Tampilkan postingan dengan label Teladan Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teladan Islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 November 2014

IMAM GHAZALI

Assalamu’alaikum temans…  Tahukah kalian, kalau pada jaman dahulu ulama-ulama Islam disamping terkenal karena kesederhanaan (zuhud) dan ketaqwaannya juga banyak yang terkenal dengan ketajaman pemikirannya alias pintar. Kalau jaman sekarang bisa disebut professor gitu loh.
Aku akan menceritakan dua orang tokoh Ulama Islam yaitu IMAM GHAZALI dan MUHAMMAD AL-GHOZALI. Pada awalnya sih aku penasaran dengan nama sekolahku, yaitu SD ISLAM AL-GHOZALI. Aku coba cari cerita tentang nama tokoh tersebut dan ternyata, subhanalloh…  ada dua tokoh bernama  Al-Ghozali yang merupakan tokoh besar Islam yang cemerlang dengan karya-karya besarnya. Aku menemukan ada dua tokoh dengan nama Al-Ghozali. Yang Pertama adalah Imam Ghazali dan Muhammad Al-Ghozali.

 
 A.  IMAM GHAZALI
 
 
Nama lengkap Al Ghazali adalah Zainuddin Hujatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Ibnu Muhammad al Ghazali. Beliau dilahirkan di kota Thos. di Khurasan, l0 mil dari Nisabur Persia pada tahun 450H. Beliau belajar fiqih pada ulama Fiqih Syafi’i yang besar, Imamul Haraini Abul Nfa’ali Al Juwaini (wafat 478 H.) di neseri Nisabur. Persia.
Imam Ghazali juga ikut mengajar pada sekolah Tinggi Syafi’iyah An Mizhamiyah di Bagdad tahun 484 H.
Imam Ghazali seorang ‘alim besar. Majelis pengajiannya diberi nama oleh orang dengan julukan “Majelis 300 sarban besar”. Beliau selain ahli fiqih juga ahli tasauf yang tak ada tandingannya ketika itu. Kitabnya dalam tasauf ialah Kitab Ihya Ulumuddin yang terkenal dan sekarang dipakai oleh seluruh ulama dalam dunia Islam.

Dalam fiqih Syafi’i beliau mengarang kitab-kitab Al Wasith, Al Basith tlan Al Wajiz yang sampai sekarang terpakai pada sekolah-sekolah Syafi’iyah. Imam Ghazali nrengarang kurang lebih 47 buah kitab dari pelbagai ilmu pengetahuan, bukan saja ilmu fiqih tetapi iuga ilmu usul fiqih, ilmu tasauf, ilmu filsafat, ilmu al Quran dan lain-lain. Imam Ghazali orang begitu luas dan dalam ilmunya, tetapi dalam fikih masih mengikut Imam Syafi’i, apalagi kita ini yang ilmunya boleh dikatakan tidak seberapa kalau dibanding dengan ilmu Imam Ghazali.
Karangan-karangan kitab Imam Ghazali di antaranya
l. Ihya Ulumuddin.
2. Tahafutul Falasifah.
3. Al Iqthisad fil I’tiqad.
4. Al Munqidz Minad Dhalal.
5. Jawahiril Quriin
6. Mizanul ‘Amal.
7. Al Maqshadul Asna fi Ma’an asamil Husna.
8. Faisahlut Thariqah bainal Islam waz Zindiqah.
9. Al Qisthasui Mustaqim.
10. Al Mustazhari.
11. Hujatul Haq.
12. Mufshilul Khilaf.
13. Kimiyaus Sa’adah.
14. Kitabul Basith.
15. Al Wasith.
16. Al Wajiz.
17. Khulasatul Mukhtasar.
l8. Yaqutut Ta’wil fi Tafsirit Tanzil (40 jilid).
19. Al Mushtashfa.
20. At Mankhul.
21. Al Muntahal fi llmil Jidat.
22. Mi’yarul Ulum
23. Al Maqashid.
24. Al Madhanun.
25. Misykatul Anwar.
26. Mahkun Nadhar.
27. Tilbisu lblis.
28. Nashihatul Muluk.
29. Ad Durarul Fakhirah
30. Anisul Wahdah.
31. Al Qurbah llallah.
32. Akhlaqul Abraar.
33. Bidayatul Hidayah.
34. Al Arba’in fi Usuluddin.
35. Adz Zari’yah.
36. Al Mabaadi rval Khayaat.
37. Talbisu lblis.
38. Nashihatul Muluk.
39. Syifa’ul ‘Alim.
40. Iljamut ‘Awam.
41. Al Intishar.
42. Al’Ulumuddiniyah.
43. Ar Risalatul Qudsiyah.
44. Itsbatun Nadhar.
45. Al Ma’khadl.
46. Al Qaulul Jamiil.
47. Al Amaali.
 

