Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 September 2013

Keikhlasan Cinta


Cuaca yang terik ini bukan suatu alasan untukku merasakan panas yang serasa membara sampai ke lerung jiwa. Tapi keadaan ini yang membuatku terasa semakin (ingin) menyesal. Tak mau rasanya aku seperti ini. Benar-benar tidak ingun.
Ketika keinginan, cita, hasrat dan cintaku sepertinya tidak bisa aku miliki sepnuhnya seperti apa yang ada terancang dalam hati dan fikiranku.
Ingin rasanya aku menentang takdir Tuhan yang telah mengirimku ke dunia ini tanpa apa-apa. Yah tanpa apa-apa..
Tanpa kemampuan, lemah tak berdaya, hanya bisa sabar. sabar dan selalu saja sabar. Haruskah aku juga mengatakan Kesabaran itu ada batasnya?
Tapi hal itu tidak berlaku padaku, kesabaranku tiada batasnya atau aku ini memang tidak bisa apa-apa?
Bahkan setelah (semua) apa yang aku lakukan masih belum bisa mencukupi itu semua..
“Wahai… yang disana (Tuhan)..
Yang sedang melihatku penuh senyuman…
aku tidak akan meminta pada-Mu agar dia jadi milikku,
aku merasa tidak adil berbuat itu, sementara diluar sana (begitu) banyak yang (juga) menginginkannya..
Ingin mempersuntingnya..
Memilikinya seutuh-utuhnya..
Hanya satu hal harapanku untuknya, yang ingin selalu aku pintakan pada-Mu
yang (juga) harus Kau kabulkan
yakinkanlah hatinya dengan ketentuan-Mu, agar dia bisa menjalankan citanya tanpa rasa berat dihatinya
dan ini satu hal untukku yang benar-benar harus Kau dengar bagai sebuah doa..
aku tidak ingin menangisi kepergiannya, walaupun hatiku (benar telah seperti) hancur bagai debu yang paling halus,
namun ku masih ingin tetap (seperti sangat) kuat dan tegar dihadapannya..
tolong juga ijinkan aku,
dengan waktu yang (mungkin) masih ada tersisa,
untuk tetap bisa memberikan segala yang terbaik yang aku bisa..
untuk tetap bisa mengukir seuntai senyuman yang selama ini membuatku bahagia..
hai Sang Pencipta yang tidak pernah merasa menyesal menciptakan sesuatu..!!
jadikanlah aku.. Jadikanlah aku sebagian dari sifat-Mu itu..
aku juga tidak ingin sesalkan, atas segala apa yang telah aku lakukan selama bersamanya
Hatiku benar-benar sangat lemah, sangat lemah…”
Padahal sebelumnya, aku tidak pernah (ingin) merelakan kepergiannya meninggalkanku. ingin rasanya aku untuk sedikit memaksa,
“Tolong jangan tinggalkan aku dalam keadaan begini,
kumohon bersabarlah, ku ingin kau tetap bersamaku
walaupun penantian itu terasa sangat berat buatmu, lakukanlah untukku..
untuk cinta yang selama ini telah kita jalani..
Kumohon.. Tetaplah bersamaku
Walau apapun yang terjadi, tetaplah disampingku..
dan aku akan selalu berusaha menjagamu..”
Kurasa itu semua tidak mungkin lagi aku lakukan, hatimu sudah terlalu lelah dengan kata “penantian dan menunggu”
sepertinya waktumu sudah cukup banyak terbuang sia-sia, hanya karena Menunggu… Menunggu… Dan Menanti…
sekarang (mungkin) sudah saatnya kau mengakhiri itu semua
penantianmu akan segera berakhir…
Pergilah..
Pergilah..
Pergilah tanpaku… Bawalah semua cinta yang pernah kau selipkan dihatiku
, jangan kau sisakan sedikitpun
, kikis semua rasa sayang dan kasihmu terhadapku
dan jangan kau tumbuhkan rasa dendam dan sakit hati untukku, untukmu.
karena kutak inginkan semua kenangan indah tentang kita hanya (akan) tinggal menyiksa perih dihatiku dan hatimu. Jadikanlah semua itu kenangan masa lalu yang pantas untuk disimpan. Diingat untuk renungan sambil tersenyum dihari tua kita nanti..
kau Kekasihku yang Luar Biasa..
telah kau luluhkan hatiku dengan ketulusan hatimu
tak pernah ku rasakan cinta sedalam cintamu
kau Kekasihku yang Luar Biasa..
mencintai aku seutuhnya
menjadikanku arti di hidupmu
bahagia punya cinta sepertimu
kau lengkapi kelemahanku dengan semua pengorbananmu
di dalam senang dan sedihku kau selalu ada

Jilbab dari Sahabatku


Namaku Syifa Zahfania, kebanyakan teman-temanku memanggil dengan Syifa. Di kelas aku di kenal cewek paling tomboy. Karena cara bertingkahku yang seperti cowok, dan bergaulku yang tak lepas dari cowok. Aku termasuk cewek per*kok mulai dari kelas 3 SMP. Jauh dari orangtua membuatku semakin menjadi anak yang tak berperilaku. Aku hanya hidup dengan kemewahan dari orangtua dan kedua pembantuku. Setiap hari yang aku pergi pagi pulang petang dan berkumpul dengan para gerombolan preman di jalan. Aku sangat menyukai kebebasan dan tak suka di kekang. Masa bodoh semua orang mau berkata apa tentang kehidupanku. Kehidupan mereka belum tentu benar.

Sekarang aku sudah menginjak dewasa dan mulai masuk perguruan tinggi. Di kampus tak ada yang layak untuk aku jadikan teman, semua sok sibuk dengan tugas-tugas kampus. Aku memilih untuk menyendiri di bangku pojok. Kunikmati sebatang r*kok untuk menghilangkan penat di fikiran. Melihat banyak mahasiswa yang berjalan di koridor membuatku semakin suntuk. Ku langkahkan kaki untuk beranjak keluar dari kampus. Setiap sudut ku lihat banyak sekali mahasiswa yang berkeliaran tak karuan.
Bruukkk…
beberapa buku jatuh dari gengaman cewek berjilbab panjang yang menutupi dadanya. Cewek berkerudung pink mudah dengan mengenakan baju panjang tak taulah apa itu namanya. Beberapa detik ku lihat parasnya sangat indah dengan balutan jilbab yang dikenakan.

“Maaf”
Itulah kata yang keluar dari mulutnya. Aku hanya terdiam membisu mendengar ucapannya. Cewek itu tersenyum lalu mengambil bukunya kembali, dan berlalu dariku. Sungguh cantik parasnya. Tiba-tiba ada perasaan iri yang menyelimuti diriku setelah melihatnya. Tapi buru-buru ku buang perasaan iri itu. Aku lebih suka dengan diriku yang seperti ini.
^___^

“Terima kasih untuk semua mahasiswa yang telah menyedekahkan barang-barang kesayangan kalian untuk kami berikan kepada yang lebih membutuhkan”
Dari cara bicaranya, aku seperti mengenali. Aku lihat banyak sekali mahasiswa yang berkerumun pada stan kecil di tepi taman. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Aku beranjak pergi tanpa menoleh sedikitpun ke arah stan itu. Setelah beberapa langkah dari stan itu, seperti ada sesuatu yang menarik kuat langkahku untuk kembali menuju stan tersebut, perasaanku juga mengatakan untuk kembali menuju stan. Tanpa kusadari diriku sudah berada di depan stan. Semua mahasiswa telah pergi hanya ada dua cewek berjilbab yang salah satunya tak asing lagi. Setelah ku ingat wajahnya, bibirku tersenyum. Cewek yang cantik kemarin gumamku dalam hati.

“Assalamu’alaikum, silahkan mengunjungi stan kami jika ada yang ukhti ingin sedekahkan” ucapnya dengan lembut dan penuh senyuman.
“ukhti? Sedekah? Apa itu aku tak pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Dulu ketika SD, SMP sampai SMA aku sering bolos saat pelajaran agama, ujian praktek aja dapat nilai jelek. Aku hanya tersenyum binggung harus ngapain.

Cewek itu tiba-tiba menghampiriku, dari cara berjalannya beda banget dengan cewek lainnya apalagi sama aku jauhhhh. Semakin cewek itu mendekat semakin ada perasaan takut yang menyelimuti diriku entah kenapa rasanya perasaan iri ini menyeruak ke dalam jiwaku.
“Saudariku, bukankah kita pernah bertemu sebelumnya, saya Naura”. Ucapnya seraya mengulurkan tangannya. Aku tak langsung menyambut uluran tanganya. Ku lihat senyum manis yang begitu tulus, juga cara berpakaianya yang sangat tertutup membuat diriku sangat iri, mengapa dia bisa begitu terlihat sempurna.
“Syi..fa” jawabku terbata dengan menyambut uluran tanganya. Begitu lembut tanganya serasa memegang kapas.

“Nama yang cukup bagus Syifa artinya penyembuh atau obat. Wah pasti kamu bangga dengan nama kamu”
Aku kembali tersenyum. Aku saja tak menyadari akan bagusnya namaku, apalagi sampai ada artinya.
“Mari bergabung di stan kami, meskipun Syifa nggak sedekah nggak masalah kok, yang penting Syifa senang bisa bergabung dengan stan kami”

Kini kau benar-benar bagaikan patung, tak mampu berkata dan berbuat apa-apa lagi. hanya iya iya iya dan iya tidak ada kata menolak.
Aku duduk di samping Naura yang sedang asyik merapikan beberapa barang yang berada di meja dan di masukkan ke dalam kardus. Beberapa menit kemudian semua barang sudah di kemas dalam kardus dan dimasukkan ke dalam mobil.

“Syifa ikut kami ke Panti Asuhan yuk, untuk memberikan sumbangan ini” ajak Naura dengan menarik lenganku, untuk terakhir kalinya mulutku tak bisa untuk menolak ajakannya.
Selama perjalanan menuju Panti Asuhan aku hanya terdiam, ku lihat Naura sedang berkomat kamit entah apa yang dia baca. Begitupula dengan teman di sampingnya. Jadi binggung sendiri harus ngapain. Mencoba komat-kamit tapi mau baca apa, serba binggung.

Tak lama kemudian sampailah di sebuah tempat tak begitu luas, tapi terlihat sangat tenang suasananya. Naura mengambil beberapa kardus yang telah di pak dan masuk ke dalam ruang tamu. Akupun ikut membantu membawa barang yang masih tertinggal di mobil dan masuk ke dalam ruang tamu.
Tampak sekali keakraban Naura dengan wanita berpakaian panjang berwarna merah marun yang duduk bersanding dengannya. Senyuman yang selalu menghiasi di setiap kata-katanya. Canda kecil yang terlontar dari mulut Naura dan pelukan akrab Naura kepada ibu yang duduk di sampingnya sangat membuatku terpukau. Aku hanya tersenyum melihatnya.

“Syifa, kita tengok anak-anak yuk, mereka sedang bermain di dalam” ajak Naura dengan mengandeng tanganku. Aku hanya terdiam melihat gengaman tangan Naura. Baru kali ini aku merasakan sebuah sentuhan yang benar-benar lembut.

Tak jauh dari beberapa langkah kami, seorang anak memanggil nama Naura dari belakang.
“Kak Nauuurrraaaa” teriak seorang gadis kecil berkerudung coklat
“Naumi sayang” jawab Naura seraya memeluknya dengan penuh kasih sayang, beberapa kali Naura mengecup kening gadis itu.

“Eh kenalan sama teman kakak, ini namanya kak Syifa” ucap Naura dengan membantu mengulurkan tangan gadis itu ke arahku.
“Syifa”. Jawabku singkat dan tersenyum
“hmmm, kak Syifa kok sepertinya cemberut pasti ada masalah yah” ucap Naumi dengan menarik lengan bajuku.

“Naumi sok tau ah, kak Syifa gak ada masalah kok”. ucapku pelan.
“kalau kak Syifa ada masalah curhat sama Allah saja, Naumi yakin Allah pasti membantu kak Syifa’. Oh iya kak Syifa kok gak pakai jilbab sih, nanti Allah gak mau lho menerima curhat dari kak Syifa”. Ucap Naumi polos

Jantungku seakan berdegup kencang, Allah? Jilbab?, selama ini aku jauh sekali dengannya. Bahkan aku tak mengenalnya. Sungguh aku belum pernah sekali mengingat Allah. Apa ini yang selalu membuatku merasa suntuk, kenapa aku baru menyadarinya. Tak terasa butiran halus telah jatuh ke pipi. Aku berlari keluar menjauh dari Naura dan Naumi. Aku bagaikan orang yang tak pantas berada dalam rangkulan mereka.
Semua bayangan dosaku mulai menghantui fikiranku. Hatiku seakan menjerit sakit ketika mengingat semua kesalahanku. Aku merasa menjadi orang yang paling merugi. Air mataku tak henti-hentinya mengalir deras bagaikan air hujan yang membasahi bumi yang begitu banyak debu yang mengotori bumi ini
“Syifa” ucap Naura di sampingku.

Aku tak ingin menoleh ke arahnya. Bahkan untuk melihat raut suci Naura aku tak sanggup. Aku hanya seorang Syifa, yang banyak melakukan dosa, bahkan dosaku kini menjadi lukisan dalam fikiranku.
“Kamu sakit hati dengan ucapan Naumi, dia kan masih gadis kecil yang polos. Jadi suka bicara ceplas ceplos” hibur Naura dengan membelai bahuku dengan lembut.
“aku nggak merasa sakit hati dengan ucapan Naumi, bahkan aku merasa lega karena Naumi mengingatkanku akan Allah dan jilbab yang sudah sekian tahun aku lupakan”. ucapku dengan tertunduk.
“Alhamdulillah, itu tandanya Allah sayang dengan kamu Syifa. Karena Syifa masih di beri keluwesan hati untuk berubah. Allah sangat mencintai orang yang ingin berubah”
“Tapi dosaku sangat banyak Naura, bahkan akupun sangat malu berdekatan dengan wanita suci dan sempurna seperti kamu”

“Astaghfirullah kamu tidak boleh berkata seperti itu Syifa. Manusia di dunia ini tak ada yang sempurna, hanya satu yaitu Allah yang memiliki kesempurnaan, aku hanya manusia biasa yang tak luput dari sebuah dosa. Kamu harus ingat Syifa seberapa banyak dosa seorang hambanya kepada Allah baik itu setinggi gunung, seluas samudra jika kita ingin berubah dan bertaubat maka akan runtuhkan segala dosa kita”
“Tapi Allah gak mungkin bisa memaafkan kesalahaku Naura”

“Syifa, Allah itu memiliki sifat ghofuur yang artinya maha pemaaf. Jadi jika kamu ingin benar-benar berubah dan bertaubat maka Allah akan mengampuni segala dosa kamu, yakinlah bahwa Allah itu tidak tidur Allah tau apa yang kita niatkan dalam hati. Semasa niat itu baik maka Allah akan menyempurnakannya”.
Aku menatap kedua bola mata Naura yang penuh dengan kelembutan, ku dekap erat tubuhnya. Aku benar-benar bahagia bisa bertemu dengannya.

“Aku ingin berubah, ajari aku sholat dan mengenal Allah” ucapku pelan
“Syukur Alhamdulillah aku sangat senang mendengarnya”.
^____^
Sebulan telah berlalu, sejak berteman dengan Naura aku banyak mengalami perubahan. Yang dulu sering meninggalkan sholat jadi gak mau sampai telat untuk berjama’ah sholat wajib di tambah dengan sholat sunnah, yang dulu selalu membangkang nasihat bunda kini selalu nurut apa yang dikatakan jawabannya iya semua, gak pernah pulang malam, sudah bisa mengaji Al-Qur’an walaupun sedikit terbata-bata. Hanya satu yang belum aku perbaharui yaitu mengenakan jilbab.

Sepertinya Hatiku belum mantap untuk mengenakannya, akan tetapi banyak dorongan dalam diriku yang mendesak untuk mencoba mengenakan jilbab. Sulit sekali untuk memantapkan hatiku.
“Assalamu’alaikum Syifa” sapa Naura mengagetkanku.
“Wa’alaikumsalam Naura” jawabku dengan senyuman.

Eitss lupa, semenjak aku berteman dengan Naura, nggak lepas dari salam setiap ketemu. Terkadang saat aku tiba-tiba menyapa Naura dengan sebutan nama pasti nggak mau noleh, harus pakai salam dulu. Awalnya sering lupa, tapi karena sering di lakukan jadi terbiasa. Kata Naura dengan mengucapkan salam itu sama saja dengan mendo’akan diri kita, bahkan menjawab salam saja sampai diwajibkan?.
“Naura, apakah seorang wanita wajib hukumnya mengenakan jilbab”

“Syifa, aurat seorang wanita itu mulai dari ujung rambut sampai kaki, kecuali muka dan telapak tangan. Bahkan ada perintah tutuplah aurat kamu karena itu adalah perintah agama, jadi manakala kita meninggalkan itu kita akan kena sangsi, dan sangsi dari Allah itu adalah siksaan di akhirat.”
“Lalu kenapa kita di wajibakn mengenakan jilbab?”

“kita hanya manusia bisa yang diciptakan, dan masih ada kekuasaan yang Maha besar yang menguasai diri kita. Dialah Allah, yang menguasai setiap helai rambut kita, setiap hembusan nafas kita dan langkah kaki kita. Sehingga tidaklah salah jika Allah memberikan perintah untuk mewajibkan kita mengenakan jilbab, dan jikala kita mnegenakan jilbab tidak akan rugi”.

“kenapa gitu kok gak rugi, bukankah kecantikan kita tidak terlihat. Kan ada orang yang bilang kalau rambut kita adalah mahkota, jadi dengan terlihatnya rambut kita maka orang-orang akan menilai kita cantik”.
“kamu kurang benar Syifa, bahkan dengan kita mengenakan jilbab maka identitas kita akan cepat di kenali oleh orang. Bahkan dengan mengenakan jilbab kita akan terlihat lebih nyaman, tentram, anggung dan mempesona. Rambut memang mahkota terindah yang dimiliki oleh wanita, akan tetapi alangkah baiknya jika mahkota itu kita simpan dan kita jaga kemurniannya dengan berjilbab.”
“kamu betul Naura, InsyaALLAH aku akan mencoba untuk mengenakan jilbab”
“Alhamdulillah, gitu donk ini namanya sahabat muslimah sejatiku”
Aku tersenyum ke arah Naura, benar-benar perfect muslimah deh Naura, cantik iya, baik dapet, akhlaknya mulia, tutur katanya halus, sikapnya lembut. Hmm idaman para lelaki sholeh.
“Syifa, aku punya sesuatu untuk kamu, kebetulan tadi aku melihat di toko batik, sepertinya cocok dengan kamu” ucap Naura dengan menyodorkan tas kecil.

