Ternyata, selain Si Pitung, Mirah dari Marunda, dan si Jampang, cerita rakyat Jakarta
ada lagi nama yang jarang disebut, yaitu: Murtado. Nama ini meyakinkan
saya bahwa dari beberapa cerita rakyat asal Jakarta yang saya posting di
blog Cerita Rakyat Indonesia, rata-rata bertema jagoan—dengan latar belakang sejarah Indonesia (zaman Hindia Belanda).
Karakter-karakter protagonisnya digambarkan memiliki sifat-sifat yang
mulia, berpeci, rajin ibadah (pintar pengetahuan agama), pandai silat,
kebal peluru, dsb. Sedangkan, karakter antagonisnya digambarkan sebagai
tokoh dari
meeneer (tuan) Belanda atau pribumi yang menjadi antek
meeneer
Belanda. Hal ini sedikit berbeda dengan karakter dari cerita rakyat
Jawa, misalnya—yang karakter protagonisnya, biasanya, adalah pangeran.
Ah, ini hanyalah pandangan saya sendiri. Benar tidaknya, silakan
dipahami sendiri ya. Langsung saja kita ke kisahnya yuk…
Cerita Rakyat Murtado Macan Kemayoran
Sudah jamak, jika, orang-orang di daerah Kemayoran mengenal Murtado
sebagai anak yang baik. Sebagai anak mantan lurah, Murtado tidaklah
seperti anak-anak kebanyakan yang gemar menekan masyarakat dengan
kekuasaan. Walaupun, ia jago silat dan tekun menuntut ilmu, baik ilmu
agama maupun ilmu dunia. Kerendahan hatinya ditunjukkan Murtado dengan
ringan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Karakter
ini yang dinilai oleh masyarakat, dan justru disukai.
Di zaman Murtado hidup, tepat di masa Hindia Belanda, banyak jago-jago
silat kenamaan di Kemayoran mengkhianati kaumnya sendiri. Mereka lebih
suka menjadi antek sinyo-sinyo Belanda. Pasalnya, dengan menjadi antek
sinyo-sinyo Belanda, duitnya lebih banyak dan lebih berkuasa
tentunya—dari masyarakat Pribumi lainnya, tapi tidak dari Belanda.
Walhasil, mereka banyak menebar teror demi memuluskan kebijakan tuan
mereka—Belanda dan Tionghoa*. Para jago silat kenamaan di Kemayoran ini
dipegang dua orang, yaitu Bek Lihun dan Mandor Bacan.
Ketika di Kemayoran diadakan derapan padi** (memanen padi), Mandor Bacan
ditunjuk kompeni untuk mengawasi kegiatan itu. Murtado pun ikut dalam
kegiatan itu untuk menemani seorang gadis cantik yang tidak lain adalah
kekasih Murtado sendiri. Namun, ketika Mandor Bacan melihatnya, seperti
kebanyakan centeng kompeni, ia langsung punya niat kurang ajar. Namun,
aksi Mandor Bacan dihalangi oleh Murtado. Merasa memiliki hak berbuat
apapun di tempat itu, Mandor Bacan memerintahkan Murtado untuk
menyingkir, jika tidak…
“Minggirlah, jika tidak ingin pulang tinggal nama!” tukas Mandor Bacan.
“Silakan kalau Abang mau menjajal,” tantang Murtado.
Terjadilah perkelahian antara Mandor Bacan dan Murtado. Awalnya,
perkelahian itu tampak seimbang. Namun, lama-kelamaan terlihat siapa
yang lebih unggul. Dengan satu pukulan pungkasan dari Murtado, Mandor
Bacan limbung dan ambruk. Mandor Bacan berdiri dengan sempoyongan.
Pikirannya bekerja, jika tetap melawan bocah ini, dirinya pasti kalah.
Maka, ia memilih kabur meninggalkan tempat perkara untuk kemudian
melapor pada Bek Lihun.
