Tampilkan postingan dengan label Story Of Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story Of Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 November 2013

Sejarah Peristiwa 10 November

Mengenang Sejarah Peristiwa 10 November.  

Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di kota Surabaya, Jawa Timur.

Masuknya Tentara Jepang ke Indonesia

Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian, tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan perjanjian Kalidjati. Sejak itulah, Indonesia diduduki oleh Jepang.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Masuknya Tentara Inggris & Belanda

Rakyat dan para pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada 25 Oktober. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Tetapi, selain itu, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada pemerintah Belanda sebagai jajahannya. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris. Itulah yang meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di mana-mana.

Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya

Setelah munculnya maklumat pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh Indonesia, gerakan pengibaran bendera makin meluas ke segenap pelosok kota.

Di berbagai tempat strategis dan tempat-tempat lainnya, susul menyusul bendera dikibarkan. Antara lain di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jl Pahlawan) yang terletak di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas gedung Internatio, disusul barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya yang membawa bendera merah putih datang ke Tambaksari (lapangan Gelora 10 November) untuk menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.

Saat itu lapangan Tambaksari penuh lambaian bendera merah putih, disertai pekik ‘Merdeka’ mendengung di angkasa. Walaupun pihak Kempeitai melarang diadakannya rapat tersebut, namun mereka tidak berdaya menghadapi massa rakyat yang semangatnya tengah menggelora itu. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru/Hotel Yamato atau Oranje Hotel, Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Mula-mula Jepang dan Indo-Belanda yang sudah keluar dari interniran menyusun suatu organisasi, Komite Kontak Sosial, yang mendapat bantuan penuh dari Jepang. Terbentuknya komite ini disponsori oleh Palang Merah Internasional (Intercross). Namun, berlindung dibalik Intercross mereka melakukan kegiatan politik. Mereka mencoba mengambil alih gudang-gudang dan beberapa tempat telah mereka duduki, seperti Hotel Yamato. Pada 18 September 1945, datanglah di Surabaya (Gunungsari) opsir-opsir Sekutu dan Belanda dari Allied Command (utusan Sekutu) bersama-sama dengan rombongan Intercross dari Jakarta.

Rombongan Sekutu oleh Jepang ditempatkan di Hotel Yamato, Jl Tunjungan 65, sedangkan rombongan Intercross di Gedung Setan, Jl Tunjungan 80 Surabaya, tanpa seijin Pemerintah Karesidenan Surabaya. Dan sejak itu Hotel Yamato dijadikan markas RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees, Bantuan Rehabilitasi untuk Tawanan Perang dan Interniran).

Karena kedudukannya merasa kuat, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan hari ketika pemuda Surabaya melihatnya, seketika meledak amarahnya. Mereka menganggap Belanda mau menancapkan kekuasannya kembali di negeri Indonesia, dan dianggap melecehkan gerakan pengibaran bendera yang sedang berlangsung di Surabaya.

Begitu kabar tersebut tersebar di seluruh kota Surabaya, sebentar saja Jl. Tunjungan dibanjiri oleh rakyat, mulai dari pelajar berumur belasan tahun hingga pemuda dewasa, semua siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel serta halaman gedung yang berdampingan penuh massa dengan luapan amarah. Agak ke belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang tampak berjaga-jaga. Situasi saat itu menjadi sangat eksplosif.

Tak lama kemudian Residen Sudirman datang. Kedatangan pejuang dan diplomat ulung yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, menyibak kerumunan massa lalu masuk ke hotel. Ia ingin berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawan. Dalam perundingan itu Sudirman meminta agar bendera Triwarna segera diturunkan.

Ploegman menolak, bahkan dengan kasar mengancam, “Tentara Sekutu telah menang perang, dan karena Belanda adalah anggota Sekutu, maka sekarang Pemerintah Belanda berhak menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Itu tidak kami akui.” Sambil mengangkat revolver, Ploegman memaksa Sudirman untuk segera pergi dan membiarkan bendera Belanda tetap berkibar.

Melihat gelagat tidak menguntungkan itu, pemuda Sidik dan Hariyono yang mendampingi Sudirman mengambil langkah taktis. Sidik menendang revolver dari tangan Ploegman. Revolver itu terpental dan meletus tanpa mengenai siapapun. Hariyono segera membawa Sudirman ke luar, sementara Sidik terus bergulat dengan Ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Beberapa tentara Belanda menyerobot masuk karena mendengar letusan pistol, dan sambil menghunus pedang panjang lalu disabetkan ke arah Sidik. Sidik pun tersungkur.

Di luar hotel, para pemuda yang mengetahui kejadian itu langsung merangsek masuk ke hotel dan terjadilah perkelahian di ruang muka hotel. Sebagian yang lain, berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Sudirman turut terlibat dalam pemanjatan tiang bendera. Akhirnya ia bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang kembali. Massa rakyat menyambut keberhasilan pengibaran bendera merah putih itu dengan pekik “Merdeka” berulang kali, sebagai tanda kemenangan, kehormatan dan kedaulatan negara RI.

Kemudian meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris pada 27 Oktober 1945. Serangan-serangan kecil itu ternyata dikemudian hari berubah menjadi serangan umum yang hampir membinasakan seluruh tentara Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby



Setelah diadakannya gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Tetapi walau begitu tetap saja terjadi keributan antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945. Mobil Buick yang sedang ditumpangi Brigjen Mallaby dicegat oleh sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Karena terjadi salah paham, maka terjadilah tembak menembak yang akhirnya membuat mobil jenderal Inggris itu meledak terkena tembakan. Mobil itu pun hangus.

Ultimatum 10 November 1945

Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri (walaupun baru saja diproklamasikan), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai alat negara juga telah dibentuk.
Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul sebagai manifestasi tekad bersama untuk membela republik yang masih muda, untuk melucuti pasukan Jepang, dan untuk menentang masuknya kembali kolonialisme Belanda (yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia).

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang.

Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.

Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.

Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama’ serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) juga ada pelopor muda seperti Bung Tomo dan lainnya. Sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.

Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Jumat, 25 Oktober 2013

Candi Mendhut : Ditemukan dlam keadaan tertutup rumput Ilalang


            Candi Mendut yang terletak di sebelah utara dari ketiga candi disekitar Borobudur, dapat dikatakan merupakan pintu masuk menuju Candi Pawon dan Candi Borobudur. Bertempat di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.
            Pintu masuk pada Candi Mendut berbeda dengan Candi-Candi lainnya, menghadap ke barat. Sementara pada candi-candi lainnya yang terdapat di Jawa kebanyakan pintu candi menghadap kesebaelah timur. Sampai sekarang, masih menjadi misteri yang belum terpecahkan mengenai kapan Candi tersebut berdiri.
            Beberapa ada yang menghubungkan denagan kelahiran Sang Budha. Kemungkinan hal tersebut dikaitkan  dengan Sang Budha dalam menyebarkan Agama Budha di Tanah Jawa. Pintu yang menghadap kiblat, dapat juga diartikan sebagai simbol keinginan dari pendiri candi, berkaitan dengan tempat ketika Sang Budha pertama kali menerima wahyu di Taman Kijang.
            Para ahli purbakala, sampai sekarang juga masih ragu mengenai kapan berdirinya Candi tersebut. Ada yang mengatakan , Candi Mendut dibangun ketika jaman pemerintahan Raja Indra, dari dinasti Syailendra abad ke 8 atau 9. Ada juga yang mengatakan Candi Mendut dibangun sebelum Candi Borobudur. Hal tersebut masih meragukan, karena memang belum diketemukan tulisan atau prasasti yang menceritakan mengenai Candi Mendut.
            Menurut Sejarah, sekitar tahun 1836, semua bagian bangunan Candi ditemukan dalam keadaan tertutup rumput Ilalang dan pasir letusan Gunung Merapi pada waktu itu, kecuali bagian atap Candi. Candi tersebut ditemukan secara tidak sengaja. Bisa dimaklumi, karena penyebaran penduduk yang belum merata, sedikitnya penduduk yang menempati daerah sekitar penemuan Candi, keadaan tanah yang gersang dan kering, membuat sedikitnya orang yang bermukim di wilayah itu.
            Setelah candi tersebut digali dan dibersihkan dari rumput ilalang, sudah banyak ditemukannya batu-batu asli dari sekitar candi, meskipun belum semuanya. Sekitar tahun 1887, Candi mengalami pemugaran untuk pertama kalinya, bagian yang diperbaiki adalah kaki candi sampai badan candi. Meskipun bisa dikatakan perbaikan tersebut masih jauh dari harapan, karena banyaknya halangan dalam pemugarannya.
            Selanjutnya pada tahun 1908, oleh Van Erp (Belanda), Candi tersesbut kembali diperbaiki bersamaan dengan Candi Borobudur. Pemugaran yang kedua kali ini juga tidak berjalan seperti yang diharapkan dan sempat berhenti total, dikarenakan faktor biaya yang memang pada saat itu Belanda juga membutuhkan dana yang cukup besar untuk memakmurkan negaranya, sehingga tidak mampu untuk membiayai pemugaran candi. Setelah kurang lebig 38 tahun, akhirnya pemugaran Candi dilanjutkan lagi.
Tatanan dan Relief Candi
            Tatanan atau susunan Candi Mendut tak beda jauh dengan candi-candi lainnya, terdiri dari bagian kaki candi, badan candi dan puncak candi. Pada bagian Kaki Candi, terdapat “selasar” (jalan untuk mengelilingi candi). Selasar tersebut dibuat agak luas, supaya pengunjung dapat melihat candi secara jelas dan dekat. Pada dinding candi juga terdapat ornamen-ornamen yang jumlahnya ada 31 ornamen. Ornamen pada dinding Candi berupa bunga puspa, bunga teratai, motif hewan dan arca-arca yang semuanya memiliki makna atau simbol tersendiri.
            Pada bagian kanan pintu masuk atau ruang candi, terdapat relief Kuvera/Yasaka Panchika/Atavika. Dalam relief tersebut digambarkan seorang pria yang dikelilingi oleh anak-anak, memakai busana yang menggambarkan bahwa pria tersebut adalah seorang bangsawan. Dusduk diatas tempat yang tinggi dengan posisi kaki kanan bertumpu pada kaki kanan. Penggambaran Anak-anak yang sedang bermain, memanjat pohon dan memetik buah-buahan. Dibawahnya ada sebuah kendhi yang penuh dengan uang. Kuvera, yang juga disebut dengan dewanya kekayaan. Selain itu juga ada Yaksa Panchika atau Atavika, yang merupakan raksasa pemakan manusia, tetapi setelah bertemu Sang Budha bertobat dan menjadi pengayom bagi anak-anak.
            Di bagian kiri arah kamar, ditemukan relief Hariti yang sedang duduk memangku anaknya. Dalam relief tersebut digambarkan wujud seorang wanita yang juga memakai pakaian bangsawan dengan dikelilingi oleh anak-anak yang bermain dan memetik buah-buahan. Dalam mitologi agama Budha, Hariti merupakan raksasa yang juga suka makan manusia, tak beda jauh dengan Kuvera, bertobat setelah bertemu dengan Sang Budha dan akhirnya menjadi pengayom bagi anak-anak. Figur pengayom anak-anak, juga dapat ditemukan di Bali dengan sebutan Men Brayut.
            Pada badan Candi, juga terdapat relief Bodhisattva Avalokitesvara dan Dewi Tara. Relief Avalokitesvara digambarkan pada bagian tengah duduk diatas padmasana. Di sebelah kanannya cacti dan istrinya yaitu Dewi Tara. Dibawahnya digambarkan sebuah kolam yang penuh dengan bunga teratai. Dalam Mitologi Budha, relief tersebut memuat tentang cerita kelahiran Dewi Tara di Madyapada.
            Sang Budhisattva Avalokitesvara sedih, ketika mengetahui keadaan manusia di dunia. Kesedihannya hingga meneteskan airmata yang akhirnya berwujud menjadi sebuah kolam atau telaga yang penuh dengan bunga teratai . Diatas batang dan daun tersebut muncul Dewi Tara, yang menjadi penolong umat manusia dari jurang kesengsaraan.
            Relief yang menghadap ke timur pada badan Candi, yaitu terdapat relief Bodhisattva, yang digambarkan bertempat di  tempat teratas memakai pakaian bangsawan. Di belakang kepala terdapat Prabha, yaitu cahaya dewa. Mempunyai empat tangan, tangan kiri bagian belakang memegang kitab, tangan kanan bagian belakang memegang tasbih. Tangan kiri depan ada batang bunga teratai yang mekar dari sebuah kendhi. Tangan bagian depan menggambarkan sikap vara-mudra.
            Pada badan candi sebelah utara, terdapat relief tentang dewi Tara atau Cunda. Pada relief disebutkan, Dewi Tara digambarkan sedang duduk di tempat yang tinggi. Di sebelah kanan kirinya digambarkan dua orang pria.
            Pada bagian kanan pintu masuk Candi Mendut, terdapat relief Sarvanivaranaviskhambi. Pada relief, Sarvanivaranaviskhambi digambarkan dengan posisi berdiri. Pakaian yang dikenakan adalah pakaian bangsawan. Di belakang kepala juga terdapat prabha. Atap candi terdiri dari tiga tingkatan.