Dengan sedikit malu aku terima bingkisan tas berwarna hijau itu. Dan ketika kubuka ternyata isinya tiga warna jilbab berwarna hijau, merah dan orange.
“cantik sekali jilbabnya, terima kasih banyak Naura. Eh kok bisa tepat sekali saat aku mendambakan ingin berjilbab ya”
“hmm, itu karena kita sahabat muslimah sejati?, semoga saja kamu benar-benar bisa menjadi muslimah sejati”
“Amin”

 Cerpen Karangan: Anita Avianti

Dibalik Senyum Tulusmu


Rintik hujan menetes dari luar kamarku. Aku menatap hampa ke atas langit kelabu yang sejak pagi tidak menampakkan sinarnya. Hari ini seolah ikut berduka dengan keadaanku. Demam. Ya, tepatnya aku demam. Dan ini menjadi alasanku untuk tidak mengikuti pelajaran di sekolah.
Kualihkan tatapanku pada handphone yang sedari tadi bergetar di sisi tempat tidur. Terlihat pesan dari Aninda, salah satu teman akrabku, namun aku tak ingin menyebutnya sebagai sahabat.
“Risya kenapa tadi pagi nggak sekolah?”
“Kurang enak badan, Nin.” balasku singkat.

Seorang wanita cantik masuk dari balik pintu. Senyum cerahnya membuatku tak kuasa untuk membalasnya.
“Bagaimana keadaanmu, sayang? Masih sakit kepalanya?” tanya bunda sambil mengusap lembut dahiku.
“Lumayan, bunda. Mungkin besok bisa sekolah.”
“Kalau belum kuat, izin dulu sehari lagi,” saran bunda.
“InsyaAllah kuat. Risya nggak mau ketinggalan pelajaran.”
“Ya sudah, tenangkan fikiran dulu. Kesehatan Risya itu segalanya buat bunda. Jaga diri baik-baik, nak.”
“Iya bunda.. Makasih ya,” ujarku seraya memeluk bunda. Kupendamkan wajahku di jilbab panjang yang selama ini menutupi kecantikannya.
“Jangan lupa berdoa ya, nak. Karena segala sesuatu, apapun itu, dapat terwujud karena Allah, termasuk kesembuhanmu juga.”
“Iya bunda sayang, lagian Risya cuma demam, besok juga sembuh.”
Ini yang kusuka dari bunda. Selalu mengingatkanku untuk berdoa, beribadah. Bunda memotivasiku untuk belajar, selalu memberi semangat disaatku lemah. Bunda segalanya bagiku.
“Risya sayang bunda,” bisikku pelan. Hangat dekapannya menghangatkan kalbuku, seolah tak ingin lepas darinya.

Pagi ini tak seperti kemarin. Semangat sang mentari mampu membuatku tersenyum dan menghilangkan kegundahan yang akhir-akhir ini menyelimuti hati. Mengundang burung-burung untuk menari-nari mengepakkan sayapnya di pohon-pohon yang rindang.
Aku berjalan keluar dengan tas abu-abu yang senantiasa menggelayuti punggungku. Jilbab putihku tertiup angin pagi disertai jatuhan embun dari pepohonan. Jalanan di kompleks ini terlihat sepi, hanya ada satu-dua orang yang pergi ke pasar untuk berjualan, memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Risya,” panggil suara jernih yang lumayan akrab di telingaku. Aku menoleh dan tersenyum kecil ke arah pemilik suara itu. Ia sedikit berlari dengan membiarkan rambutnya terurai bebas, sesekali ia membetulkan kacamatanya.

“Sendirian, sya?” sapa Ferlyn setelah berjalan sejajar denganku.
“Seperti biasa,” jawabku singkat.
Gadis cantik yang dibalut seragam putih biru itu tersenyum manis kearahku. Lalu menatap kosong ke jalan trotoar yang sedang kami lalui. Seketika hening…
“Kemarin nggak sekolah. Kenapa?” tanyanya mengupas kesunyian.
“Biasa, penyakit musiman kambuh,” jawabku polos.
“Ah, bisa saja kamu! Oh ya, kemarin Bu Fauziah memintamu untuk menemuinya di ruang guru.”
“Kapan aku bisa kesana?” tanyaku dengan diliputi sejuta rasa penasaran.
“Secepatnya. Kalau bisa jam istirahat.”
“Makasih ya, Fer. Ehm, kira-kira ada apa ya Bu Fauziah memanggilku?”
“Entahlah, mungkin nilai agamamu bagus. Oh, bukan mungkin, tapi itu pasti,” timpal Ferlyn. Aku hanya tersenyum tipis mendengar tanggapan Ferlyn yang mungkin mengada-ada itu.

Teettt.. Teeeettt..
Bel berbunyi dua kali, pertanda istirahat. Aku pun beranjak menuju ruang guru untuk menemui Bu Fauziah.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, Risya. Silahkan masuk,” jawab Bu Fauziah dan mempersilahkanku duduk di depannya.
“Kamu sudah bertemu temanmu itu, ya? Siapa itu namanya, yang cantik berkacamata itu?” tanya Bu Fauziah sambil memejamkan mata. Mungkin mencoba mengingat sesuatu.
“Ferlyn, bu,” sambarku cepat.
“Oh iya.. Sudah, langsung saja, ya.” Perkataan beliau semakin membuatku penasaran. “Dua minggu lagi akan diadakan Musabaqah Tilawatil Qur’an. Mungkin kamu bisa mewakili sekolah ini. Kami berharap kamu dapat memberikan yang terbaik. Kamu mau, kan?”
“Alhamdulillah,” ucapku pelan seraya mengatupkan kedua tangan di wajahku.
“Ini baru seleksi antar sekolah. Jika kamu terpilih, kamu dapat melanjutkan ke tingkat kabupaten dan seterusnya. Maka dari itu kami berharap banyak padamu.”
“InsyaAllah, bu. Saya akan terus berlatih dan juga saya meminta doa dari ibu dan guru-guru lainnya,” jawabku dengan wajah penuh senyum.

Aku segera keluar ruangan. Fikiranku melayang-layang di alam bawah sadar, mulai berkhayal tentang ini-itu. Aku mulai membayangkan wajah bunda diliputi kebanggaan, dan juga ayah yang telah mendukungku selama ini. Ah, mungkin terlalu berlebihan. Ini baru perwakilan sekolah, bukan tingkat yang lebih tinggi.
“Assalamu’alaikum,” ucapku memberi salam sambil membuka pintu. Krek. Dikunci. Ada apa ini? Ayah dan bunda kemana? Pergi? Jutaan tanda tanya mengambang di fikiranku.
“Risya, ini kunci rumah. Ayahmu mengantar bunda ke rumah sakit. Kamu telepon saja dan langsung menyusul mereka.” kata Mbak Mia, tetangga sebelah rumahku.
Aku hanya bingung, memasang muka datar. Antara bingung, heran, takut, penasaran, semua perasaan menyelimuti hatiku. Menimbulkan kegundahan yang selama ini tak pernah terbayangkan. “Bunda sakit apa?” Oh, mungkin hanya periksa kesehatan. Ya, aku coba berfikir se-positif mungkin.
Sesegera mungkin aku memasangkan kunci pada badannya, membuka pintu, dan segera berlari menuju kamar untuk mengambil handphone.

Tuuut.. Tuuut.. Lama, belum ada jawaban. Fikiranku semakin tak menentu. Aku panik, hatiku rasanya berkecamuk. Tapi kucoba berfikiran positif, berfikir sebaik mungkin agar tidak terjadi hal yang berarti dengan bunda.
“Ayah! Bunda mana? Ada apa?” tanyaku setelah mendapat jawaban.
“Assalamu’alaikum, Risya. Kamu segera ke Rumah Sakit Bhakti Husada. Ayah dan bunda disini,” suara ayah menggema dari seberang sana. Tuut. Telepon diputus.
“Wa’alaikumsalam, ayah.” lirihku.

Aku segera berlari menuju perempatan. Berharap ada angkutan ataupun tumpangan yang sukarela mau mengantarkanku. Lama aku menunggu.. Dua menit.. Lima menit.. Sepuluh menit.. Aku melihat handphone secara berkala, berharap ada suatu informasi yang dapat sedikit menenangkanku.
Sebuah angkutan umum melintas, dan berhenti tepat di depan tempatku berpijak. Aku segera naik, meskipun sesak. Kendaraan ini penuh dengan orang-orang yang memiliki tujuannya masing-masing.
“Rumah Sakit Bhakti Husada ya, pak.”
Ibu-ibu yang ada di angkutan itu sontak menoleh kearahku. Entah apa yang mereka fikirkan. Tapi aku tak menghiraukannya. Fikiranku masih tersita pada bunda.
Angkutan yang kutumpangi berhenti tepat pada tempat yang dituju. Aku langsung turun dan memberi ongkos pada pak supir, tanpa mengingat kembalian.

“Dek! Kembaliannya, dek!” teriak pak supir dari kejauhan. Aku terus berlari, tanpa menghiraukan sekitar.
Berlari tak tentu arah, itu tepatnya yang sedang kulakukan sekarang. Berhenti sejenak, untuk menanyakan ruangan ibu. Dan bodohnya, aku tak tahu ruangan ibu dimana dan nomer berapa. Aku berhenti sejenak dan mencoba menghubungi ayah. Tapi, seseorang yang ku kenal sedang duduk di depan ruang UGD sambil menundukkan kepalanya.

“Ayah!”
Ayah mengangkat wajahnya dan memastikan apakah ia yang dipanggil. Ia langsung berdiri dengan bekas air mata di pipinya. Aku memeluk tubuh besar yang senantiasa melindungiku dan bunda. Namun, ayah tak kuasa menahan tangis sehingga membuatku turut dalam kesedihan.
“Bunda kenapa yaah?” tanyaku disela air mata yang jatuh.
“Bunda kritis, nak. Sekarang sedang ditangani dokter. Kita berdoa saja untuk kesembuhannya.”
“Memangnya bunda sakit apa? Kenapa Risya tidak tahu?”
Ayah terdiam, tertunduk dan menenggalamkan wajahnya di kepalaku. Hening.
“Bundamu terkena kanker otak.” jawab ayah pelan.
“Kenapa selama ini Risya tidak diberi tahu, yah? Kenapa semuanya membohongi Risya?” Suaraku meninggi diiringi jeritan tangis yang tak kuasa kubendung lagi. Lagi-lagi ayah diam, membisu.

“Sekarang waktunya kita berdoa, menunggu kepastian. Tak ada lagi yang perlu diperdebatkan, Risya.”
Aku diam seribu bahasa, mataku tertuju pada ruang UGD yang tak pernah kubayangkan selama ini. Air mata terus mengalir deras di pipiku. Sesekalli, kuusap kedua belah mataku dengan jilbab putih yang sudah basah. “Bunda harus kuat. Harus! Aku tak pernah mengenal bunda yang lemah.” batinku bergejolak.

Lama aku dan ayah menunggu, belum ada kepastian dari dokter yang menangani bunda. Ayah masih bergelut dengan Al-Qur’an kecil yang senantiasa ia bawa. Sementara aku, hanya menangis dengan ketidakpastian. Mengingat dimana bunda menenangkanku kemarin, senyum bunda yang tulus, ketegaran bunda, ternyata dibalik itu semua bunda menyimpan kelemahan, kelemahan yang tidak pernah dibuka untukku.
“Keluarga Ibu Khanisa?” tanya dokter saat keluar ruangan.
“Ya, dok,” ujar ayah segera menghampiri lelaki berseragam putih itu.
“Mari ikut saya.”

Aku segera berlari menemui suster yang ada disana, menanyakan keadaan bunda. Aku menaruh harapan pada suster itu, agar memberikan jawaban terbaiknya.
“Adik bisa lihat di dalam,” ujarnya datar.

Langkahku pelan, namun pasti. Perlahan-lahan aku memasuki ruangan itu. Dingin, obat, itulah yang menyambutku. Kulihat beberapa perawat mengelilingi bunda.
“Bunda.” ujarku pelan. Tak ada jawaban. Bunda mematung. Tabung oksigen telah dilepas dari mulutnya. Bunda! Aku memegang tangan bunda yang dingin. BUNDAAA!!! Jeritan tak dapat ku hindari. Kudekap tubuh yang selama ini telah merawatku, namun kini telah kaku.
“Innalillahi Wainnailaihi Roji’un.” suara seorang ayah terdengar berat di belakangku. Kudekap tubuh ayah. Aku hanya bisa menangis dipeluknya.

“Ayah! Ini nggak mungkin, kan? Risya mimpi, kan, yah? Bunda cuma istirahat, kan?” tanyaku bertubi-tubi. Tak henti-henti mata ini mengeluarkan curahannya. Namun ayah tetap membisu, terpaku ditempatnya berpijak. “Ayah jawab Risya! Bangunkan bunda, yah!”
Tiga hari setelah kepergian bunda. Namun raga ini, fikiran ini selalu teringat akan bunda. Dimana bunda baru kemarin menenangkanku, mengusap kepalaku, memeluk tubuhku. Namun kini, bunda telah istirahat di pembaringan terakhirnya. Tidur lelap untuk selamanya, disisi Allah.
Dibalik kekalutan ini, aku rindu senyum bunda. Aku rindu ketegarannya. Aku rindu kasih sayangnya, ketulusannya, kelambutannya, sikap keibuannya. Kapan aku bisa melihat senyumnya lagi? Mungkin memang bunda sedang tersenyum di atas sana, menatapku dengan penuh kebahagiaan.
Ternyata dibalik senyumnya, bunda menyimpan sejuta kepedihan, sejuta kekalutan yang ditutup dari. Kekalutan yang bunda jaga sendiri, tanpa mau dibagi untukku.
Langit sore terlihat kemerahan, aku masih enggan beranjak dari tempat duduk ini. Sejenak membiarkan airmata ini mengalir, berharap bunda tahu isi hatiku, dimana aku sangat ingin mendekap tubuh bunda.
“Ikhlaskan bunda, Risya. Biarkan bunda tersenyum. Ini sudah takdir Allah,” sahut suara dari belakang. “Bunda hanya butuh doa, bukan tangisan.”
Ya, ikhlas! Itu yang kucoba saat ini. Mungkin ini yang dapat membuat bunda tersenyum, meski aku tak tahu itu.

“Risya, sudah siap? Sudah latihan di rumah, kan?” tanya Bu Fauziah sesampainya aku di tempat lomba.
“InsyaAllah, bu. Risya minta doanya.” Ku cium punggung tangan Bu Fauziah, mengulang memori saat-saat bersama bunda. Sudah lama aku tidak mencium tangan seorang bunda.
“Yang sabar, ya. Ikhlaskan bundamu,” ucap Bu Fauziah seolah-olah tahu isi fikiranku. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi empati itu.

“Bismillahirrohmanirrohim. Jakarta, saya datang dengan mengharumkan provinsi tempat saya tinggal. Mengharumkan nama sekolah, ayah dan bunda. InsyaAllah bisa!”
Sebelumnya aku telah melewati seleksi antar sekolah, dan juga tingkat kabupaten. Alhamdulillah, saat ini aku dapat sampai ke-tingkat provinsi dan InsyaAllah sampai tingkat nasional seperti yang telah aku tekadkan.
“Ini baru setengah dari perjalanan, Risya. Belum seutuhnya kamu tiba menjadi sang juara.” Hati kecilku memberontak dan terus memberi semangat untuk jadi sang juara. Dan pertarungan dimulai. Sedikit lagi giliranku untuk membaca surat yang telah ditentukan, Al-A’raf ayat 31.
“Farisya Azzahra,” panggil laki-laki berpeci yang telah duduk di kursi juri.
Aku segera maju dan memulai bacaanku. Hening. Tak kudengar suara sedikitpun. Aku semakin gugup, tapi segera kutepis jauh-jauh kegugupan itu. Dengan percaya diri, aku melanjutkan bacaan seperti yang telah ditentukan. Setelah selesai aku pun kembali ke tempat duduk, di samping Bu Fauziah.
“Lebih bagus dari kemarin,” bisik Bu Fauziah di telingaku.
“Alhamdulillah, makasih, Bu.”

Sekarang saatnya pengumuman. Fikiranku semakin tak karuan, jantungku tiba-tiba berdegub tak menentu. Telapak tanganku dingin dan basah oleh keringat.
“Saatnya pengumuman pemenang Musabaqah Tilawatil Qur’an tahun ini.
Juara harapan Ahsyar Al-Fiqh, Juara ke-tiga Asyifa Bachtiar,” satu persatu pemenang maju ke depan. Ah, dimana namaku? Hilang sudah harapanku membuat ayah dan almh. bunda bangga. Aku hanya bisa tertunduk lesu mendengarkan nama-nama yang dipanggil.
“Juara ke-dua Khoirunnisa Nurul Amanah, dan Juara pertama Musabaqah Tilawatil Qur’an jatuh pada Farisya Azzahra.”
Aku yang masih tertunduk langsung mengangkat wajahku untuk memastikan. Bu Fauziah sontak memelukku dan banyak yang memberi tepuk tangan.
“Itu nama Risya, bu?” tanyaku tak percaya.
“Iya, nak. Cepat kamu maju.”
Aku berdiri di samping Khoirunnisa. Kutatap wajah-wajah di depanku. Kulihat satu persatu peserta lomba. Ada yang tersenyum ikhlas, namun tak sedikit dari mereka yang memasang raut wajah kecewa. Tak terasa air mata menetes di sudut mataku, perlahan-lahan mengalir dan bermuara pada kerudung biru yang kukenakan.

“Selamat,” ujar Pak Gubernur seraya menyerahkan hadiah dan bingkisan. Aku tertunduk dan tersenyum haru tanpa berkata sepatah kata pun.
Ucapan selamat terus mengalir tiada henti dari keluarga dan teman-temanku, tak terkecuali Aninda. Puji syukur tak henti kuucapkan pada Allah Sang Pemilik Kuasa. Dua minggu yang akan datang, aku akan bertarung di Jakarta. Kali ini ayah akan menemaniku, meski tanpa bunda. Aku harus lebih baik, walau tak dapat dipastikan aku akan pulang sebagai juara. Tapi aku yakin, bunda pasti sudah tersenyum bangga di atas sana, dan aku akan terus mempertahankan senyum bunda.
Selesai

Cerpen Karangan: Sofia Octaviana

Semua Kehendak Allah


ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR..!! pukul 04:40 pagi, aku membuka mata, mendengarkan lantunan adzan subuh yang begitu indah. Hati ini terasa tenang dan damai tatkala adzan berkumandang menandakan waktu sholat untuk beribadah kepada Allah SWT telah tiba. Yang sedari malam, aku tak bisa beristirahat dengan tenang karena kepalaku sakit dan tubuhku serasa akan demam, pupus sudah setelah mendengar lantunan adzan yang begitu merdu masuk ke telingaku. Aku ingat saat masih kecil. Ketika itu aku sedang bermain di halaman rumah bersama Abi, yang kemudian aku mendengar sebuah lantunan merdu yang menggetarkan hati ini. Serasa aku ingin meneteskan air mata mendengar lantunan merdu tersebut yang begitu mampu membuat diriku terkesima.

“Abi, suara merdu apa ini?,” tanyaku pada Abi. Abi tersenyum dan mendekatiku.
“Alhamdulillah, waktu sholat telah tiba. Nisa, itu adalah adzan yang menandakan waktu sholat telah tiba. Kita sebagai umat muslim wajib mengerjakan sholat ketika waktunya tiba,” tutur Abi padaku.
“Tapi kok disini terasa tentram dan tenang, Abi? tadi waktu lagi main, Nisa ga ngerasain apa-apa, tapi.. saat suara merdu yang Abi sebut adzan itu terdengar, di sini terasa tenang. Kenapa Abi?,” tanyaku polos dengan wajah lugu sambil menunjuk dadaku sendiri. Abi memegang pundak kecilku kemudian tersenyum.
Kenangan masa lalu. Aku segera bangkit dari tempat tidurku kemudian mengambil air Wudlu untuk mensucikan diri dari hadats. Setelah selesai, aku mengenakan mukena sholat yang berguna untuk menutupi aurat. Aku ingat betul kata-kata Abi, kalau sedang sholat aurat kita harus tertutup. Abi banyak mengajarkan tentang Islam kepadaku. Abi mengajarkan sholat, mengaji, puasa dan lain-lain kepadaku. Sedangkan Ummi selalu menasihatiku agar menjaga ucapan dan selalu berbuat baik terhadap sesama. Subhanallah, terima kasih Ya Allah, Engkau menghadirkan seorang Ayah dan seorang Ibu yang begitu mulia di mataku. Yang selalu mendekatkan diri kepada-MU dan mengajarkan kepadaku untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-MU.
Aku berdoa, agar Abi mendapat tempat di sisi Allah SWT, menjadi salah seorang penghuni surga. Aku berdoa agar diberi kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi segala cobaan yang Allah SWT berikan kepadaku dan kepada Ummi. Ketika Abi meninggal, aku sangat terpukul. Hatiku begitu sakit ditinggal oleh Abi yang selama ini selalu menemani hari-hariku dan mengajarkanku bagaimana menjadi seorang muslimah. Apalagi saat Abi meninggal, Ummi begitu merasakan kesedihan hingga beliau jatuh pingsan di sebelah jenazah Abi yang telah dikafani. Melihat Ummi yang begitu menderita atas kepergian Abi, aku sangat sedih. Yang bisa aku lakukan hanyalah berdoa dan menyerahkan semuanya kepada Sang Khalik, yang menciptakan bumi beserta isinya dan yang menciptakan makhluk hidup yang ada di dunia ini. Saat Abi meninggal, aku sempat marah kenapa Allah mengambil nyawa Abi. Namun, aku kembali mengingat ucapan Abi ketika di rumah sakit dan segera beristigfar memohon ampun kepada Allah atas sikapku.

“Kalau Abi sudah pergi, Nisa sama Ummi jangan sedih, ya? jangan marah, jangan kecewa. Karena sesungguhnya semua yang hidup pasti akan merasakan mati. Dan semua makhluk hidup yang telah diciptakan Allah SWT suatu saat akan kembali kepadaNYA. Nisa sama Ummi harus lebih bersabar dalam menjalani hidup, bahkan ketika cobaan hidup datang kalian harus terus berdoa. Ketika cobaan dan masalah datang, Nisa jangan pernah berpikir kalau Allah tidak sayang sama Nisa dan Ummi, justru Allah sangat sayang sama Nisa dan Ummi. Ingat, Allah SWT tidak akan pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan manusia. Ketika sedang sedih ataupun senang, Nisa harus terus mengingat Allah. Jangan pernah tinggalkan sholat dan terus berdzikir kepada Allah. Nisa mengerti, kan apa yang Abi katakan?,” tutur Abi dengan suara pelan.
Aku meneteskan air mata mengingat perkataan Abi. Aku berdoa agar Abi dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka yang amat mengerikan. Ya Allah, aku berterima kasih dan sangat bersyukur kepada-MU karena telah menghadirkan seorang Ayah seperti Abi. Aku sangat bersyukur memiliki orangtua sholeh dan sholeha seperti Abi dan Ummi. Semoga aku bisa menjadi seorang muslimah yang baik seperti Ummi. Amin, Ya Rabb. Selepas sholat subuh, aku mengambil Al-qur’an dan mulai membaca ayat suci Al-qur’an. Kemudian teringat lagi ketika Abi mengajariku membaca Al-qur’an dan menyuruhku menghapalkan surah-surah pendek yang terdapat di dalam Al-qur’an setiap selesai mengaji. Saat kecil, kita pasti pernah diceritakan dongeng sebelum tidur oleh orangtua kita. Disaat anak-anak lain minta diceritakan dongeng cinderella, putri salju, rapunzel dan cerita anak lainnya, Aku justru meminta kepada Abi dan Ummi untuk diceritakan kisah para Nabi dan Rasul. Dan banyak pelajaran berharga yang aku dapat. Subhanallah, aku bersyukur mempunyai sebuah keluarga kecil yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Pagi hari. Ayam tetangga berkokok bersahut-sahutan dengan sesama ayam lainnya. Burung-burung berkicau di antara ranting-ranting pepohonan. Matahari mulai terbit di ufuk Timur menghangatkan pagi di hari itu. Udara bersih masih menyegarkan pagi itu. Aku membuka jendela kamarku, menghirup udara segar nan bersih, melihat orang-orang yang mulai lalu lalang di jalan depan rumah. Aku meraih tas cokelat yang aku beli tahun lalu, sambil bergumam “Saatnya memulai hari dengan Bismillah..,”.

“Nisaaa. Ayo sarapan,” panggil Ummi dari ruang makan.
“Iyaa, Ummi,” sahutku sambil mengenakan kaos kaki kemudian keluar dari kamar menuju ruang makan. Aroma roti panggang mulai tercium, Uuhh.. wanginya roti buatan Ummi, gumamku tersenyum.
“Pagi, Ummi,” sapaku ramah sambil melihat hidangan sarapan pagi yang telah Ummi siapkan di meja.
“Pagi, nak. Ayo duduk,” Ummi mempersilakan aku duduk menikmati sarapan pagi buatan Ummi.
“Wah, kayaknya enak, nih. Hehe..,” godaku. “kok kayaknya, sih?,” tanya Ummi dengan raut wajah yang sengaja dibuat cemberut.
“Iya, deh. Roti panggang ini pasti enak. kan buatan Ummi,” pujiku sambil tertawa kecil. Ummi tersenyum mendengar pujianku. Ya Allah, senang rasanya melihat Ummi bisa tersenyum seperti itu. Terakhir kali aku lihat Ummi tersenyum saat Abi masih ada. Semoga Ummi akan selalu tersenyum seperti ini. Rasanya bahagia melihat Ummi tersenyum lagi. Terima kasih, Ya Allah.

“Nis, kamu mau berangkat kerja sekarang?,” tanya Ummi sambil mengoles selembar roti panggang dengan selai buah.
“Iya, Ummi,” jawabku sambil meneguk segelas susu hangat. Perlahan wajah Ummi berubah diam, datar.
“Ummi kenapa diam? ada masalah, ya Ummi?.” tanyaku pelan sambil melihat raut wajah Ummi yang berubah. Ya Allah, baru saja Ummi tersenyum sekarang Ummi terlihat sedih lagi.
“Ah, tidak kok, nak. Ummi hanya kesepian di rumah soalnya kamu berangkat kerja pagi-pagi pulangnya juga malam. Coba masih ada Abi kamu, Nis. Pasti Ummi tidak akan kesepian terus,” kata Ummi sedih. Matanya mulai berkaca-kaca menandakan sebentar lagi Ummi akan meneteskan air mata. Padahal, mata Ummi sudah sembab. Aku tidak tega melihat Ummi sedih, lalu kupegang tangan Ummi.

“Ummi.. ummi ga usah sedih. Ummi ga kesepian, kok. Kan Allah selalu berada di dekat hambaNYA, kan. Allah selalu berada di hati hambaNYA yang mulia seperti Ummi. Dan juga… Ummi ga perlu khawatir sama Abi. Abi pasti udah mendapatkan tempat yang indah di Surga. Abi juga pasti sedih kalau melihat Ummi sedih atas dirinya. Abi ga akan senang kalau Ummi selalu bersedih atas kepergian Abi. Ummi, kita ga boleh terus-terusan sedih. Kepergian Abi merupakan kehendak Allah SWT, dan kita harus yakin semua itu adalah rencana terbaik Allah untuk kita berdua. Ummi juga ingat, kan apa kata Abi? Abi bilang kita ga boleh sedih kalau nanti Abi udah ninggalin kita. Kita hanya harus berdoa kepada Allah agar kita diberi kesabaran dan kekuatan atas cobaan Allah. Jadi, Ummi ga perlu sedih lagi ya?,” ucapku pada Ummi. Ummi menghapus air matanya kemudian tersenyum melihatku.

“Ummi bersyukur sekali masih punya kamu disisi Ummi, Nis. Tidak terasa kamu telah tumbuh menjadi anak yang sholeha seperti dambaan Abi sama Ummi,” ucap Ummi tersenyum, namun masih menyisakan air mata di sudut matanya. Aku tersenyum. Kemudian menyalami tangan Ummi berpamitan untuk berangkat kerja.
Siang hari. Matahari bersinar terik. Beberapa orang mencoba berlindung di tempat teduh. Seorang perempuan berteduh di bawah pepohonan menghindari sengatan sinar matahari. Namun tidak denganku.

Aku tidak berlindung di tempat teduh atau di bawah pohon. Aku sudah cukup teduh dengan jilbab dan pakaian yang kukenakan, melindungiku dari sengatan sinar matahari yang panas. Namun, siapa sangka, di hari itulah awal pertemuanku dengan seorang lelaki yang sekarang menjadi Imam bagi anak-anakku.

Hari itu, aku bertemu dengan Mas Syawal sepulang dari kantor. Kami bertemu saat aku sedang menunggu taksi di pinggir jalan dekat kantor. Mas Syawal saat itu tengah menjemput Sarah, adik kecilnya yang sedang duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku masih ingat ketika masih SMA dulu, Sarah masih bayi. Aku sering melihat Mas Syawal menggendong Sarah di teras rumahnya. Saat itu juga, diam-diam terselip di hatiku rasa kagum kepada Mas Syawal. Subhanallah, disaat semua anak-anak muda seumuran Mas Syawal masih bergelit dengan foya-foya, pacaran sana sini, Mas Syawal memilih membantu Ibunya menjaga Sarah dan melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Aku kagum dengan kepribadian Mas Syawal yang beda dengan anak laki-laki lainnya. Itulah mengapa aku selalu melewati daerah rumahnya dengan mengendarai sepeda hanya untuk melihat Mas Syawal. Kalau mengingat kejadian tersebut, aku merasa lucu dan malu. Yah, namanya anak remaja pasti pernah merasakan rasa kagum terhadap lawan jenisnya. Aku juga pernah dinasehati Abi dan Ummi kalau rasa suka tersebut memang tidak dilarang, namun harus dalam batas-batas tertentu. Aku juga mengerti apa yang dimaksud Abi dan Ummi, kalau aku boleh suka kepada lawan jenis, tetapi aku tidak boleh melakukan apa yang anak muda lakukan, yaitu PACARAN! Abi dan Ummi mengatakan kalau pacaran memang dibenarkan dalam Islam, tetapi dilakukan setelah menikah bukan sebelum menikah. Pacaran sebelum menikah adalah zina dan zina adalah perbuatan yang keji. Aku bersyukur, tumbuh dalam sebuah keluarga yang dekat dengan Islam, dekat dengan Allah SWT. Masa-masa remajaku aku lalui dengan baik dan benar, semua karena bimbingan Abi dan Ummi.

Ketika sedang menunggu taksi di pinggir jalan, sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depanku. Seorang pria mengenakan setelan hitam keluar dari mobil tersebut kemudian menatapku. Pria itu tersenyum ramah. Aku melihat sekilas wajah pria tersebut, sepertinya aku mengenalnya tetapi aku tidak tahu siapa dia.

“Assalamu’alaikum,” Ucapnya ramah padaku.
“Wa’alaikumsalam,” Jawabku masih dengan tatapan keheranan.
“Maaf sebelumnya. Saya ingin bertanya. kamu Nisa, kan?,” tanyanya. Aku mengerutkan kening. Bagaimana dia tahu namaku? siapa dia? wajahnya terlihat tidak asing.
“Iya. Maaf, anda siapa, ya? kok tahu nama saya?,” tanyaku balik. Pria tersebut tersenyum lebar.
“Jadi kamu Nisa? Nisa Annisa, kan? Nis, ini aku, Syawal. Ingat ga? kita dulu bersekolah di SMA yang sama. Syawal,” Ucapnya sedikit senang. Aku terkejut mendengar pengakuannya. Lalu kuperhatikan wajahnya. Astagfirullah, dia memang Mas Syawal.
“Mas Syawal? aduh, maaf mas tadi saya ga ngenalin wajahnya Mas Syawal. Subhanallah, Mas Syawal ternyata ga berubah. Akunya saja yang lupa,” tukasku tersenyum.
“Kamu juga ga berubah kok, Nis. Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun aku baru ketemu sama kamu di sini. Bagaimana kabar kamu, Nis?,”
“Alhamdulillah baik, Mas Syawal. Mas Syawal gimana, baik keadaannya?,”
“Alhamdulillah, aku baik kok, Nis,” jawabnya. Pintu mobil kembali terbuka, kali ini seorang gadis kecil berkerudung keluar dari mobil tersebut.
“Kak, kok kita berhenti?,” tanyanya.
“Oh, iya, Nis. Kenalin, ini Sarah adikku. Sarah, kenalin ini kakak Nisa, teman sekolah kak Syawal,” ucapnya mengenalkan kami. Aku tersenyum sambil menyebutkan namaku. Sarah juga tersenyum sambil menyalami tanganku dengan sopan. Sarah gadis kecil yang sopan, aku juga bisa merasakan kalau Sarah adalah anak yang baik.
“Nisa, kamu baru pulang kerja, ya?,” tanya Mas Syawal.
“Iya, Mas. Ini aku lagi nungguin taksi. Eh ga taunya Mas Syawal datang. Tadi aku pikir siapa lho, mas ternyata Mas Syawal,”
“Rumah kamu masih yang dulu, kan? aku antarin kamu pulang, ya sekalian masih banyak yang mau aku bicarakan sama kamu. Boleh aku antar pulang?,” ajaknya dengan sopan.
“Oh, ga usah Mas Syawal. Takut ngerepotin,”
“Ngga, kok. Ngga ngerepotin sama sekali. Malah aku senang ngantarin teman lama pulang. Dari pada kamu kepanasan di sini, lagi pula sebentar lagi waktunya sholat Dzuhur, kan?,” tanyanya. Mas Syawal meminta agar dia mengantarku pulang. Awalnya aku tidak enak harus merepotkan Mas Syawal, namun mengingat waktu sholat Dzuhur sebentar lagi tiba, aku menerima tawarannya. Kami pulang bersama siang itu. Di perjalanan, banyak hal yang ditanyakan Mas Syawal. Kami bercerita tentang pendidikan kami dan banyak hal. Dalam sekejap, kami menjadi akrab kembali hanya karena pertemuan di siang itu.

Sesampainya di rumah, aku mengajak Mas Syawal singgah di rumah dan kukenalkan kepada Ummi. Ketika waktu sholat dzuhur tiba, kami memutuskan untuk sholat berjamaah di rumah. Aku, Ummi dan Sarah menjadi makmumnya sedangkan Mas Syawal sebagai imam saat itu. Aku tahu, semua kejadian hari itu, pertemuan itu adalah kehendak Allah SWT. Allah SWT mempertemukan kembali aku dengan Mas Syawal. Selepas sholat, kami kebali bercerita sekedar menambah keakraban di antara keluargaku dan Mas Syawal.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Mas Syawal ternyata manajer baru di kantor tempat aku bekerja. Suatu kebetulan yang luar biasa. Aku semakin yakin ada sebuah alasan mengapa Allah SWT menghendaki Mas Syawal bertemu denganku. Walaupun seorang manajer, Mas Syawal tidak bersikap angkuh dan sombong. Dia tetap ramah kepada siapa saja, entah itu karyawan atau pun office boy yang ada di kantorku. Oleh karena itu, Mas Syawal disenangi semua orang. Semua orang menyukai kepribadiannya yang baik dan tidak sombong. Aku dan Mas Syawal semakin akrab, karena kami bekerja di tempat yang sama. Aku menjadi kebingungan, tatkala rasa yang pernah aku rasakan sewaktu dulu kini kembali muncul di hatiku. Ya Allah, rasa apakah ini? mengapa rasa ini kembali muncul setelah sekian tahun lamanya aku tak bertemu dengannya? Ampunilah aku atas rasa yang tidak benar ini, Ya Allah! aku tidak boleh menyukai Mas Syawal tanpa adanya status pernikahan yang jelas. Bagaimana mungkin aku menyukai seorang pria padahal aku belum menikah dengannya?

Setiap malam aku berdoa. Aku berdoa, jika memang ia jodohku maka dekatkanlah ia padaku, Ya Allah. Ridhoilah perasaan ini, karena sesungguhnya hamba yang mulia adalah hamba yang mencintai dan dicintai karena Allah SWT. Namun, jika ia bukan jodohku maka jangan biarkan rasa ini terus berada di dalam hatiku. Aku ikhlas jika memang ia bukan jodohku, bukan calon imamku kelak. Ya Allah, Engkaulah yang mengatur segalanya, rezeki bahkan jodoh. Yang manusia bisa lakukan hanya berdoa dan memohon kepada-MU Ya Allah.