Jumat, 08 November 2013

Bukti Bahwa Bulan Pernah Terbelah



Peristiwa Mukjizat nabi Muhammad SAW tentang terbelahnya bulan mungkin dibantah oleh orang-orang Barat karena dianggap sesuatu yang mustahil dan tidak logis; “Bagaimana mungkin benda-benda angkasa terbelah menjadi dua dan kemudian menyatu kembali sebagaimana yang kita lihat sekarang.”

Ternyata ditemukan pembuktian ilmiah terkait kejadian ini:

Pembuktian Pertama:

Sejarah India dan Cina kuno (yang pada waktu peristiwa ini belum mengenal apa pun tentang Islam) telah mencatat dan menceritakan peristiwa ini. Sayyid Mahmud Syukri al-Alusi, dalam bukunya Ma Dalla ‘Alaihi Al-Qur’an, mengutip dari buku Tarikh al-Yamini bawa dalam sebuah penaklukan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud bin Sabaktakin al-Ghaznawi terhadap sebuah kerajaan yang masih menganut paganisme (musyrik) di India ia menemukan lempengan batu di dalam sebuah istana taklukan tersebut. Pada lempengan tersebut terpahat tulisan, “Istana ini dibangun pada malam terbelahnya bulan, dan peristiwa itu mangandung pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran.”

Pembuktian Kedua:


Allah SWT berfirman,
‘Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah. (Quran Surah Al-Qamar: Ayat 1)’.
“Apakah ayat dari surat al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah?” tanya seorang warga Inggris dalam sebuah acara di televisi bersama seorang pakar geologi Muslim, Prof Dr Zaghlul Al-Najar.
Jawab Zaghlul Al-Najar, “Mengenai ayat ini, saya akan ceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya di Universiti Cardif bagian barat Inggris dalam suatu forum bertemakan sekitar mukjizat ilmiah dari Al-Quran.
Peserta-peserta yang hadir terdiri dari berbagai keyakinan, ada yang Islam dan non- Islam. Seorang pemuda Islam berdiri dan bertanya, “Apakah menurut anda ayat yang berbunyi, ‘Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah’ – mengandung mukjizat secara ilmiah?”
“Tidak!” jawab saya. “Sebab, kehebatan ilmiah dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, kerana ilmu pengetahuan tidak dapat menjangkaunya.”
Dan tentang terbelahnya bulan, itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad SAW, sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana Nabi-nabi sebelumnya. Mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya.
Kiranya hal itu tidak di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami kaum Muslimin di zaman ini tidak akan percaya hal tersebut. Tetapi hal itu memang benar ada di dalam Al-Quran dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Allah Ta’ala memang benar-benar Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”
Maka, Prof Dr Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu terjadi sebelum hijrah Nabi dari Makkah Mukarramah ke Madinah…
“Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang dapat membuktikan kenabian dan kerasulanmu?” Kata orang-orang musyrik walaupun sebenarnya mereka mengejek dan mengolok-olok saja.
“Apa yang kamu maksud nak?” tanya Rasulullah pula.
“Coba belah bulan!?” Cabar mereka.
Rasulullah pun berdiri dan diam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka, Rasulullah pun mengikutnya. Dan benar-benar bulan itu terbelah dua!
“Muhammad! Engkau benar-benar telah menyihir kami!” Orang-orang musyrik itu tetap menolaknya.
Tetapi, para ahli di kalangan mereka mengatakan, sihir memang boleh terjadi kepada orang yang berada di kelilingnya, tapi tidak kepada yang tiada di situ. Lalu, orang-orang Quraisy itupun bergegas keluar menuju pinggir kota Makkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Bila datang rombongan pertama, mereka bertanya, “Apakah kamu lihat sesuatu yang aneh pada bulan?”
“Ya, memang ada! Pada malam yang lalu kami lihat bulan terbelah menjadi dua dan saling berjauhan, kemudian bersatu kembali…” jawab mereka.
Akhirnya, sebagian mereka pun beriman, sedangkan sebagian lainnya tetap juga kafir (ingkar). Oleh kerana itu, Allah SWT menurunkan ayat-Nya:
“Sungguh, telah dekat hari qiamat dan telah terbelah bulan. Ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ….” sampai akhir surat Al-Qamar.
“Ini adalah kisah benar!” Jelas Prof Dr Zaghlul Al-Najar, setelah selesainya bercerita bersama-sama ayat dan hadis tersebut.