Bek Lihun segera ke tempat perkara untuk menuntaskan permasalahan antara
Mandor Bacan dengan Murtado. Namun, pembicaraan di antara para jago
silat itu tidak menemukan titik temu sehingga harus diselesaikan sekali
lagi dengan jalan bertarung. Maka, Bek Lihun pun menjajal kemampuan
Murtado. Keduanya memakai jurus-jurus yang lumayan ribet di mata orang
biasa. Namun, sayangnya, Murtado jauh lebih cepat, kuat, dan bertenaga.
Ketika pukulan Murtado tepat mengenai Bek Lihun terpentallah orang tua
itu beberapa langkah ke belakang dan muntah darah tapi tidak sampai game
over.
Murtado hendak memberi pukulan penghabisan pada Bek Lihun, tapi orang
tua itu mengangkat tangannya menginstruksi bahwa ia menyerah. “Gue
menyerah…” tukas Bek Lihun. Murtado mengampuni Bek Lihun dan Mandor
Bacan dengan syarat mereka tidak mengganggu lagi siapapun yang ada di
Kemayoran. Walaupun, mereka tetap menjadi antek kompeni.
Dan kehidupan pun berjalan seperti biasanya, hingga…
Segerombolan brocomorah di bawah pimpinan Warsa mulai menggasak
Kemayoran. Setiap malam, gerombolan ini berhasil merauk harta penduduk,
bahkan kadang-kadang melakukan pembunuhan. Aksi para brocomorah ini
sebenarnya sudah mendapat respons dari Bek Lihun dkk., namun tampaknya
gerombolan Warsa lebih kuat. Karena itu, Kemayoran menjadi tidak aman
lagi. Pihak kompeni marah-marah kepada Bek Lihun dkk. Mereka beranggapan
dengan ketidakamanan di Kemayoran, aliran dana pajak dan lainnya
bakalan tidak berjalan dengan lancar.
Di tengah kegalauan itu, Bek Lihun dkk. datang kepada Murtado untuk
meminta bantuan. Merasa keamanan Kemayoran masuk dalam ranah tanggung
jawabnya juga, Murtado setuju dengan permintaan Bek Lihun. Bersama dua
orang karibnya, Saomin dan Sarpin, Murtado mencari markas Warkas dan
kawanannya di sekitaran Karawang. Ketiga orang ini lalu
menggosak-asik*** markas Warkas, membuat kawanannya kocar-kacir. Warkas
sendiri tewas dalam perkelahian itu. Murtado dan dua kawannya mengambil
kembali harta pampasan kawanan Warkas dan dikembalikan kepada masyarakat
Kemayoran.
Semua berterima kasih atas jasa Murtado, termasuk kompeni. Para sinyo
itu ingin mengangkat Murtado menjadi bek Kemayoran menggantikan Bek
Lihun. Tapi, tawaran Belanda ditolak mentah-mentah oleh Murtado. Ia
memang ingin menjaga keamanan Kemayoran tapi tidak ingin menjadi antek
kompeni. Mottonya: “Lebih baik hidup sebagai rakyat biasa, tapi ikut
menjaga keamanan rakyat.” Dalam sejarah Indonesia Murtado dikenal orang-orang sebagai tokoh legendaris seperti Si Pitung, dll.
***
Demikian, cerita rakyat asal Jakarta yang mengisahkan tentang Murtado, Macan Kemayoran.[]
__________
* Pada masa Hindia Belanda, kasta paling rendah dalam strata sosial
adalah kasta Pribumi. Karena itu, terjadi banyak perlakuan tidak adil
terhadap mereka. Misalnya, kebijakan pajak atau kebijakan pembagian
keuntungan.
** Ada syarat yang harus dipenuhi saat kegiatan derapan padi: “setiap
memanen lima ikat padi, akan dibagi antara si pemotong dengan Belanda.
Si pemotong mendapat satu ikat, sedangkan, kompeni mendapat empat ikat.”
*** Membuat berantakan.