Hingga suatu hari. Suatu hari dimana Allah telah manjawab semua doaku. Suatu hari dimana aku akan mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa. Semua atas kehendak Allah SWT. Mas Syawal mengkhitbahku!! ia ingin menjadikan aku pendamping hidupnya, seperti Nabi Adam dan Hawa. Ia ingin menjadi imam bagi anak-anakku kelak. Ia ingin aku menjadi seorang Ibu bagi anak-anaknya nanti. Ia juga mengatakan, untuk apa ia melanjutkan pendidikan keluar negeri kalau ternyata tulang rusuknya berada di dekatnya saat ini. Ia ingin menikahiku. Subhanallah, air mataku menetes mendengar perkataannya di depan Ummi dan keluarganya. Aku sangat bahagia mendengar Mas Syawal ingin menikahiku, ingin membangun rumah tangga denganku. Ummi melihatku menangis penuh keharuan kemudian memelukku : “Sekarang kamu bukan Nisa kecil Ummi lagi, nak! tapi kamu sekarang adalah calon seorang Ibu bagi anak-anakmu nanti. Kamu akan menjadi seorang “Ummi”, seperti Ummi,” Ummi membisikkanku kata-kata tersebut dengan lembut. Aku sangat bahagia. Di tengah-tengah kebahagiaan itu, ada satu kesedihan yang melanda hatiku. Kebahagiaan itu ternyata terasa tak lengkap, ketika aku mengingat Abi yang saat itu tidak berada di sampingku, merasakan kebahagiaan yang sama.

Abi, andai Abi berada di sini saat ini, lengkaplah sudah semua kebahagiaanku. Tapi aku tahu, Abi pasti sedang bahagia di surga sana, melihat putri kecilnya yang akan menikah dengan seorang pria seperti Abi. Abi, Mas Syawal akan menjadi suami Nisa, seperti Abi yang telah menjadi suami Ummi dan Ayah bagi aku. Ingin rasanya Abi berada di sini, melengkapi semua kebahagiaan ini. Terimah kasih, Abi sudah membimbing Nisa selama ini, mengajari Nisa berbagai hal.
Ya Allah, Terima kasih telah mempertemukan aku dengan Mas Syawal. Ridhoilah pernikahan kami. Karena sesungguhnya kami berdua saling mencintai karenaMU Ya Allah. Dan semua ini terjadi atas izinMU, yang dapat memisahkan kami hanya Engkau, Ya Allah. Aku bersyukur kepadaMU karena telah menghadirkan mereka di kehidupanku. Amin, Ya Rabb.

Cerpen Karangan: Rizka Dwigrah. P

Misteri Gadis Kecil di Rumah Kosong


Malam yang sunyi itu, Mellyza mengerjakan PR-nya di ruang keluarga. Semua keluarganya sudah tidur, kecuali Mellyza dan kakaknya. Sebenarnya, hari itu adalah hari Kamis, dan lebih tepatnya malam Jumat.

Mellyza hampir menyelesaikan PR-nya saat jam di rumahnya berdentang 10 kali yang menandakan bahwa saat itu sudah pukul 22.00.
“Tok… tok…” Mellyza mendengar bunyi seperti orang memukul palu.
“Siapa yang malam-malam begini memasang paku?” tanyanya bingung.
“Tok… tok…” bunyi itu terdengar lagi. Namun, kali ini bunyi itu disertai dengungan keras. Mellyza yang penasaran, segera naik ke kamar mama-papanya yang ada di lantai 2.
“Ma, Lyza pinjam balkon sebentar!” katanya pada Mama yang masih sibuk dengan laptop. Mama mengangguk.

Angin berhembus kencang saat Mellyza berlari ke balkon kamar mamanya yang sedikit luas. Ia menoleh ke rumah di sebelah kirinya.
Tiba-tiba, “Kyaaa… Setan!!” teriak Mellyza ketakutan. Mama terkejut, dan segera mendatangi Mellyza.
“Ada apa, Sayang?” tanya Mama.
“Ada setan, di kiri rumah kita Ma!” jawab Mellyza masih ketakutan. Mama dan Papa segera melihat ke rumah sebelah. Papa mengantarkan Mellyza ke kamarnya.
Lampu kamar Mellyza dimatikan, kemudian menyala lampu tidurnya.
“Selamat tidur, anak Papa. Mimpi indah!” ucap Papa lembut. Mellyza menarik selimutnya, ketika Papa pergi.
“Tok… tok…” Mellyza merinding, seketika ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Selimut Mellyza tiba-tiba tertarik sendiri. Dan pintu kamarnya terbuka lebar.
“KAKAK!!” jerit Mellyza melihat kakaknya tergantung di depan kamarnya.
“Lyza, ada apa?” tanya kakak Mellyza khawatir akan adiknya itu. Mellyza terbangun, ternyata ia mimpi. Di sekelilingnya sudah ada keluarga besarnya.
“Kak, aku enggak mau tinggal di rumah ini!” jawabnya penuh keringat dingin. Nenek Mellyza dan Tantenya saling berpandangan dengan wajah penuh ketakutan.
“Nenek sama tante tahu sesuatu?” Mellyza bertanya pelan.
“Sebenarnya…”
“Sebenarnya… kamu diincar,” jawab Nenek. Mellyza mengerutkan dahi, ia bingung dengan semua ini.
“Diincar? Siapa dan kenapa?” kakak Mellyza yang sedari tadi diam jadi ikut bingung. Mata Tante Mellyza dan Nenek tampak berkaca-kaca.
“Mahkluk astral… Mereka ingin membawa adikmu, agar mereka bisa hidup ke dunia ini lagi,” jawab Tante Charien. Mellyza tak menyangka mendengar jawaban tantenya. Dengan wajah sedih, ia berlari turun ke bawah untuk menemui ayahnya.
“Mellyza…” panggil kakak Mellyza.

Kenapa aku? Mungkinkah Tuhan menginginkanku pergi? Jika begitu, tidak perlu begini. Aku ketakutan, mereka tinggi dan berdarah…
Itu adalah tulisan Mellyza yang ditulisnya terakhir kali, sebelum ia tidak sadar untuk selamanya.
Mellyza melihat tubuhnya sendiri, ia dikelilingi oleh keluarganya. Isak tangis dari Mama dan kakaknya terdengar. Tiba-tiba ia melayang tinggi, masuk ke dalam lubang dan…
“Di mana aku?” Mellyza mendapati rohnya berada di depan rumahnya. Ia masuk, namun tidak menemukan siapapun. Mellyza naik ke kamarnya, di dalamnya ada boneka patung mirip keluarganya. Ia memeluknya, dan segera pergi dari rumahnya.
“Tok… tok…” bunyi itu terdengar lagi, namun kali ini agak pelan. Mellyza mendekati rumah kosong di samping rumahnya. Kriekk… Mellyza menginjak batang kayu, seseorang yang ada di dalam rumah itu segera keluar. Mellyza dengan cepat bersembunyi agar tidak ketahuan.
“Siapa itu?” orang itu bersuara seperti anak kecil, namun ia tinggi besar dan di tubuhnya penuh darah. Orang itu mendekati tempat persembunyian Mellyza, dan ia sudah amat dekat. Mellyza berdoa supaya ia tidak ketahuan. Tempat persembunyian Mellyza dibuka, namun tidak ada Mellyza di dalamnya. Lalu dimana Mellyza? Seseorang ternyata membantunya. Kini ia aman di dalam gudang di rumahnya.
“Hey, kamu siapa?!” teriak Mellyza kecil.
“Aku Nessyza,” dia dingin sekali, itu membuat Mellyza tak nyaman.
“Aku harus kembali,” katanya.
“Tidak, atau kau mati,” cegahnya. Kali ini Mellyza tak mau menurut, Mellyza memberontak. Dia hendak berlari, namun rasanya kakinya sakit.
“Aku sudah melarangmu kembali, atau kau mati!” ujarnya. Mellyza menangis, ia rindu mama dan papanya.
Krieet… Dorr… bunyi yang pernah didengar Mellyza.
“Pasti di sekitar sini, ada orang mendekat,” gumamnya. Mellyza menarik Nessyza.
“Ada apa?” tanyanya.
“Seseorang datang mendekat,” jawab Mellyza. Mereka pergi secepat mungkin. Surat itu jatuh… Orang itu tahu di mana Mellyza pergi. Ia terus mengincar, hingga…
Hingga orang yang mengincar Mellyza itu tahu dimana tempat Mellyza. Di tempat lain, Mellyza dan Nessyza bersembunyi. Mellyza sangat ketakutan, ia dalam hati ingin kembali ke pada keluarganya.
“Di mana kita?” tanya Nessyza yang belum kenal tempat itu.
“Kita aman di rumah pohonku,” jawab Mellyza. Sreett… Kyaakk.. Doorr… bunyi keras itu terdengar di dekat rumah pohon Mellyza. Mellyza dan Nessyza menutup mata, ketika orang yang mengincar Mellyza tepat berada di depan mereka.
“Aku pasti menemukanmu…,” kata orang itu dengan suara beratnya. Apa yang terjadi? Orang itu berlalu pergi tanpa menoleh sedikit pun ke rumah pohon Mellyza.
“Fiiuuh… syukurlah dia tidak melihat kita,” ucap Nessyza menarik nafas. Mellyza bingung, ia harus melakukan apa supaya dapat kembali ke tubuhnya.
“Aku tahu, kau harus melawan orang itu.. Atau kau menyerah? Tidak ada jalan pulang,” jawab Nessyza yang seolah-olah mengetahui pikiran Mellyza.

Di rumah Mellyza,
“Lyza, sadar, dong, Sayang. Mama kangen sama kamu,” isak Mama Mellyza sambil memeluk tubuh Lyza.
“Cucu Nenek, Lyza. Lawan orang itu, kamu pasti bisa!” Nenek Mellyza menyemangati Mellyza. Nenek Mellyza sudah tahu, jika cucunya sekarang tidak berada jauh dari rumah itu.
Mellyza segera pergi dari rumah pohon itu, ia ingin melawan orang yang mengincarnya. Namun, anehnya tiba-tiba rumahnya menjadi seperti pasar yang dilalui oleh beberapa mahkluk astral. Salah satu mahkluk itu melihat Mellyza, mahkluk itu mengejar Mellyza.

Mellyza terus berlari hingga ia sudah tidak tahu lagi dimana ia berada. Nessyza menolong Mellyza dengan memberikan peta kemana ia harus menemui orang yang mengincar Mellyza.
“Terima kasih Nes,” gumamnya pelan sambil terus berlari. Setelah tahu mahkluk di belakangnya sudah tidak ada, ia menuju tempat yang ditunjukan oleh Nessyza. Letaknya tidak jauh dari tempat Mellyza sekarang berdiri.

Nessyza mengikuti Mellyza secara diam-diam, ia takut Mellyza terluka. Mellyza masuk ke dalam rumah kosong. Ia terkejut saat melihat rumah itu sangat terang. Mellyza masuk ke sebuah ruangan yang baginya cukup gelap. Ia duduk di kursi kecil dan bernyanyi lirih. Angin kencang tiba-tiba masuk di dalam ruangan itu, sesosok tubuh kecil keluar dari dalam angin itu. Cahaya merah keluar di tubuhnya. Mellyza tidak tahan, ia pingsan.
“Lyza, bangun. Mahkluk itu sudah tahu kita datang,” bisik Nessyza. Mellyza kemudian sadar, ia menemukan sebuah pedang bercahaya berada di dekatnya. Pedang itu ukirannya sangat indah, sehingga Mellyza mengambilnya.
“Dia belum tiba, dia bersama pasukannya,” kata Mellyza sedikit berteriak.
Mellyza benar, mahkluk itu mengumpulkan pasukannya. Mereka pasti akan berperang melawan Mellyza dan Nessyza.
“Aku ingin kita menang! Dengan kemenangan kita, aku bisa hidup kembali. Dan kalian juga akan menemukan banyak tubuh untuk dimasuki!” teriak mahkluk itu.

Waktu yang ditunggu telah tiba, mahkluk itu bersama pasukannya sudah berada di depan rumah kosong yang ditempati Mellyza dan Nessyza. Mellyza dan Nessyza yang berada di dalam berdoa dan menyiapkan senjata. Mellyza akan menggunakan pedang bercahaya itu.
3.. 2.. 1.. pasukan mahkluk astral itu menyerang dari berbagai penjuru. Nessyza menembakan pistol apinya ke 3 pasukan mahkluk astral itu. Whoos.. Doorr.. bunyi tembakan pistol itu membuat pasukan mahkluk yang mengincar tubuh Mellyza datang ke tempat mereka.

Semua berjuang mati-matian agar bisa hidup, walaupun itu hanya hidup di alam kedua.
“Rasakan ini… Hyaat…” Mellyza menusukan pedangnya ke-5 mahkluk astral dalam sekejap. Mahkluk itu segera berubah menjadi abu. Nessyza melindungi Mellyza dari 8 pasukan mahkluk astral yang mengelilingi Mellyza.
“Awas kau, ya! …” Nessyza menembakan pistolnya ke arah mahkluk yang mengelilingi mereka.

Pasukan mahkluk astral itu hampir habis, hanya berjumlah 5-6. Hal itu membuat mahkluk astral itu marah. Ia masuk dan menghadapi Mellyza serta Nessyza. Dengan cermat, Mellyza dan Nessyza berhasil menghindar dari serangan mahkluk itu.
“Matilah kau, Mellyza!” seru mahkluk itu sambil mengarahkan senjatanya ke arah Mellyza.
“Tidak akan, mahkluk aneh!” balas Mellyza menolak.
“Kembalikan aku ke bumi! Kembalikan aku ke tubuhku! Hyaat…” jerit Mellyza marah. Ia melompat, lalu menusukan pedang ke tubuh mahkluk itu. Mahkluk itu mulai melemas, Nessyza membantunya. Ia menembakan pistol ke arah mahkluk itu dan…
Dan mahkluk itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Mahkluk itu berubah menjadi seorang gadis kecil berambut panjang dengan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya.
“Kau masih ingat aku, Mellyza?” tanya gadis itu. Mellyza sejenak memandang gadis kecil itu.
“K..k.. kamu.. Eneria!” jawab Mellyza terkejut.
“Ya.. Aku sahabat lamamu! Relakan tubuhmu untukku, Lyza!” serunya.
“Tidak akan pernah, Eneria!!” teriak Mellyza. Ia mengambil pistol dari tangan Nessyza dan mengarahkannya ke arah Eneria.
“Maafkan aku Mellyza, aku hanya ingin hidup!” bisiknya.
Doorr… Mellyza menembak Eneria, Semoga apa yang kulakukan ini benar… ucap Mellyza dalam hati. Eneria tergeletak dengan penuh darah, ia memandang wajah Mellyza. Senyum mengembang di wajah Eneria, pelan-pelan matanya tertutup. Semua tiba-tiba gelap, alam semesta seakan-akan berputar.
Cahaya terang telah berada dekat dengan Mellyza.

“Uh, Mama…” panggil Mellyza. Mama Mellyza menoleh ke arah Mellyza yang sudah sadar.
“Mellyza, sudah sadar? Minum dulu, ya!” kata Mama Mellyza sambil meminumkan segelas air putih ke Mellyza.
“Selamat ya, cucu Nenek sudah menang,” ucap Nenek Mellyza penuh haru.
“Makasih, Nek,” jawab Mellyza.
Pyarr… kaca jendela ruang depan dipecah. Mellyza segera turun untuk melihat. “Surat?” gumam Mellyza sambil menoleh ke segala arah. Ia duduk di sofa ruang tamu dan membaca isi surat itu.

Dear Mellyza,
Selamat tinggal sahabatku. Maafkan aku telah berbuat begitu buruk kepadamu, mungkin kamu masih trauma dengan kejadian tadi. Aku mohon, kamu memaafkan aku. Kamu jangan kaget jika surat ini sampai kepadamu, sebenarnya Nessyza adalah roh nenekmu. Nenekmu pasti tak ingin kamu kenapa-napa, jadi dia membantu mu. Aku berutang budi padamu, karena kamu telah membebaskanku. Selamat tinggal sahabatku tersayang, I love you !
Salam,
Eneria Belllinda (Sahabatmu)
Mellyza terkejut, Nessyza adalah roh neneknya? Eneria iri kepada Mellyza? Ia telah memaafkan Eneria, dan mendoakan Eneria. Jedaar… bunyi apa lagi itu?
Mellyza mencari ke arah sumber suara, ia melihat rumah kosong di sebelah. Ayunan di depan rumah kosong itu bergerak, seperti ada yang menaikinya. Mellyza tersenyum, ia tahu siapa yang menaikinya.
“Sampai jumpa, Eneria! Aku sudah memaafkanmu..” ucap Mellyza. Ayunan itu berhenti berayun, kemudian

Mellyza melihat Eneria melambai ke arahnya.
Kakak Mellyza menghampiri adiknya yang sedang melambai.
“Hei!!” panggil kakaknya. Mellyza menoleh, senyum terpancar di wajahnya.
“Apa?” tanya Mellyza.
“Masuk!” jawab kakaknya. Mellyza masuk dengan wajah tenang.
Nenek Mellyza membisiki sesuatu ke Mellyza, “Kamu bisa mengalahkannya!”. Mellyza mengangguk. Ia teringat Nessyza. “Makasih, Nessyza,” kata Mellyza seakan tak tahu siapa Nessyza. Neneknya tertawa.
Seseorang tersenyum di jendela kamar Mellyza, ia mengucapkan selamat tidur pada Mellyza.
“Bye, Mellyza..” itulah suara terakhir Eneria sebelum ia pergi selamanya.
Akhirnya Eneria dapat hidup tenang, dan Mellyza juga. Ah, akhirnya masalah selesai!!

Cerpen Karangan: Pingkan Aulia Samara

Miskin Mendadak


Dylan seolah hanya terpaku pada majalah yang ia baca dan bawa ke sekolah. Dia tak memperhatikan teman-temannya yang ribut. Terganggu sih, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dia kaum minoritas di kelasnya. Begitu juga dengan yang lain. Mungkin yang ribut hanya kelompoknya Nina.
Sebenarnya bila ada kesempatan, sungguh ia ingin melempar bibir salah satu temannya(sebenarnya orang yang tidak sengaja disatukan dalam kelas yang sama) yang bernama Nina dengan bangku kayu. Tapi ia tahu, segalanya dilindungi hukum. Begitu juga dengan yang lain, malah saat doa malam salah satu temannya, Glory, berdoa agar karma selalu bersama Nina setiap saat. Kalau bisa, cepat-cepat almarhumah.
Nina anak brandal yang sok high class, ditaktor kelas, dan umm… sulit dikategorikan sebagai manusia karena tidak memiliki akal budi. Dia memang seorang yang kaya dan wajahnya cukup cantik. Tetapi karena kelakuannya membuat siapapun merasa berdosa bila menyebutnya cantik.

“Bisa kalian hening sebentar? Pak Heru sebentar lagi ke sini! Berisik sekali!” seru Belinda, ketua kelas. Saking kesalnya, tak heran dia sering mengumpat Nina dalam hati. Dan, tak jarang Linda disindir dan dimaki Nina karena Nina sirik dengan Linda. Entahlah bagaimana jadinya bila Nina jadi ketua kelas.
Pak Heru tiba di kelas dengan setumpuk kertas latihan. Dylan segera memasukkan majalahnya ke dalam loker. Pak Heru memanggil Dylan untuk membagikan latihan matematika itu ke teman-temannya. Setelah dibagikan, tentu saja dikerjakan. Dylan mengerjakannya dengan santai, tetapi dia mendengar desisan dan ternyata itu Nina. Biasalah, minta jawaban dengan berbisik-bisik. Tetapi Dylan pura-pura tidak mengerti dan melupakannya. Ia tetap fokus ke latihannya.

Akhirnya jam terakhir, matematika yang membosankan itu usai dan artinya saatnya pulang! Tumben sekali
Dylan lemas. Dia merebah di kamarnya dan kakak perempuannya, Diana. Dylan berbeda dengan Diana. Dylan lebih sembrono, tomboy, tapi lebih sabar. Tapi apapun itu, mereka sama-sama hobi tidur.
Sebuah sms masuk ke ponsel Dylan, ternyata dari Wendy, teman sekelasnya. “Entalah semua. Berita buruk bukan, gembira juga jahat sekali. Intinya, Nina kecelakaa! WOW! Kabarnya sih besok tidak masuk sekolah! :D ” lalu Dylan membalas, “O.”

Esoknya, semua heboh menceritakan Nina. “Katanya sih Nina shock dengar ayahnya bangkrut trus mau bunuh diri. Eh, nggak taunya nggak jadi ko-it! Katanya tulang ekornya patah otomatis dia nggak di sini lagi dan pindah ke SLB kalau dia sudah membaik.” Jelas Danish, orang yang terpaksa menjadi teman se-gank Nina.

“Terus kalian mau nyumbang berapa nih untuk Nina?” tanya Bu Henny.
Semua saling menoleh, “Um… sebenarnya saya mau nabung, Bu.” kata Dylan. Dia tidak mau nyumbang, begitu dengan yang lain. Semua langsung mendadak miskin. “Yang penting ikhlas kan? Nah, kita nggak ada yang ikhlas….” tambah Danish.
“Astaga… kalau begitu kapan kalian jenguk?” tanya Bu Henny lagi.
“Yah, kita sibuk banyak ulangan. Mau belajar.” jawab Tere. Semua mendadak rajin belajar. Segitu bencinya mereka dengan Nina. Nina juga merasa tersinggung karena tidak ada yang menyumbang. Mungkin yang menyumbang hanya kelas 7 dan 8. Seluruh kelas 9 tidak ada yang menyumbang. Biayanya kurang dan menyebabkan penyembuhan Nina tidak optimal. Itu tidak menyebabkan kelas 9 kasihan ataupun menyesal. Malah kelas 9A sampai 9D tentram tanpa Si Buas, Nina. Nina akhirnya sekolah di SLB. Dia sudah berubah. Dia sadar semua temannya membencinya sehingga tak ada satupun yang mau membantunya. Tapi, kenapa dia sadarnya setelah matanya tak dapat melihat lagi? Bukankah lebih mudah memahami saat bisa melihat?

Cerpen Karangan: Michelle Florencia

Persahabatan Yang Mulai Pudar


Aku adalah seorang laki-laki yang hidup dalam keluarga yang sederhana disuatu desa yang bisa dibilang maju, eli adalah teman skolahku waktu smp dan juga termasuk saingan beratku dikelas dalam masalah pelajaran,dan wafa adalah temanku sejak SD & SMP, aku dan wafa mulai berteman dekat sejak smp kelas 3,aku sering nginep dirumah wafa kalau sudah libur sekolah,pengalaman yang tidak terlupakan aku dan wafa ketika SD yaitu pernah berkelahi hanya karena masalah kecil dan jadi korban dari teman-teman yang senang melihat orang berkelahi.
Aku yang satu desa sama eli tidak begitu akrab dibanding aku sama wafa meski kita satu sekolah bahkan satu kelas waktu kelas 1&3.begitupun eli dengan wafa sama sekali tidak akrab,hanya kalau ada kepentingan mereka bicara.

Waktu kita beranjak kelas 3 entah ada keajaiban apa kita bertiga akrab,kami sering sms_an setiap kikta ada waktu luang,kalau aku smsan sma wafa selalu saja nanyain eli,begitupun kalau aku smsan sma eli selalu nanyain wafa,bisa dibilang kita bertiga satu paket yang tak terpisahkan.
Setelah sekian bulan dikelas 3,tiba saatnya semua siswa menjalani ujian akhir sekolah,yang menjadi penentu kelulusan.kita bertiga mulai mengurangi waktu bermain bahkan smsan,kita hanya smsan kalau sudah belajar,itupun sebentar tidak seperti biasanya yang bisa menghabiskan gratisan sms sampai 150 lebih.
Setelah beberapa hari ujian,tiba saatnya untuk bersantai dan menunggu pengumuman kelulusan
Disekolah diadakan bebagai macam perlombaan sebagai kegiatan untuk menghilangkan kejenuhan siswa kelas 3,aku mengikuti perlombaan futsal sebagai wakil dari kelas kami dan wafa juga termasuk didalamnya sebagai kiper.kami bermain kurang kompak tidak seperti tim lawan dan akhirnya kita kalah dengan skor 2-1.
2 mingggu berlalu tiba saatnya untuk melihat hasil pengumuman kelulusan,setiap tahunnya disekolah mengundang para wali murid untuk mengambil hasil kelulusan,aku yang berada dirumah berharap harap cemas sambil berdoa,aku hanya melakukan kegitan nonton TV serta tak lupa smsan dengan wafa dan eli,kami bertiga membahas masalah kelulusan,pertama kita berfikir pesimis ,gimana kalau gak lulus???kemudian eli memberi saran supaya berfikr positif dan menyemangati dengan sedikit sombong,kita bertiga mesti lulus dah,kemarin kan gak ada masalah dalam ujian.kemudian wafa menanyakan padaku kalau kamu lulus mau ngelanjutin sekolah dimana?aku jawab Dismk 1,aku tanya balik dan wafa menjawab kalau aku diSTM aja,wafa bertanya pada eli kalau kamu kemana li???kalau aku sih diSMA aja,enak tu deket,sahutku.

Jam menunjukan ke angka 12,ayahku tiba dirumah,dengan membawa amplop yang berisi pengumuman kelulusan,kemudian aku melihat hasilnya,alhamdulillah aku lulus.kemudian aku menanyakan kepada eli dan wafa hasil yang mereka dapat,ternyata keduanya sama-sama lulus.1mnggu setelah kelulusan saatnya pendaftaran siswa baru dibuka,aku mendaftar ke SMK,wafa ke STM dan eli ke SMA yang jaraknya cukup dekat dari rumahnya. Singkat cerita kami semua diterima disekolah yang kita inginkan masing-masing.
Waktu kelas satu persahabatan kita bertambah keakrabannya,kadang setiap ada waktu luang aku dan wafa menyempatkan kerumah eli hanya untuk bersenda gurau.12 bulan berlalu kami naik kekelas dua,tetap saja dengan keakraban yang tidak berkurang.waktu smsan kami bertiga membahas tentang pelajaran disekolah,wafa dan aku sependapat kalau dSMK banyak prakteknya, dan eli bilang kalau SMA lebih banyak teori dibanding prakteknya,ya kan yang sekolah SMA banyak ynag pinter jadi banyak teorinya,sahut wafa.

Akhir pekan tiba wafa mengajak aku untuk nginep dirumahnya,aku tidak bisa menolak soalnya tidak ada acara lain dirumah.Dirumah wafa aku saling curhat tentang semua yang kita alami entah itu disekolah dan dijalan,aku menceritakan masalah sekolah mulai dari lokasinya serta kepala sekolah yang sangat disegani karena ketegasannya.pertama wafa curhat masalah sekolahnya yang muridnya banyak yang nakal dan sering bolos sekolah,kemudian wafa bahas tentang persahabatan kita bertiga,entah ada angin apa wafa bilang kalau punya rasa cinta dengan eli,aku menanggapinya,pufh bro beneran,?gak bakal ganggu persahabatan kitah tah kalau kamu jadian sama eli?yaitu msalahnya bro,sahut wafa.aku takut persahabatan kita pecah hanya karena malah cinta,lanjutnya.kusarankan kalau kamu sangat yakin akan perasaanmu pada eli,beri dia perhatian lebih agar dia punya rasa yang sama.

6 bulan berlalu kita bertiga masih saling berbagi tentang keseharian yang dialami,dan wafa juga sudah memberi perhatian lebih pada eli.kemudian setelah menjalani psg wafa bilang kalau dia mau menggungkapkan perasaannya pada eli,kubilang ya sudah bro aku mendukung tapi kamu harus berjanji tidak akan menyakiti eli,tenang aja bro aku akan serius,sahutnya.doain ya bro,tambah wafa.rencananya wafa mau nembak eli pada hari sabtu sepulang dari sekolah.sabtu sore aku diminta nginep lagi dirumah wafa.pada malam harinya wafa curhat tentang kejadian tadi siang dengan eli,dia bilang aku udah nembak elis bro,aku balik nanya terus gimana bro?dia gak jawab bro,Cuma diem kata wafa dengan sedikit putus asa,tenang aja bro lain kali dicoba lagi mungkin berhasil.

sejak saat itu persahabatan kita mulai renggang hanya aku dan wafa yang sering sms_an,sementara eli mulai menjauh,kalau tidak sms dulu tidak mau sms.2 tahun berlalu kami lulus dari sekolah masing-masing.eli melanjutkan kuliah dijurusan ekonomi,sementara aku dan wafa bekerja,saat ini kami bertiga sibuk dengan urusan masing-masing,aku masih bisa menyampatkan sesekali kerumah wafa untuk nginep sementara eli sangat sibuk dengan urusan kuliahnya.

Cerpen Karangan: Herman Nuansyah

Senyuman Seorang Sahabat


Hari ini cuaca sangat cerah. Seperti hari-hari biasanya, aku menyusuri jalanan untuk berangkat sekolah, aktivitas pedagang dipinggir jalan dan para pengamen dilampu merah sudah menjadi pemandanganku setiap hari.

Letak sekolahku tidak terlalu jauh dengan rumahku, hanya saja gedung yang menjulang tinggi membuat rumahku tak terlihat. Hidupku berbeda dengan teman-teman sekolahku lainya. Mereka bisa saja mendapatkan apa yang mereka inginkan, tas bagus, sepatu baru, seragam bersih. Sedangkan aku, beralaskan sepatu buntut yang dibelikan ayahku waktu aku masih kelas 1 SMP dan untungnya sampai sekarang masih muat aku pakai walaupun kusam dan bolong. Seragamku pun lusuh karena ibuku tak punya strika. Tapi itu semua tak pernah menyurutkan semangatku manggapai ilmu, walau hanya berbekal beasiswa. Sekarang aku sudah duduk di bangku 3 SMA.

Ayahku bekerja sebagai kuli bangunan dan ibuku tukang cuci baju. Aku tidak memiliki banyak teman di sekolah karena mereka akan berfikir 2 kali untuk bergaul dengan orang sepertiku. Tetapi aku mempunyai seorang sahabat yang tak pernah malu dengan keadaanku.
“Yuki” Panggil mia, ya namaku Yuki Pertiwi dan itu sahabatku Mia susanti. Sejak dari SMP dia yang selalu ada buat aku, walau mia terlahir dari keluarga kaya tetapi dia tak malu berteman denganku. Prestasi yang kumiliki membuatku terkenal di mata guru-guru, tetapi tidak di mata temanku, mereka menganggapku rendah.
“hay, mia” sapaku pada mia, dia menungguku di gerbang setiap pagi, gadis berkaca mata ini sangat cantik, kulitnya putih, rambutnya lurus sebahu, badannya langsing. Dia juga pintar di kelas.
“lama ah kamu” ucapnya dengan senyuman, dia menggandeng tanganku dan mengajakku masuk. Inilah yang terjadi setiap kali aku berjalan dengan mia, siswa-siswa lainya pada ngeliatin. mereka melihat si cantik dan si kusam jalan bareng.
“kalau beteman liat-liat dong, anak kampungan kayak gini… iihh gak level” kata Lena yang berdiri di depan kelas. Lena ini adalah perempuan Ular bagiku, dia tak bosan-bosanya membuat ulah denganku, memang sih dia anak orang kaya, tapi gayanya selangit. Padahal kalau dibandingin sama Mia, dia kalah jauh, cantikan juga mia, kalau masalah kaya. Bisa di bilang Mia anak dari keluarga paling kaya di sekolah ini.
“mendingan lihat tu dirimu, ini sekolah bukan acara arisan ibu-ibu, menor banget tau.. iihh gak level” balas Mia, aku hanya tersenyum “Ayo yuki masuk”. “minggir” ucapnya pada Lena, Lena mulai memeganggi wajahnya, memastikan kalau yang diucapkan mia gak benar. Tapi ya emang benar. Dimanapun ada aku pasti ada Mia, walau terkadang takut kalau Mia ikutan tak punya teman gara-gara dekat sama aku. Tapi mia tak merasa takut dengan semua itu, dia berfikir anak-anak disini yang diandalkan uang, mereka mau berteman dengan orang yang punya uang, jadi intinya di sekolahan ini Money is Everything.

Bel pulang berbunyi, semua siswapun berseru, inilah yang mereka tunggu-tunggu.
“Yuki, aku ke rumah kamu ya?” ucap mia
“ngapain? Nanti kamu dimarahin lo” ucapku, Orang tua Mia memang sedikit tak menyukaiku, jadi setiap Mia ingin ke rumahku dia terkadang berbohong kepada orang tuanya.
“enggak kok, ya ya ya”
“tersereah deh” diapun melonjak kegirangan, entah apa yang dia suka dari rumahku, padahalkan rumahku kumuh, bau, kotor. Tidak kayak rumahnya yang kayak istana.

Setelah berjalan limabelas menit akhirnya sampai di rumahku, seperti biasa Mia langsung duduk di bawah pohon depan rumahku, mungkin itu yang dia suka, pohon yang berdiri rindang dengan daun yang berbentuk i love u.
“mau minun?” tanyaku. Mia hanya mengangguk. Dia mengeluarkan pisau kecil dari tasnya, dia membuat sesuatu di pohon tersebut.
“ini minumnya, maaf Cuma air putih” ucapku memberikan segelas air putih.
“gak apa-apa kok” dia tersenyum dan langsung meneguk segelas air putih itu.
“kamu ngapain?” tanyaku
“gak ada” katanya, lalu memberikan gelas yang tadinya penuh sekarang kosong, diapun kembali mengukir sesuatu di pohon, akupun melihatnya. Dia mencoba menggambar sesuatu.
“kamu mau gambar apa sih?” tanyaku penasaran
“liat aja kalau udah jadi” ucapnya, dia masih kosentrasi dengan gambarannya.

Setengah jam berlalu, akhirnya mia menyelesaikan gambarannya.
“wow” seruku, setelah melihat gambaran mia.
“bagus kan?” tanyanya. Aku mengangguk. Dia menggambar sosok 2 gadis yang bergandengan tangan dengan menggunakan seragam sekolah. Disana mia juga mengukir nama kita berdua. Aku mengambil pisau kecil yang di pengang mia.
“mau ngapain?” tanyanya. Aku kemudian mengukir sebuah tulisan di bawah gambar mia
“SAHABAT SELAMANYA” ucap mia, membaca ukiran yang aku tulis, dia tersenyum dan memelukku. Akupun tersenyum. Ku pandang langit biru, Tuhan masih menyayangiku, engkau memberikan sahabat terbaik untuku.

Hari menjelang sore, supir pribadi mia’pun tiba. Tidak, aku salah. Ternyata yang datang adalah ibu Mia.
“sore tante” sapaku pada ibu mia, aku berniat menyalaminya, tapi dia menghiraukan uluran tanganku.
“mama” ucap Mia, dia merasa tak enak hati dengan sikap mamanya.
“sore” jawabnya ketus. “ayo pulang, kenapa sih kamu ke tempat kayak gini”
“iya iya” jawab Mia sebal
“semenjak kamu temenan sama anak kumuh ini, kamu suka mbangkang mama” akupun hanya terdiam mendengar ucapan mama Mia.
“apaan sih ma, udah pulang yuk” ajaknya. “maaf ya Yuki, aku pulang dulu” ucapnya padaku, sambil tersenyum, akupun membalas senyumannya.