Tiba-tiba bangun seorang Muslim Inggris yang juga memperkenalkan diri, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb al-Islamy England, bolehkah aku tambahkan sedikit?”
“Ya, persilakan dengan senang hati!”.
Daud Musa Pitkhok berkata…
“Aku pernah mengkaji agama-agama (sebelum menjadi Muslim), maka salah seorang mahasiswa Muslim menunjuk dan memberi sebuah terjemahan Al-Quran yang mulia. Aku pun berterima kasih kepadanya dan membawa terjemah itu pulang ke rumah.
Ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Quran itu di rumah, surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Aku pun membacanya, ‘Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…’.
Tergumam aku.. Apakah kalimat ini masuk akal? Mungkinkah bulan terbelah.. dan bersatu kembali? Kalau benar, kekuatan macam apa yang dilakukan? Aku pun berhenti membaca dan mulai sibuk dengan kehidupan sehari-hari.
Tetapi, Allah Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hambaNya dalam mencari kebenaran. Suatu hari aku pun duduk depan siaran televisi Ingglish. Saat itu terpapar sebuah diskusi di antara seorang pengacara Inggris dengan 3 orang pakar angkasawan AS.
Pakar-pakar tersebut menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke angkasa, di saat dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, wabah penyaklit dan perselisihan.
Kata pengacara itu, “Kalau dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih berguna lagi.”
“Projek angkasa ini memberi kesan yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik dari segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, tetapi justru dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.” Mereka tetap membela projek tersebut. Dan, perbincangan tersebut adalah mengenai penjejakan manusia di bulan, yang telah menghabiskan tidak kurang dari 100 juta dolar US.
“Kebodohan macam apa lagi.. dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk dapat mendarat di bulan?” tanya pengacara itu lagi.
“Tidak!” balas mereka. “Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita diberikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia semata-mata, maka kami tidak akan berikan kepada siapapun!”
“Apa sebenarnya yang telah anda capai sampai begitu mahal taruhannya?”
Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan pada suatu ketika dulu kemudian menyatu kembali!!”
“Bagaimana kamu yakin hal itu?”
“Kami dapati secara pasti, batu-batu yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan…
Kami minta pakar geologi menelitinya dan kata mereka hal ini tidak mungkin terjadi, kecuali jika memang bulan itu pernah terbelah kemudian bersatu kembali” kata mereka.



Foto yang menunjukkan bukti bahwa dahulu bulan pernah terbelah

Mendengar paparan itu, aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad SAW 1400-an tahun yang lalu.
Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan kebenaran kaum Muslimin!
Agama Islam tidak mungkin salah..” Aku membuka kembali Mushhaf al-Quran dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam!!”
Itulah yang diceritakan oleh Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb al-Islamy England kepada Prof Dr Zaghlul Al-Najar yang menjawab pertanyaan seorang rakyat Inggris dalam temuramah di acara televisi seperti yang disebutkan.
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana!