalam rumah dan bertanya “ada apa sih malam-malam kok ribut”. “ini abang tukang bakso ini mengantarkan bakso, katanya ada ibu-ibu di rumah ini pesan bakso.  Padahal kan di rumah ini cuma kita bertiga”, jawab wanita muda itu. “gitu aja kok ribut, ya sudah, sini baksonya, biar saya yang makan, tapi bikinkan satu lagi ya buat istri saya”, kata lelaki muda itu.  Sayapun bergegas menyerahkan semangkok bakso kepadanya dan bergegas menyiapkan semangkok bakso lagi.

Setelah selesai menyiapkan, saya antar bakso ke rumah tersebut. “ini mbak baksonya”, kata saya sambil menyerahkan semangkok bakso kepada wanita itu. “duduk sini dulu mas”, kata lelaki muda itu sambil mempersilakan saya duduk di kursi yang ada di teras rumah itu. “ya mas, makasih”, kata saya. Dia makan di teras, sementara istrinya masuk membawa bakso, tak lama kemudian istrinya menyerahkan mangkok yang sudah kosong kepada saya, mungkin langsung dipindah ke mangkoknya sendiri.

“emang bener tadi ada ibu-ibu pesan bakso, jangan-jangan kamu cuma ngarang aja biar baksomu laku”, kata lelaki itu berkelekar sambil tersenyum kepada saya. “untuk apa saya bohong mas, saya kan tiap hari jualan di sini, memang benar kok tadi ada ibu-ibu yang pesan”, jawab saya.
“ciri-cirinya bagaimana?” tanya lelaki muda itu. “ya ibu-ibu tidak terlalu tua sih, pakai baju panjang warna putih, rambutnya agak panjang”, jawab saya.

“lalu dari mana asalnya dan kemana?”, tanya lelaki muda itu lagi. “tadi keluar dari rumah ini dan masuk lagi ke rumah ini mas, tapi yang saya heran, saya tidak mendengar dia membuka pintu pagar dan menutup pintu pagar, padahal waktu saya masuk, pagarnya ditutup dan diselot, waktu saya buka selotnya, bunyinya cukup keras mas”, jawab saya.
“ya, tidak salah, kata orang-orang di sekitar sini, memang dia kadang-kadang muncul, tapi saya sampai hari ini belum pernah bertemu sama dia”, kata lelaki muda itu.
“maksudnya mas?”, tanya saya lagi. Lelaki muda itu menjawab “kata orang-orang di sekitar sini, dia itu makhluk halus yang tinggal di rumah ini, itu sih kata orang, kami sendiri  yang tinggal di sini belum pernah bertemu”.  Langsung merinding bulukuduk saya mendengar penjelasan lelaki muda itu, ada rasa takut menjalar di tubuh saya. Dan rupanya ketakutan saya terlihat oleh lelaki muda itu. “ya gak usah takut mas, biasa saja. Ini uangnya”, kata lelaki itu sambil menyodorkan uang sepuluhribu rupiah kepada saya. “baik mas, makasih ya mas”, kata saya sambil bergegas meninggalkan rumah itu.

Setelah selesai sata letakkan mangkok di dalam gerobak, dengan penuh rasa ketakutan, sayapun langsung mendorong gerobak menjauhi rumah itu. Sekian.   

Demikianlah Cerita Misteri tersebut. Semoga dapat menghibur anda.