Mobil mewah Mia pun menghilang, aku masih duduk di bawah pohon. Entah mengapa aku mulai menyukai tempat ini, kupandangi gambaran Mia, hari mulai Larut. Aku masih duduk di bawah pohon menantikan ayah dan ibuku pulang. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, akupun beranjak dari bawah pohon itu dan berlari menuju rumah, aku berhenti sejenak dan memalingakan wajahku menatap gambaran Mia. Hujan bertambah deras, akupun berlari masuk rumah. Jam 10.05 malam, ayah dan ibuku belum pulang. Pikiranku kacau, tak biasanya selarut ini mereka belum pulang.
Akupun tertidur di kursi ruang tamu, malam ini dingin sekali.
“ayah… ibu…” aku terus memanggil nama mereka
“ayah… ibu…” sebuah tangan menepuk bahuku, perlahan ku buka mataku.
“budhe, kok disini” tanyaku pada budheku yang tinggal jauh dari keluargaku, mengapa dia ada disini. Ternyata aku ketiduran sampai pagi. Budhe masih tak menjawab pertanyaanku. Akupun melihat sekeliling, seingatku aku tertidur di ruang tamu, kenapa sekarang aku dikamarku.
“yuki…” suara budhe terdengar menyedihkan. Ku dengar suara banyak orang di luar, suara orang menangis. Akupun beranjak dari ranjangku, aku berjalan keluar. Ku tatap budheku, wajahnya pucat seperti habis menangis, ku baka pintu kamarku. DEG… jantungku berdegup kencang, tubuhku lemas. Seperti dunia ini hancur. Ku lihat sepasang jazad tertidur dengan lelap.
“ayah… ibu…!” akupun berteriak setelah melihat jazad kedua orang tuaku. Orang-orang disitupun mencoba menguatkanku. Akupun menangis.
“ayah… ibu… kenapa kalian ninggalin aku” ucapku di depan jazad mereka. “ajak aku ayah, ibu” pikiranku kacau.
“yuki” panggil seseorang, ya Mia, dia datang kerumahku. Dia juga kaget melihat semua itu. Dia memelukku, akupun menangis dalam pelukannya.
“ayah… ibu…” aku masih memanggil mereka. Kenapa tuhan lakukan ini semua padaku. Mia melepaskan pelukannya.
“yuki, yang sabar ya” ucapnya. Aku masih tak percaya dengan semua ini. Kupukul-pukul dadaku, karena aku mulai sesak dengan semua ini. Mia menahan tanganku. Dia menangis. Tuhan… teriakku dalam hati.

Sebulan setelah kepergian Orang tuaku, aku mulai tak semangat menhadapi hari-hariku. Yang kulakukan hanya duduk terdiam di bawah pohon. Ku lihat gambaran Mia mulai rusak. Tangan yang bergandengan menjadi hilang. Entah tandanya apa. Wajah kami yang dulu terlihat bahagia, sekarang pudar.
Aku sudah tak sanggup dengan ini semua.
“yuki” panggil mia, dia hari datang ke rumahku. Karena mama’nya mia yang tak suka denganku, Mia mulai tak diizinkan untuk kerumahku.
Aku masih terdiam. “yuki” panggilnya lagi. “yuki” dia mendekatiku, aku masih tak bergerak dari posisiku. Dia memelukku. Aku menangis.
“Mia, kenapa hidupku kayak gini, tuhan tak adil padaku?” tanyaku pada mia
“yuki, kamu gak boleh ngomong kayak gitu” ucapnya
“tapi emang kenyataanya kan?” akupun terisak
“ki, Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya, semua telah tertulis, hidup mati kita tuhan telah mengaturnya, kebahgiaan, kesedihan. Semua telah dalam rencana tuhan. Tanpa adanya kesedihan kita tak akan tau rasanya kebahagiaan. kita terlahir di dunia ini tanpa apa-apa dan kita akan kembali pada-Nya lagi” jelas Mia. Aku terdiam, memang apa yang mia bilang.
“ki, tak ada yang salah dengan rencana tuhan” mia tersenyum, aku menatap senyuman itu. Ah senyuman seorang sahabat yang akan selalu terkenang.
“Terimakasih Mia” ucapku. Mia mengangguk.

“Mia!” teriakku. Melihat mia tertabrak mobil. Tuhan, rencana apalagi yang engkau tuliskan. Ambulanpun membawa Mia ke rumah sakit. Mia masih sadar, sayup-sayup berusaha membuka matanya, tetapi dia harus mendapatkan pertolongan cepat. Pihak rumah sakit menghubungi keluarga mia. Tetapi Mia masih sempat memberikan senyuman untukku. Oh akankan aku kehilangan senyuman itu. Tidak! ini tak boleh terjadi.
Dokter menjelaskan kondisi Mia kepada orang tuanya, aku mencoba mendengarkan pembicaraan mereka.
“maaf pak, Mia harus segera mendapatkan donor Jantung secepatnya, Jantungnya rusak karena kecelakaan tadi, dan mungkin hanya dapat bertahan beberapa jam lagi” papa mama Mia menangis.

Apa yang harus aku lakukan, kutatap wajah mia yang terbaring. Mama dan papa Mia masuk ke dalam, entah aku merasa bersalah pada mereka. Aku hendak keluar meninggalkan mereka. Tapi tiba-tiba Mama mia memelukku. Akupun membalas pelukanya. Kemudian aku keluar dari ruangan Mia. Ku lihat wajah mia dari jendela. Aku tersenyum. “Aku bahagia mengenalmu Mia” ucapku.
Saat itu aku bertemu dengan Dokter yang merawat Mia. “Dok, tolong lakukan operasi secepatnya buat Mia” ucapku
“tapi, kita belum dapat pendonornya dik” ucapnya
“ada Dok” akupun meninggalkan tempat itu
Aku berlari keluar rumah sakit. Lari dan Lari. Ini pilihanku, aku berhenti di pinggir jalan. Ku lihat Mobil melaju dengan cepat, ini pilihanku. Aku berlari dan berhenti. Ku tutup mataku. Suara klakson mobil tak kuhiraukan. “Terimaksih Mia” kata terakhirku. Tubuhkupun terhempas tertabrak mobil. Ayah… Ibu… Jemput aku. Aku takut tersesat.

Sellesaii (Ganbatte!!!)

Cerpen Karangan: Anitrie Madyasari

Rahasia Tonny


Namanya Tonny, ia adalah murid berprestasi di Tazmania Junior High School. Yaah.. Dia termasuk anak yang pintar. Aku saja yang peringkat ke 2 tidak bisa mengalahkan kepintarannya. Apalagi orang lain, hehehee.. O iya, aku John, sahabat Tonny dari kecil hingga sekarang. Aku sudah tahu betul sifatnya. Dia itu.. misterius sekali. Kalau aku tanya dan mengejek kalungnya yang di rangkai dengan kerang kerang kecil, dia tidak akan menjawabnya. Dia malah akan marah besar, dan memusuhi orang yang membicarakan kalungnya itu. Aku pernah dimusuhi dia, sampai sekitar 2 minggu!

Di waktu istirahat, aku pergi ke kantin bersama Tonny. Dia masih menggunakan kalung itu ternyata. Karena penasaran, aku tanya dia “Tonny, kenapa sih kamu selalu menggunakan kalung jelek itu? Kurasa kamu aneh, kamu itu seperti banci” Tonny tidak menjawab pertanyaanku, ia langsung pergi meninggalkanku di kantin. Apakah aku membuatnya tersinggung? Sekarang aku merasa bersalah kepadanya. Apa ada rahasia di balik semua ini? Kalaupun ada, kenapa dia tidak cerita padaku, sahabatnya dari kecil hingga sekarang? Ya ampuun, aku jadi bingung sendiri.

Sampai di rumah, aku segera mengambil handphone ku dan ku kirim SMS pada Tonny. Aku mau meminta maaf kepadanya. Dan sebagai permintaan maaf, ku ajak dia ke pantai Tazmania. Alhasil, Tonny memaafkanku! Hiihihiii.. Dia memaafkan ku karena dia sangat suka di ajak ke pantai. Katanya, Pantai Tazmania mengingatkannya pada momen yang berharga dalam hidupnya sekaligus menyedihkan. Hmm.. Aku tidak mengerti kata-katanya itu. Kira-kira apa artinya, ya? Mungkinkah itu berkaitan dengan kalungnya?
Esok harinya, aku pergi ke Pantai Tazmania bersama sahabatku, yaitu Tonny. Dia senang sekali karena sudah lama dia tidak berkunjung ke pantai ini. Hehehee, saking sibuknya dia menjadi ketua IOS (International Organization for Student). Sesampainya di pantai, dia langsung menyewa papan selancar dan berlari ke lautan. Daaaan… dia menggunakan kalung tak berguna itu?! Tonny, Tonny… Dia membuat aku penasaran saja kenapa dia selalu menggunakan kalung itu. Akhirnya kupancing emosi nya dengan cara berlari ke arah Tonny dan ku tarik kalungnya dari lehernya. Dia langsung mengejarku secepat mungkin, dan tiba-tiba dia berteriak, “John!!! Jangan kau ambil kalung berharga itu.. Kumohon, karena itu pemberian dari Almarhum ibukuuu” Aku kaget, dan tiba-tiba aku ingat kejadian itu.. 6 tahun lalu.. Tonny juga menceritakannya padaku

6 Tahun yang Lalu di Pantai Tazmania…
John kecil (aku) dan Tonny kecil bermain pasir di Pantai Tazmania, lalu ibunya Tonny datang membawa kalung yang di rangkai dengan kerang kerang kecil buatannya dan memberikan kalung itu pada Tonny. “Tonny, pakailah kalung ini setiap hari. Maka ibu akan mengingatmu jikalau ibu meninggal nanti, nak..” begitu kata ibunya. “Baik ibu, aku akan memakainya setiap hari. Agar ibu senang dan selalu ingat aku jikalau ibu meninggal nanti ” sahut Tonny kecil. Tiba-tiba… air laut menjadi surut dan… terjadi Tsunami di Pantai Tazmania!!! Ibu Tonny menyuruh John kecil (aku) dan Tonny kecil berlari secepat mungkin, sementara ibunya menyelamatkan manula dan wanita hamil di belakangnya.
Wanita hamil dan manula selamat, sementara ibunya Tonny terbawa arus air di pantai. Tonny menangis histeris begitu mengetahui ibunya meninggal di tempat kejadian (Pantai Tazmania). Tonny kecil berbicara pada kalungnya, “Ibu, walaupun kau telah tiada, ibu selalu mengingatku, kan? Kalau aku pakai kalung ini setiap hari, ibu tak akan lupa kan? Iya kan? Jawab, buuu… huu, hu, hu,” Waktu itu aku hanya bisa berdiam diri saja..

“Sekarang kau puas, kan?! Aku sudah ceritakan semuanya padamu sekarang! Cepat kembalikan kalung itu, John..” pinta Tonny. Akhirnya aku ingat kejadian itu, dan aku mengembalikan kalungnya. “Aku minta maaf, Tonny. Aku tidak ingat kejadian itu, sekali lagi maaf ya Tonny,” sahut ku. Akhirnya aku sadar, selama ini aku berprasangka buruk pada nya. Sebenarnya Tonny itu ramah, namun dia masih mengingat kejadian itu. Jadi, dia terlihat seperti orang yang misterius..

Cerpen Karangan: Aulia Fitriani

Emak, Gue Jadi Artis!


“Mak, liat deh tuh!” kataku seraya menunjukkan jari ke arah televisi.
“Apaan sih?” timpal Emak yang penasaran.
“Itu loh mak acara di tipi. Noh, emak liat kan? Duh mak, hati gue serasa diiris-iris liat begituan. Untungnya kita nggak separah dan bersyukurnya lebih beruntung di banding mereka-mereka ye mak.” Cerocos gue dengan hati miris sembari mantengin layar televisi yang lagi nayangin acara orang pinggiran.
“Oh, emak sih udah biasa liat kek gituan. Namanya juga Indonesia Yan, ada semacam kejengkingan ekonomi gitu, yang kismin yah kelewat kismin, lah yang kaya, hartanye udah kaya tai ayam dah, berceceran dimana-mana. Ckck.” Tanggap emak sok udah kaya pejabat gedongan yang gede omong.
“Mak, sebenernye kita ini kegolong apaan si? Kismin apa Kaya?”
“Pikir aja sendiri deh lu! Udah mau jadi sarjana masa tanya begonoan. sia-sia deh uang emak buat nyekolahin elu selama ini.” Cibir emak dengan gaya tengil yang bikin gue empet plus pengen ngerampok uang di dompet nya yang selalu dikempit diketiaknya kemanapun emak pergi.
“Mak, emak cari duit susah kaga?” tanya gue lagi. Ya seperti sebelum-sebelumnya, pertanyaan yang gue lontarin pasti konyol semua. Udah gitu, nggak berbobot lagi.
“What? Elu kalo tanya emang nggak pernah mikir dulu yah! Cari duit ya susah lah!!! Udah ah sini remotenya! Emak mau liat sinetron kesayangan emak dulu.” semprot emak.
Serobotan tangan emak langsung meraih si remote yang sering bikin gue sama emak berantem gegara keinginan nonton acara tv gue sama emak itu berbenturan. Si emak pengennya tuh nonton sinetron yang kaga pernah kelar dan berbelit-belit sampe jutaan episode. Terus, si emak juga kadang pengennya nonton ftv yang hawa-hawanya romatis gitu biar terkesan jadi daun muda lagi. Atau juga si emak pengen nonton acara tv yang bener-bener aneh kaya acara siluman di stasiun tv berlogo ikan asin yang khayalannya udah bener-bener kronis. atau kalo nggak, emak pengennya nonton acara gossip artis yang bikin dosa jadi bejibun. Nah, Sedangkan gue, gue itu sukanya nonton acara yang berbau kehidupan banyak orang melarat alias nggak mampu, tujuannya biar gue agak mensyukuri nikmat yang udah Tuhan berikan ke gue. Tapi kata emak sih kalo gue nonton acara kehidupan orang terbelakang gitu, bukannya tambah mensyukuri nikmat, tapi malah tambah bikin melarat. Huft, persepsi maniak sinetron tuh!

Dasar emak-emak di seantero jagad raya emang seleranya begonoan. Nontonin acara enggak berbobot! Iyuh iyuh semua lagi. Padahal di sinteron/ftv gitu Artis-artisnya jelek-jelek loh, nggak ada yang cantik! Tapi anehnya emak masih juga mantengin gituan tiap hari sampe matanya pindah ke pantat. Huh, Mendingan juga mantengin gue, anaknya emak yang tercantik jelita sedunia ini. Udah menarik, gratis, nggak perlu bayar tagihan listrik pula. Cekikik.

Eits, kok tiba-tiba gue punya pikiran buat bisa ngebuat emak bosen mantengin sinetron/ftv yak? Haha. Yes! Gue dapet ide cemerlang.

Matahari meleleh tiada tara. Keringat gue terpaksa harus mengucur deras di sepanjang jalanan ibukota. Benar-benar pengen gue tonjok tuh matahari! Nggak pengertian banget sih kalo gue sekarang lagi puasa, capek, dan dehidrasi. Udah gitu motor butut “PITUNG” gue pake mogok segala. Sialan emang.

Beginilah nasib mahasiswi dari Dork Gaskin Raya (Dorongan Keluarga Miskin Rada Kaya/alias pas-pasan) yang tiap harinya ngisap kentut metromini di sepanjang jalanan kota metropolitan. Dan setiap kali gue lewat jalan ini, pasti motor kuno gue mogok gegara ikut-ikutan puasa kaya si empunya. Hehe puasa bensin maksudnya.
Terpaksa deh kalau habis mogok, setiap hari gue juga harus dorong nih motor sampe rumah. Bayangin! Jauhnya kaya Indonesia ke Negrinya Raja Fir’aun yang banyak gurunnya itu.
Dan mengejutkannya kalau udah sampe rumah, si emak malah ngintip-ngintip gue dari jendela yang ketutup gorden sambil cekikikan kaya orang gokil karena ngeliat gue ngedorong motor tua nan renta itu. hiks. Emak kayanya seneng banget kalau anak tercantiknya menderita begini. “Mak, anak cantik lu yang ini masa harus tiap hari perang sama matahari terus? Kan kulit anak lu bisa jadi item, kusut, jelek, entar enggak imut lagi, enggak cantik lagi, enggak mungil lagi, enggak unyuk lagi, gimana makkk? Lu kok jahat? Beliin mobil kek mak! Masa mahasiswi terkemuka paling bersinar kaya gue harus bolak-balik rumah kampus sama motor peninggalan engkong buyut? Entar keseksian gue ilang mak… huah emak, gimana?” omel gue dalam hati kalo udah bener-bener empet sama kelakuan emak.

Emak emang suka gitu sih. suka kalau liat anaknya menderita. Oh ya, Gue sering ngomel kalau gue pengen dibeliin mobil sama emak loh, tapi menurut gue sih itu permintaan bagaikan kerupuk yah, kena angin sedikit udah langsung MLEMPEM. Boro-boro ah si emak mau beliin gue mobil, beliin gue bensin alias ngasih gue duit buat beli bensin aja nggak mau! Dia bilang gini kalau setiap gue minta uang bensin ke emak. “Ngapain elu minta uang bensin ke gua? Bukannya elu udah emak kasih pesangon tiap harinya buat lu ngampus?”
Setelah emak bilang gitu sama gue, gue jawab gini, “Emak! Emak itu ngasih uang ke gua Cuma pas-pasan. Masa anak kuliahan yang pake kendaraan pribadi Cuma di kasih pesangon goceng doang? Itu sih Cuma cukup buat nasi kucing sebungkus mak…!! emak nggak gaul ah, masa anak tercantikmu ini mau disamain sama kucing sih?.”
“Preeettt lu ah. Goceng kalo di kampung emak dulu tuh dapet 10 bungkus nasi kucing, .. Udeh lah, lu jangan kebanyakan cing cong! Tinggal sekolah yang bener. Biar bisa cari duit sendiri. Dan yang terpenting, mulai dari sekarang, lu itu mulai idup prihatin!”

Lah itu kebiasaan emak! Sukanya ngebandingin masa lalu sama masa modern sekarang ini. mana ada nasi kucing 5 ribu di Ibukota dapet 10 bungkus? Huh. Resiko punya emak warga hasil urbanisasi sih. Aslinya orang ndeso, hidup dikotapun jiwa ndesonya selalu membekas. Ya termasuk Pelit, Medit, bin Priatin, itu sih ciri-ciri orang ndeso banget!!! Meskipun aslinya prinsip pelit, medit, bin priatin itu baik. Tapi kalau diterapinnya di jaman millennium dan diperkotaan begindang, apa kata dunia? mau mati sengsara?

“Mak, plis mak, besok gua di kasih uang bensin ya mak? plis mak yana mohon! Untuk yang pertama dan terakhir kalinya deh. Suer.” Pinta gue dengan wajah memelas.
“Ogahhh! Duit emak nanti nggak bisa buat bayar tagihan listrik kalo ngasih elu uang bensin.” Jawab emak sambil motongin tempe mendoan. Jiah si emak pasti mau bikin mendoan nih. Menu kesayangan gue. cihuyyyy.
“Minta uang bensin nya Cuma besok doang kok.”
“Enggak bisa titik. Kalo emak udah bilang “A” ya “A”! bukan ‘B’ bukan ‘C’! Kalo emak nggak bisa bayar listrik gara-gara elu minta uang bensin, ntar emak nggak bisa nonton tipi dongg. Mau bikin emak mati kaku sehari nggak nonton tv?”
“Ya ampreettt emak. Tega banget dah! Anak sendiri nggak dipikir, malahan mikirinnya TV mulu. Makan deh sono sinetron, mak! makan sono makan…” jawab gue sambil memalingkan wajah dari emak.
“Iya lah lebih mikirin sinetron di banding elu. Sinetron bisa bikin emak ketawa. Lah kalo elu? Bisanya Cuma bikin emak nangisss terus.”
Mulai deh gue tercengang dengan jawaban emak satu ini. Agak nusuk sih. maksudnya apaan yah ngebandingin gue ama sinetron? Kalau masalah belum bisa bikin emak ketawa bahagia emang gue belum bisa, tapi kalau yang bikin si emak nangis? Wah. Perlu gue selidikin nih.
“Maksud emak? Jadi selama ini? emak nangisin gue? duh mangap deh ya mak.. gue bener-bener nggak tau.” Gue langsung dah tuh nggelosor ke tanah, niatnya mau nyium kaki emak biar dosa gue ke emak bisa terhapuskan semuanya.
“nangis terharu nak. Bagi emak itu, lu selalu bikin hati emak teriris. Gimana enggak? Lu itu satu-satunya harta berharga yang masih emak punya sampe sekarang. Lu itu titipan Tuhan yang paling emak sayangi. Lu itu kenangan yang terindah dari almarhum babeh elu. Dan yang paling paling paling paling bikin emak nangis kejer tapi terharu itu gegara lu anak emak paling neerima-an, sederhana, enggak pernah neko-neko, jarang minta-minta hal-hal aneh kaya anak cewek jaman sekarang, kecuali satu permintaan terbesar elu yang bikin emak puyeng seribu keliling sampe sekarang. Oya, mangap ya nak kalo emak kaga bisa kasih elu uang bensin, emak bener-bener nggak punya duit nih sekarang, duitnya Cuma cukup buat makan, sama bayar listrik hehe.” Ucap emak dengan mata berkaca-kaca. Pengakuan emak ini sungguh bikin hati gue berbunga, terharu, bangga, dan prihatin.
“Yoooiii mak nyante aja kali ama gue, masalah uang bensin, gue sih terserah, gue masih bisa puasa. Dan gue nggak minta banyak sama emak kok. Gue Cuma pengen emak selalu ada buat gue. selalu ada di sisi gue. hehe.” Eh mak, yang emak maksud satu permintaan terbesar gue yang bikin emak puyeng itu apaan sih? perasaan, gue selama idup nggak pernah minta ngerengek sama emak deh.” Balas gue bingung.
“Ya, Yan. Emak juga pengen lu selalu ada disisi emak.” Itu loh permintaan lu yang katanya pengen dibeliin mobil sama emak! Huff, bikin emak musmet aja tauk.” Aku emak.
Suer gue pengen ngakak emak bilang begitu.
“Hahahahahahaha.. emak ada ada aje makk makk. Gue kan Cuma becandaan minta dibeliin mobil sama emak. Hehe. Tapi kalo emak mampu sih, gue juga mau mak dibeliin mobil. Mobil apa aja dah mak. minimal ya mobil tempur lapis baja anti peluru milik TNI AD deh mak.” rengek gue
“Au ah.. Lu mah lama-lama ngelunjak.” Jawab emak bangkit dari kursinya sambil nenteng baskom yang isinya tempe mendoan plus adonannya. Siap gorengggg ya mak!

Nyes banget dah ini. Motor jelek peninggalan engkong buyut gue mogok lagi. Gila deh ah, masa gue mau nuntun nih motor sampe ke rumah lagi? Puasa cuyyy…
Gue akuin dah. Ini semua emang gara-garanya emak. Emak nggak kasih uang bensin lagi sama gue!
“Yan, sendirian aja nih panas-panas gini?” tanya seseorang di balik punggung gue.
“Eh elo ya wik. Wah gue berduaan kok wik. Nih sama motor tua gue.”
“Setia ya tu motor sama lo? haha. pasti mogok lagi ya Yan?”
“Ya iya lah mogok. Kehabisan bensin nih Wik. Haha.” jawab gue sambil cekikikan menderita. Berusaha bahagia walaupun aslinya nangis batin.
“Kasiaaan idup lo yan yan. Tiap hari harus ngedorong nih motor yah? Haha minta ganti motor dong sama emak lo biar lo nya nggak kesiksa banget begini.”
Gue Cuma bergidik doang nanggepin pernyataan si Owi. ngomong doang sih elu gampang.
“Enggak sih wi. gue nggak mau minta motor baru sama emak. Gue mah mintanya mobil lapis bajanya TNI AD wi. biar nggak kesengat terik matahari.” Balas gue sambil berjalan nuntun Motor mogok gue, diikuti si Owi yang berjalan di samping kiri gue .
“Hahahaha. Sampe ayam mbrojolin curutpun lo kagak bakal mampu beli tuh mobil impian lo.” ledek Owi.
“Alah sialan lo wi. bukannya ngedukung malah ngeremihin gue gitu. awas deh lo, gue bakal ngebuktiin sama elo kalo gue juga bisa beli mobil TNI AD, kalo perlu sih sama pesawat tempurnya TNI AU, oh ya kalau bisa sih beli kapal selamnya TNI AL.”
“Tambah ngelantur aja dah lu cuy.” Kata Owi tambah keras cekikikannya.

Owi ini sahabat gue dari ucrit. Asyik sih anaknya. Baik. Sederhana. Enak di ajak curhat masalah hidup gue yang suram ini. pokoknya Owi itu sosok sahabat terperfect dalam hidup gue.
“Wi, kita mampir dulu yuk ke warteg sono. Gue laper banget.” ajak gue.
“Ayo.”
Gue sama Owi langsung aja melipir ke pinggir jalan. gue parkirin dulu di tempat teduh ini motor butut biar nggak kepanasan. Si Owi nunggu gue.
“Mba, nasi sama tempe satu piring yah.” Pesen gue seramah mungkin. Siapa tau kalo gue ramah, si embak embaknya mau kasih nih rames Cuma-Cuma binti gratis.
“Itu doang mbak? Minumnya apa?”
“Iya mbak. Minumnya aer putih aja.” Jawab gue lebih ramah dari yang tadi.

Sambil nungguin mbak wartegnya ngambilin gue makan, gue bincang-bincang dulu tuh sama si Owi.
“Wik, lo kaga makan?”
“Nggak. Nggak laper Yan.”
“Ya udah.”
“Yan? Lo nggak puasa?” tanya Owi. suer ni bocah tau aja kebiasaan gue.
“Nggak wik. Lagi males puasa. Hehe.”
“Ooohh..”
“Wik?” panggil gue.
“Apa?”
“Gue mau sharing nih sama lo. boleh kagak?” tanya gue.
“Jelas boleh lah. Emang mau sharing apa lo sama gue?”
“Gini wik, lo bisa bantuin gue kaga?”
“Bantuin apa?”
“Bantuin gue biar jadi artis wik. Hehe.” Aku Gue sejujur mungkin.
“Hahahhahaha. Elo pengen jadi artis? Wkwk. Nggak mungkin bisa Yan hahaha.” Balas Owi tertawa lebar.
“Iya wi. soalnya gue pengen bisa di liat sama emak gue di tipi jadi pemain sinetron wi. tau sendiri kan? Emak gue itu demen banget yang namanye sinetron ataupun ftv. Kayanya sih ya, kalo emak gue nonton gue di sinetron/ftv kesayangannya, dia bakalan ogah dah nonton sinetron. Dia kan enggak suka liat muka gue yang cantik ini di tebar di depan umum.” terang gue ke Owi. owinya hanya termangu-mangu ngedengerin ocehan gue.
“Hahaha tambah ngelantur dah lo. Ngapain sih pake acara bikin emak lo bosen sama sinetron? Enggak penting banget.” tanggap owi
“Bagi lo emang nggak penting wi. tapi bagi gue? Ini antara HIDUP dan MATI wik. Kalau emak gue kecanduan terus sama si sinetron gaje di tipi, secara otomatis, tagihan listrik emak jadi tambah banyak! Uangnya jadi makin kisut. Nah, gue mau makan apa kalo duitnya di hambur-hamburin buat sinetron doang? Dan parahnya, kalo uangnya Cuma di kasih ke petugas PLN terus-terusan, badan gue bisa kurus kering gegara tiap hari harus ngedorong tuh motor dan makannya sama tempe terus hahaduh..”
“Hahaha parah amat dah idup lo. oke deh sebagai temen yg berbudi pekerti luhur, gue mau bantuin lo. tenang aja, gue punya kenalan produser kok.” Tawar Owi. wah, gue mendadak nggak jadi laper nih. Hore akhirnya gue mau jadi artis!! Ini semua gue lakuin demi hidup gue yang tergantung banget sama tagihan listrik. Padahal sebenernya, gue sama sekali nggak ada niatan buat jadi artis sebelum kepaksa sama keadaan kek gini.
“Wah thanks banget ya wik. Yuk ah kita pergi aja dari sini. Udah kenyang nih.” Gue langsung narik tangan Owi dengan gesit biar embak-embak wartegnya kagak tau. Motor gue di parkiran ajaibnya bisa nyala lagi. Jadi gue sama owi pulangnya nggak jalan kaki, tapi boncengan naik motor tua.
“Eeeehhh neng, mau kemana? Kieeee nasi tempenya udah jadi… ehhhh” teriak embak-embak warteg dengan cempreng dan medoknya jelas terdengar di kuping gue.
“Hahaha si yu neks taim mbakk… Babayyy…” jawab gue nggak kalah teriak-teriak, sambil dadah-dadah ke embak warteg dari atas motor.

AUTHOR POV
“Ini sih namanya nyiksa gue banget si Yana. dan bodohnya, gue mau aja ngebantuin hal nggak lazim kek gitu, pake ngomong punya kenalan produser lagi. Wah semprul dasar. Mumet mumet mumet.” Kata Owi sembari menyeruput secangkir kopi pahit. Tidak lupa pula menghisap rok*k 76nya yang tinggal separo itu.
“Emang nggak pernah bener kalo temenan sama yang namanya Yana. keinginannya udah kaya orang ngidam aja. Mending kalo gue suaminya…” Lanjut Owi tiba-tiba ngelantur.
“Tunggu tunggu… gue telpon aja temen lama gue. Dia kan kerjanya di stasiun TV gitu. siapa tau dia punya kenalan sutradara atau produser.”
Owi lalu mengambil handphonenya di meja. Kemudian menelepon temannya.
“Halo?”
“Iya halo. Gue owi.”
“Oh owi, ada apa?”
“Gini Ndra, lo bisa bantu gue kagak?”
“Bantu ngapain?”
“Lo punya kenalan produser nggak bro? kalau punya, kenalin dong sama gue. gue lagi ada perlu nih sama produser-produser.”
“Perlu apaan emang? Lo pengen jadi artis?”
“Yg bener sih temen gue pengen jadi artis, bukan gue. gimana? Punya kenalan produser nggak?”
“Punya wik. Lo bisa ketemu gue besok di kantor kerja gue. jangan lupa bawa juga temen lo yang pengen jadi artis. Biar sekalian dikenalin ke pak produser.”
“Oke ndra gue usahain. Makasih ya,”
“Sip.”
Sambungan Telepon Owi dan temannya terputus. Mendengar kabar tadi bahwa teman yang bernama Hendra punya kenalan seorang produser, Owi jadi agak mendingan dikit. Mumet dikepalanya udah lumayan entengan.

AUTHOR POV END
“Yaaanaaaa…” Panggil seseorang yang suaranya udah gue kenal banget dari kecil. pasti si owi. ngapain sih dia pagi-pagi budek gini udah ke rumah gue?
“Yanaaa!!! Itu ada si Owik di luar.. pergi gih sono…” seru emak ikutan nimbrung aja. Gue udah denger tau, mak! nggak usah pake teriak juga bisa kali.
“Iya mak…” gue segera lari ke luar rumah buat nemuin si Owik.
Sesampainya di luar rumah.
“Ngapa wi lo pagi-pagi udah kerumah gue? kangen banget yah?” tanya gue ke Owi.
“Dih. Nggak lah yaww. Gue kesini tuh mau ajakin lo ke suatu tempat.” Jawab owi.
“Wah. Kemana emangnya? Oke, gue mau.”
“Ehh tapi lo wajib mandi dulu biar agak kinclongan dikit. gue tunggu lo disini. Awas aja kalo lo balik masih kucel kummel begitu. Iyuh.” Kata Owi bikin perut gue mules aja.
“Iya deh iya. Tapi lo jangan pergi. Tetep aja disini!”
“Iya kok gue bakal tetep disini. Udah gih sono cepetan mandinya. Nggak pake Lama.” Usir Owi.

Menunggu Yana sedang mandi. Si owi duduk di teras rumah Yana sambil menghirup udara segar. Tapi karena Owi mendengar sebuah kebisingan dari dalam rumah, ia langsung saja mencari sumber kebisingan itu. sudah kebiasaan Owi sejak kecil keluar masuk rumah Yana. Owi menganggap rumah Yana ini rumah keduanya.
“Wihhh.. gue kira suara apa brisik banget, ternyata emaknya Yana lagi nonton tipi. Gue samperin ahh..” gumam Owi. owi juga udah akrab banget sama emaknya Yana.
“Mak serius amat nontonnya?” tanya Owi mengagetkan emak.
“Waduh. Ada lu to Wik. Iya nih emak lagi serius banget nontonnya, soalnya nih ftv ngena banget di hati emak yang terdalam. “
“Hahaha ciye bahasa emak. Mak, emak suka nonton ftv beginian ya?” tanya Owi.
“Iya dong wik. Sinetron juga emak suka kok.”
“ckck, kalo anaknya emak jadi artis plus main sinetron/ftv kek gitu, emak mau nggak?”
“Haduh. Maksud lu anak emak si Yana jadi artis?”
“Iya lah, siapa lagi.”
“Lah kalo Yana jadi artis, gue mah ogah nonton tipi lagi. Malu dah wajah anak gua di ekspos di depan umum gitu. udah kayak WC umum aja.” jawab Emak.
“Enggak mau mak anak nya jadi artis? Berarti nggak bakal nonton sineteron sama Ftv lagi?”
“Iye lah. Bahkan gua bilang tadi, gua gak bakal nyalain tipi lagi kalo Yana jadi artis. Tipi gua bakal gua cabut. Kenape sih lu tanya kek gitu wik? Kepo banget.” balas Emaknya Yana.
“Wah gitu ya mak? nggak papa sih. haha, calon wartawan boleh dong ngewawancarain model taun 70-an kek emak. haha.”
“ahaha. Bisa aja lu wik.”
“Ya dong bisa. Apa sih yang enggak bisa buat emak? Hahaha.”
YANA POV

Gini deh kalau Emak sama Owik udah nyatu, najis gilak. Bikin gue ilfeel ngeliatnya. Ngebanyol mulu dah, garing lagi. Si owi juga ngapain demen banget ngegoda emak gue.
“Ya udah mak. Owi pamit duluan. Sekalian anak emak Owi bawa. Kasian kan kalo udah cantik-cantik begondang kekurung di rumah kaya kambing lagi di pingit. “ pamit si Owi ke emak dengan gaya iyuh banget.
“Yoi dah sono lu bawa anak emak. Biar nggak bikin ribut di rumah terus. “
“Oke mak.”
“Ati-ati yah. Bawa motornya jangan ngebut.”

“Mau kemana wik kita?” tanya gue di sela-sela perjalanan.
“Gue mau ngabulin permintaan lo nih Yan.”
“Hem iya-in aja dah.”
Owi mengerem motornya. Sampai juga di tempat tujuan.
Lah ini sih kantor stasiun TV STV. Gue mah tau. Ngapain Owi bawa gue kemari? Huft. Nggak penting amat.
“Yuk ikut gue ke dalem.” Tarik Owi nggak ada lembut-lembutnya. Gue Cuma ngikutin owi jalan aja deh.
“Ndra, gue udah di kantor lo. cepet gue tunggu di lobi.” Suara Owi terdengar ketika ia sedang menelpon seseorang.
Setelah selesai menelefon temannya, gue langsung tanya,
“Siapa sih wik?”
“Udah. Tunggu aja.”

5 menit kemudian, datang seorang lelaki berkulit putih dengan pakaian jas rapih mendekati gue dan Owi.
“Wik.” Panggilnya. “sorry yah lama.”
“Wah hendra udah keren aja nih. Iya nggak papa.” Jawab Owi.

Buset, ini orang apa bukan? Ganteng, putih, tinggi, mancung, seksi lagi. Oh my god, sempurna banget.
“Makasih makasih.” Jawabnya dengan suara yang aduhai seksinya. Kalem banget mukanya. Tapi kharismanya luar biasa,
“Ini ya Wik, temen lo yang pengen jadi artis?” tanyanya sambil nunjuk muka gue.
“Iya ini. Haha. kenapa?”
Oh jadi ini maksudnya Owi ngajak gue kesini. Jadi dia bener-bener mau bantuin gue? haha sip deh. Gue seneng banget. semakin ada peluang buat ngabulin rencana gue.
“Lah muka abstrak-nggak berbentuk kek gini pengen jadi artis? Gue rasa sih kaga ada produser yang mau nerima ni curut jadi artis. Biarpun di bayar Satu EM”
Dih ni orang ganteng-ganteng mau gue timpuk kali yah? Sembarangan aja ngatain anak orang abstrak. Orang jelas-jelas cantik begindang di bilang kek gitu. ah gue kaga terima nih. Martabat coy martabat!!! Harga diri.
“Idih. Situ laganya bikin gue enek tau. Kaga beda jauh kek metromini. Ganteng kaga. Belagu banget.” semprot gue yang udah bener-bener emosi. Suer tuh semprotan nggak lucu banget, nggak sesuai hati nurani, padahal gue tadi bilangnya dia ganteng.
“Situ juga nggak cantik ye. Hu.” Ngapain si lu wi bawa ni makhluk ke kantor gue. hzzzz… mana ada dah produser yang mau nerima orang macam gini.”
“Yeee nyebelin banget sih lo. sok IYA aja lo.” bentak gue dengan nada tingggi
“udah deh ributnya. Yuk ah kita pulang aja Yan. Eh ndra sorry ya tingkah temen gue, maaf banget.” Nah ini wi Owi ngapain ngajak gue pulang? Duh, nggak jadi dong kenalan sama produsernya? Hm, tapi Kebeneran juga Owi ngajak gue pulang. Ogah kalo kelamaan sama orang belagu kaya Hendra apa sapa tuh ah.
“Iya udah sono… Ati-ati wik. Jangan lupa beli gembok ntar di jalan buat nggembok mulut temen lo itu,” cerocos si Hendra tengil yang bikin kuping gue panas.