Sabtu, 28 September 2013

Pohon Kedondong yang Angker

kedondong1  “Di, aku berani memanjat  pohon kedondong Pak Karim.” Tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulut Iwan. Anak laki-laki kelas lima SD itu menepuk bahu Adi yang duduk di sebelahnya.
       Adi menatap sejenak wajah temannya. Seolah ingin memastikan kesungguhan ucapan Iwan. “Kau tidak main-main, kan?” tanyanya masih dengan keheranan.
       “Tentu saja tidak!” Setengah mencibir Iwan berkata pongah. “Kapan aku pernah main-main?”
       “Tapi, kau kan tahu apa resikonya?”
       “Aaah, kecil!” Iwan meremehkan ucapan temannya sembari menjentikkan jari telunjuknya. “Apa kau percaya pada ocehan si Rio yang penakut itu?”
       “Tapi, Wan, Rio mendengarnya sendiri dari Pak Karim.”
       “Iya, tapi itu kan cuma gertak Pak Karim saja. Supaya kedondongnya tidak kita curi!” sanggah Iwan yakin.
       Adi menggerakkan bahunya ke atas, “Terserah kau. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti terjadi apa-apa atas dirimu. Aku sudah mengingatkan.”
       “Jadi, kau tidak mau ikut denganku?” tanya Iwan agak terkejut. Hatinya ngeri juga kalau sampai Adi tidak mau menemaninya.
       Adi menggeleng pasti. “Tidak, ah! Untuk apa?”
       Mata Iwan melotot. “Untuk apa, katamu? Ya sudah jelas untuk mengambil buah-buah kedondong itu. Kau pikir memanjat pohon kedondong untuk mengambil buah mangga?” sentak Iwan agak kesal.
Ilustrasi : Clipart
       Adi meringis. “Lho, kenapa jadi sewot?” ujarnya kalem. “Memang kalau aku tidak ikut, kau tidak jadi pergi? Takut, ya?”
       “Apa katamu?” Karuan saja Iwan tidak mau menerima ucapan temannya. Meski sebenarnya ia juga takut, mana mau ia mengakuinya terang-terangan di depan Adi. Malu, dong!
       “Kau dengar, Di. Tidak ada kata takut dalam kamus di otakku!” ujar Iwan meyakinkan. “Kalau kau tak mau ikut, ya sudah! Kau memang sama penakutnya dengan Rio!”
       Adi tak menyahut. Ia malas berdebat dengan Iwan yang dianggapnya keras kepala itu. Biar saja ia mengatai aku penakut, yang penting aku tidak mau mencari bahaya. Pikir Adi dalam hati.
       “Di, benar kau tidak mau ikut denganku?” Iwan masih juga penasaran.
       Adi mengangguk. “Menurut Pak Karim, pohon kedondong itu angker. Banyak penunggunya!”
       “Hantu, maksudmu?”
       “Mungkin,” sahut Adi tak pasti.
       “Ah, itu kan kuno! Sudah kubilang, itu semua cuma gertak Pak Karim saja, supaya buah kedondongnya aman dari tangan-tangan kita… hahahaha…” Iwan tertawa keras, menutupi kekhawatiran yang mendadak timbul lagi dalam hatinya.
       Adi menunduk sambil tangannya mempermainkan ujung rerumputan di dekat ia duduk. “Mungkin juga kau benar.”
       “Tentu saja!” potong Iwan cepat. “Kau tahu, hari Minggu besok, Pak Karim tidak ada di rumah. Rumahnya bakal kosong, paling-paling cuma dijaga si Brino – anjing kesayangan Pak Karim itu. Kita bisa bebas mengambil kedondongnya, Di!” ujar Iwan bersemangat. “Kau ikut, ya?”
       “Tidak.” Lagi-lagi Adi menggeleng. “Itu kan mencuri,” sambung Adi hati-hati, khawatir menyinggung perasaan temannya.
       “Itu kalau ketahuan. Kalau tidak, ya tidak apa-apa,” kilah Iwan seenaknya. Padahal dalam hatinya ia membenarkan ucapan Adi. Ia tahu benar bahwa mencuri adalah perbuatan yang tercela. Tapi Iwan berlagak tak peduli.
       Pohon kedondong milik Pak Karim memang tinggi dan besar. Buahnya lebat dan sangat memikat. Tak heran kalau banyak anak-anak yang tertarik untuk mengambilnya.
       Iwan sudah berdiri tepat di bawah pohon besar itu. Kepalanya mendongak dan pandangannya melahap dengan rakus buah-buah hijau yang bulat lonjong itu. Suasana di sekelilingnya benar-benar sepi. Ia merasa beruntung karena si Brino tengah mendengkur di dekat pintu.
       Dengan hati-hati Iwan memanjat pohon besar yang bercabang banyak dan berdaun lebat itu. Sejenak ada keraguan dalam hatinya. Takut kalau-kalau cerita Pak Karim soal keangkeran pohon ini, benar-benar kenyataan. Tapi bulatan hijau yang besar-besar itu makin menggiurkan dan memaksanya untuk menghilangkan rasa ragunya.
       Sesaat kemudian Iwan sudah asyik memetik buah-buah kedondong itu dan memasukkannya ke dalam kantung plastik, yang sengaja ia bawa dari rumah. Tangannya sibuk menjulur ke sana kemari sementara kepalanya menyeruak di antara rimbunnya dedaunan. Ia sudah tidak ingat lagi bahwa buah-buah itu sebenarnya bukanlah milik dia! Ia begitu gembira. Dalam hatinya ia menertawakan Adi yang tidak mau ikut dengannya.
       Tapi mendadak ia tersentak kaget ketika merasakan tengkuknya gatal dan panas. Belum sepenuhnya ia menyadari apa yang terjadi, pahanya kembali merasakan sengatan itu. Lalu giliran tangannya, punggungnya, kakinya, pipinya…
       Iwan jadi sibuk menggaruk sana-sini. Seluruh tubuhnya terasa panas dan gatal. Karena tak tahan lagi,
akhirnya ia melorot turun. Tapi malang, lengan bajunya tersangkut dahan yang mencuat ke atas. Tak ayal lagi, Iwan terjatuh! Ia meringis kesakitan dan mencoba untuk berdiri.
       Iwan nyaris menjerit ketika melihat ulat-ulat besar yang menjijikan berjatuhan dari pakaiannya! Buru-buru ia bangkit dan menepiskan ulat-ulat kedondong yang memang terkenal galak.
       Segera ia meninggalkan kebun Pak Karim dengan langkah terpincang-pincang dan badan yang penuh bentol. Gatalnya, bukan main! Sekarang ia tahu, bukan hantu yang menunggu pohon kedondong itu. Tapi, ulat-ulat besar yang bisa menyebar bentol itulah yang membuat Pak Karim selalu melarang anak-anak memanjat pohon kedondongnya.
       Iwan sudah tak ingin lagi menikmati buah-buah kedondong yang barusan dipetiknya. Yang ia rasakan sekarang cuma gatal di seluruh tubuhnya dan rasa ngilu di kakinya, akibat terjatuh tadi.
       Andai saja ia tak menuruti rasa sombongnya, tentu ia tak perlu menderita begini. Iwan benar-benar jera dengan ulah lancangnya!

oleh Panca Triwati
sumber: http://www.kidnesia.com