Gue jadi kesel sama Owi. ngapain sih dia kemarin pake bawa-bawa gue ke temennya yang katanya mau ngenalin gue sama produser. Tau gitu, gue kemarin ngelanjutin ngebo biar badan gue agak gemukan.
Eh. Dipikir-pikir kok omongan temennya Owi nylekit banget di hati. Nusuk banget. masa dia nyumpahin kalo nggak mungkkin ada produser yang mau nerima gue jadi artis karena wajah gue enggak cantik juga nggak jelek alias abstrak. Beuh. Empet banget.

Oke, Sekarang gue bakal buktiin ke dia kalo gue bisa jadi artis tanpa bantuan temen Owi. gue bakal berjuang sendiri. Gue bakal ikutan casting. Tenang aja. Gue pasti bisa kok. Modal muka pas-pasan enggak jadi masalah, yang penting itu semangat! Iya! Semangat Yana…

“Lo masih kekeuh pengen jadi artis?” tanya Owi.
“Ya dong. Sekarang misi gue jadi artis bukan Cuma pengen bikin emak bosen nonton tv lagi, tapi juga pengen ngebuktiin ke temen lo yang namanya Hendra kalo gue juga bisa jadi artis.” Jawab Yana dengan nada menggebu-gebu. Penuh semangat patriotisme.
“Hahahahaha. Ternyata omongan Hendra lo masukin juga ke hati yah. Keren deh lo. salut gue. wkwk. Tapi gue nggak punya kenalan produser Yan. Gimana dong?”
“Ah nggak perlu punya kenalan-kenalan produser gitu. gue mau langsung ikutan casting aja. Gue mampu kok acting haha. anak teater ini loh bro…” pamer Yana.
“Oh iya yah. Gue lupa. Oke deh gue dukung lo. dukung lahir batin deh.”
“Sip dah. Makasih yah wik. Lo emang sahabat terbaik gue. hehe. Sahabat yang baik adalah sahabat yang mau nebengin sahabatnya kemanapun ia melangkah.”
“Yeeee.. bilang aja lo pengen gue anterin lo pas casting-castingan gitu. “ jawab Owi.
“Haha nggak boleh yah?”
“Wussstt boleh dong. Lo kan sahabat tersayang gue sampe mampus.”
“Hahaha iya iya deh.”

Yana yang didampingi Owi kemanapun pergi tak pernah merasa berputus asa ikut casting sana sini meskipun ujung-ujungnya di tolak. Dan kali ini, mereka sudah menginjakan kaki di casting ke 10nya Yana. demi membuat sang emak bosen nonton sinetron/ftv dan membuktikan kepada omongan Hendra, Yana amat gigih memperjuangkan keinginan untuk menjadi seorang artis, meskipun artis bukanlah pekerjaan yang diimpikan Yana.
“Gimana Yan? Lo gagal lagi?” tanya Owi yang sedari tadi menunggu Yana diluar ruang casting. Owi dengan wajah putus asanya seperti sudah kebal dengan jawaban “GAGAL” / “DI TOLAK”
“Gagal lagi wik.”
“Hufffttt…” owi menghela nafas panjang tanda lelah.
“Gagal ikut casting selanjutnya wik. Hahaaa. Gue bakal jadi artis. Gue lolos casting dan sebentar lagi ikutan main di FTV. Hahahahaha asikkkkk horeeeee…” Yana berjingkrak-jingkrak sampai kelepasan memeluk tubuh Owi.
“Wahahaha akhirnyaaaaa selamat yah yan.”
Yana melepaskan pelukan Owi.
“Iya wik gue malah jadi pemeran utama haha.”
“Wah gilak lo Yan. Emang judul FTVnya apaan Yan?”
“Judulnya Babuku Emang Jelek, wik.” Jawab Liliyana dengan wajah berseri-seri.
“Hahaha, berarti lo disini jadi majikan si babu nya kan bukan jadi Babu?”
Liliyana garuk-garuk kepala sambil meringis kuda.
“Jadi Babu wik. Hehehe.”
“Wakakakakakak. COCOK!” ledek Owi.
“Yeh owi kok gitu :’( ”
“Biarin wek. Emang lo cocok dapet peran babu kok. Haha.”

Hari pertama gue main ftv nih. Emak… gue mau jadi artis, dapet peran babu lagi. Rasain lu mak bakal mual liat anak lu nongol di tipi jadi pembantu. Ehehe. Nah kalo emak mual gitu, kan nggak jadi nonton tipi, secara otomatis tagihan listrik rumah jadi kagak terlalu gede-gede amat. Jadi gue nggak kemere-kemere amat.
Mandi cantik sudah, tinggal cus nih ke tempat syuting. Ciye dah anaknye emak bakalan syuting haha. tapi sebelum itu, gue mau nungguin Owi dulu nih. Sahabat terbaik gue yang udah mati-matian ikut berjuang sama gue buat jadiin gue artis.
Eh itu Owi!
“Ciye udah seger amat sih pagi-pagi begini, neng..” goda Owi. eh? Gue di bilang cantik? Syukur lah.
“Ya dong. Kan mau syuting.”
“Haha cie gaya lo syuting. Yuk ah nggak pake Lama. Kita cabut sekarang.” Desak Owi. langsung aja tuh gue nangkring di jok belakangnya Owi. terus si Owi udah siap aja tancap gas.
Yeahh!! Emak, I am shootinggg…
Sampai di lokasi Syuting, gue mandang takjub. Ternyata ribet banget.
“sukses ya Yan!” Owi member semangat.
“Siap bos.” Jawab gue lantang. Gue langsung berjalan k esuatu tempat dengan penuh aksi akrobatik (?). loncat sana loncat sini. Dan yakkk…
“BRUGGGG” aduh sial banget nih gue nabrak orang. Dasar nggak punya mata kali ya nih orang. Ckck. Orang segede gini main di tabrak aja,
Gue bangkit dari keterpurukan. Tangan gue yang kotor karena jatuh ke tanah gue usap sebersih mungkin. Idih masa cewek cantik ada debunya. Iyek engga banget deh..
“Mba kalo jalan yang bener dong. Atraktif banget sih. Autis.” Omel seseorang di depan gue. maksudnya apa coba marahin gue?
“Lo kali mas yang nggak punya mata.” Jawab gue keras.
“Oh lo lagi ternyata! Pantesannn gaje banget. autis.”
“Dih, sape elu? Sok kenal amat? Gini nih emang resiko orang cantik. Belum jadi artis aja udah banyak yang sok kenal ke gue.” balas gue ketus
“Amit-amit dahhhh.. lo kegeeran banget sih? kegeerannya nggak ngaca lagi. Ckck.” Kata orang itu ngremehin gue,
Setelah gue amati baik-baik ternyata itu orang lagi!
“Eh lo temennya owi ya? huh dasar lo. ngapain sih ngikutin gue mulu kesini? Mau minta tanda tangan?”
“ih lo jadi cewek songong banget sih. sapa juga yang ngikutin lo..”
Hemmm hem hemmm. Sekarang gue tau ini cowok! Temennya Owi kan yang waktu itu ngejek gue? iya. Si Hendra songong. Kira-kira ngapain sih dia disini.
“Terus ngapain lo disini?” tanya gue penasaran.
“Terserah gue mau ngapain disini. Nggak ada urusannya kan sama lo?”
“Dih di tanya malah gitu. ya udah deh. Emang lo songong banget.” balas gue
“Lah lo ngapain disini?” tanya Hendra balik.
“Terserah gue mau ngapain disini. Apa urusannya sama lo?” gue langsung ngiprit ninggalin si Hendra. Lama-lama pengen gue makan tu anak. Ngeselin banget.

Hari sudah menjelang malam, Owi belum juga datang ke lokasi syuting buat ngejemput gue. Padahal gue udah nggak betah disini gegara ada si cunguk Hendra yang ternyata ikutan main FTV “Babuku Emang Jelek”, dan apesnya, Hendra dapet peran jadi Majikan gue. oh my god… Sial banget.
Oke, mending gue telfon Owi dulu. “Tuttt tutttttttt”
“Halo?” sahut Owi.
“Halo wik. Lo dimana? Udah malem nih. Gue syutingnya selese. Lo bisa jemput gue kaga? Missal nggak bisa, gue naik angkot.”
“Maaf banget Yan. Gue masih di kampus, lagi bimbingan skripsi sama Pak Alan. Maaf banget Yan gue nggak bisa jemput lo.” jawab Owi.
“Iya udah nggak papa wik.”
Ya itu sekilas percakapan gue sama Owi. dan akhirnya gue pilih pulang sendiri. NAIK ANGKOT.
AUTHOR POV
Yana berdiri di tepi jalan, sesekali ia menengok kanan dan kiri, berusaha mencari angkot yang mau ia tumpangi sampai ke rumah. Dalam pencarian dan penantian sebuah angkot, tiba-tiba Honda Jazz merah berhenti di depannya.
“Lagi ngapain lo disini sendirian?” tanya seseorang dari balik kaca mobil, mengagetkan Yana.
“Cari angkot.” Jawab Yana singkat
“Hahaaha Artis naik angkot?” ledek orang yang ternyata adalah Hendra.
“Diem! Sono ah lo pergi. Bikin mata sepet aja.”
“Jutek banget sih?” kata Hendra dengan nada menggoda.
“Bawel banget.” jawab Yana ketus. Wajahnya kusut kaya sarung di cuci setahun sekali, dicucinya pas mau lebaran doang.
“Hey daripada lo sendirian nunggu angkot yang gak jelas kapan datengnya, mendingan lo ikut gue aja. Yuk.” Tawar Hendra.
“What? Lo nawarin gue? ogah deh… najis kunyis kunyis pulang sama lo.” tolak Yana mentah mentah.
“Beneran nih? Ya udah.” Hendra mengunci mulutnya. Ia hanya diam saja di dalam mobil sembari mengetuk-ketukan kukunya di setir. Mobilnya juga masih berhenti di depan tubuh Yana.
Setelah beberapa menit diem-dieman, Yana justru membalikkkan niatnya.
“Ya udah gue terpaksa nebeng lo.” kata Yana lesu.
“Nah gitu dong dari tadi. Tinggal bilang YA aja lamanya amit-amit.”
“Hehehe.”
Yanapun memasuki mobil Hendra. Mereka meninggalkan lokasi tadi dan berlalu menuju rumah Yana.

Ternyata dugaan gue tentang sifat Hendra yang nyebelin itu salah besar. Hendra aslinya baik, baik banget malah. Gue jadi kesengsem sama dia.
Enggak tau kenapa juga akhir-akhir ini gue sering mimpiin Hendra. Hendra juga akhir-akhir ini sering ngajak gue jalan-jalan. sering main ke rumah gue. kadang sendirian, kadang bareng Owi juga. Gue jadi punya rasa yang sama ke Hendra dan Owi, gue sama-sama sayang ke mereka. Tapi walaupun sama-sama sayang, rasanya ada yang beda aja antara sayang gue ke hendra dan sayang gue ke Owi. apa mungkin sayang gue ke Hendra itu sayang cinta? Dan sayang gue ke Owi Cuma sekedar sahabat? Hm. Maybe.
“Yanaaaa yanaaa, lu nongol di tipi nih… yana.. sini nonton!!” teriak emak yang bisa bikin kuping jadi hancur berkeping-keping.
“Ape mak teriak-teriak? Ada setan yah?”
“Bukannnnnnn.. ini lu nih nongol di tipi jadi babunya si Hendra temennya Owi. hahahaha lu jelek banget mukanya Yan. Tapi emak salut ama lu Yan. Haha..” emak ketawa lebar banget. ternyata si emak malah kesenengan liat gue tongol di tipi.
“Mak, katanya lu mau kaga nonton tv dan nyabut tv selamanya kalo gue nongol di tipi? Mana janjinya?” tagih gue melebihi rentenir.
“Lah ogah yeee. Emak kan kaga janji wee. huh lu gimana sih? bukannya seneng aksi lu di tonton sama emak tercinta.” Oceh emak.
Walah gimana sih. ini mah namanya pengorbanan gue sia-sia. Aslinya mau bikin emak bosen nonton tv biar tagihan listrik agak mengkerut dikit, ini malah kebalikannya. Si emak malah demen ples girang banget gue ada di tipi. Ckck. Tapi ya udah lah. Lagian honor syuting gue juga lumayan gede. Bisa bayar tagihan listrik berbulan-bulan dan tentunya bisa kasih motor King gue gizi alias bensin yang memadai.
“TOK TOK TOK” siapa sih malem-malem gini ngetuk pintu? Ganggu aja!
“Yan, bukain tu pintunya. Emak lagi asyik liat acting kece lu.” Jawab emak sok gaul abis
“Hm ya deh.”

Dengan langkah malas, gue jalan keruang tamu dan ngebukain pintu. Rada takut sebenarnya malam-malam gini ada tamu. Takutnya ni tamu bukan manusia.
‘CEKLEK’
“Hendra? eh ngapain malem-malem kesini?” tanya gue di buat sok lembut. Biar imutan dikit.
“Enaknya ngapain?”
“Loh kok tanya balik?” jawab gue bingung. Songong ah Hendra. “Ya udah yuk masuk ke rumah dulu. disini dingin.” Ajak gue bener-bener sok kecantikan banget. biasanya aja tidur di emperan, ini malah sok bilang kedinginan.
“Nggak usah Yan. Gue kesini Cuma mau kasih sesuatu buat lo.”
Ngedenger itu, gue udah deg-degan banget. apalagi habis itu dia bilang begini sama gue “Tapi lo merem dulu.” Oh tuhan gue. itu si Hendra mau ngapain gue coba? Huah,
“Kasih apaan si ndra?” tanya gue penasaran tingkat akut.
“Udah lo merem aja.”
Ya ampun, ngapain sih sebenernya ini? kenapa gue di suruh merem-merem terus sama Hendra? Terpaksa deh gue merem. Tapi ngintip dikit boleh kali ya?
“Ndra meremnya udahan belum?” tanya gue.
“Udah Yan. Buka aja mata lo.” perintah Hendra. Gue akhirnya buka mata, dan…
TARAAAAAAAAAAAA…
Sumpah ini gila kali yah? Ngapain si Hendra bawa mobil Tempur lapis baja anti pelurunya tentara Angkatan Darat Indonesia?
“Lo suka nggak?” tanya Hendra
“Hahaha lo ada ada aja pake bawa mobil impian gue ke rumah. Nyolong dimana?”
“Di hati lo. ehhh nggak ding. Dimana aja deh. Yang penting lo seneng bisa punya mobil impian lo haha.” jawab Hendra sambil ketawa. Gue takjub.
“Lo pasti tau dari Owik kalo gue pengen punya mobil tempur lapis baja milik TNI-AD? Haha.”
“Gue tau dari emak lo sama Owi. hehe. Btw emak lo mana nih?” tanya Hendra
“Di dalem. Pengen ketemu? entar yah. “ gue langsung panggil emak dari luar, biar nggak ngelewatin waktu bersama gue sama Hendra. “EMAKKKKKKKKKKKKK… SINI MAK DICARI HENDRAAAAAA” teriak gue sekenceng tenaga.
Emak pun keluar dari persemayamannya.
“Eh lu ada Hendra kok main teriak-teriak aja, enggak malu?” ledek Emak dengan nada meledek
“Ye ngapa malu-malu. Hehe. Hendra inih.” Jawab gue enteng
“Ya dah.” Gue lihat emak melirik ke jalan depan rumah dan langsung kaget setengah mampus. “Buseett, Yan.. itu lu beneran beli mobil kek gituan? Astaghfir.. padahal emak udah mau beliin kamu tadi pagi.”
“Bukan gue mak yang beli. Tapi ini ulahnya si Hendra. songong banget kan bawain ginian ke rumah kita? “ balas gue.

Tiba-tiba Owi ikut nimbrung perbincangan super hangat kita-kita, dia ternyata yang dari tadi berada di dalam mobil tempur itu.
“Iye mak. yang beli tuh Hendra mak. Oh ya mak, Owi mau ngejelasin kedatangan Owi sama Hendra kemari. Ehem. Jadi gini mak, kita kemari itu mau ngelamar Yana mak. dan mobil tempur lapis bajanya jadi mas kawin.” Kata Owi yang sontak bikin gue sama emak kejang-kejang.
“Hah? Lu sama Hendra mau ngelamar Yana?” tanya emak super kaget dan mau pingsan karena mendengar gue mau di lamar dua orang lelaki sekaligus.
“Aduuuhhh duh mak jangan pingsan dulu.. dengerin penjelasan Owi dulu..” Owi mengangkat suaranya lagi, dan emak yang tadinya udah mau pingsan, tiba-tiba bergairah lagi buat ngedengerin ocehan Owi.
“Yang mau nglamar Yana itu Cuma Hendra mak. gue si nemenin doang. Ogah amat dah kalo gue juga ngelamar Yana buat jadi calon istri gue… dihh..” terang Owi dengan diiringi tawa.
“Oh Hendra toh. Ya ya ya. emak terima.” Kata emak
“Lah kok emak yang main terima aja? Yang di lamar kan Yana mak. huh.” kata gue ketus.
“Terus lu maunya gimana? Lu nolak lamaran Hendra?” tanya Emak dan Owi kompak. Haha, apa jangan-jangan mereka jodoh yah? Wkwk, ngaco.

“Ya enggak lah. Gue kan cintrong ama Hendra. masa mau nolak. Iya kan ndra?” sontak gue langsung nubruk tubuh Hendra. saat itu juga tangan gue sama Hendra bersatu dan muter-muter kayak di tipi-tipi. Oh indahnya hari ini, kebahagiaan seolah-olah seperti mercon yang sembarangan meledak di hati gue. huaaahh..
Meskipun gue nggak bisa bikin emak bosen sama Sinetron/FTV yang bikin dompet bonjrot dan mempermiskin hidup gue, tapi yang penting “EMAK, GUE UDAH JADI ARTIS!!! GUE JUGA MAU NIKAH SAMA ARTIS” horrrreeee!!

—THE END—

Cerpen Karangan: Aisyah Hudabiyah