AWAL PERGERAKAN NASIONAL



TONGGAK SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL
 
1. Latar belakang munculnya kongres pemuda
Sejak berdirinya Organisasi Budi Utomo, banyak pula berdiri organisasi pemuda pelajar, baik yang bersifat kedaerahan maupun nasional.  Pada tanggal 15 Agustus 1926 berdiri organisasi Jong Indonesia yang kemudian diubah namanya berdasarkan Kongres I menjadi Pemuda Indonesia (PI). Pemuda Indonesia (PI) dimaksudkan sebagai wadah pemuda indonesia yang berwatak kebangsaan tanpa membedakan asal usul, suku, dan agama. Begitu juga dengan semakin meningkatnya semangat nasionalisme para pelajar-pelajar di Jakarta dan Bandung yang juga mendirikan organisasi Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) pada bulan September 1926 dengan tujuan memperjuangkan Indonesia merdeka. Adapun tokoh-tokoh PPPI antara lain : Abdullah Sigit, Sugondo, Suwiryo, Mitro Reksodipuro, Muh. Yamin, A.K. Gani, Muh. Tamsil, Sunarko, Sumana, Amir Syrifudin. PPPI dan PI memberi inspirasi organisasi-organisasi pemuda untuk bersatu. Untuk mewujudkan semangat persatuan dalam wadah Nasionalisme Indonesia maka diadakan Kongres Pemuda yang dilaksanakan beberapa kali, antara lain :
 
A. Kongres Pemuda I
Para pelajar dan mahasiswa dari berbagai organisasi bergabung dalam satu wadah bersama, yaitu Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang didirikan pada tahun 1926. Untuk mewujudkan semangat persatuan dan kesatuan dalam wadah nasionalisme itu, mereka menyelenggarakan Kongres Pemuda I Di Jakarta pada tanggal 30 April-2 Mei 1926 dengan dipimpin oleh Moh. Tabrani dari Jong Java.
 
B. Kongres Pemuda II
Perkumpulan pemuda memegang peranan aktif dalam kongres ini, terutama dari perkumpulan PPPI dan Pemuda Indonesia. Seperti halnya PNI, Pemuda Indonesia berpaham kebangsaan indonesia yang radikal. Pemuda Indonesia adalah perkumpulan pemuda yang bersifat nasionalis dan meninggalkan sifat-sifat kedaerahannya. Sementara untuk PPPI adalah perkumpulan dari para mahasiswa Recht Schoolgeschar dan STOVIA. Para peserta Kongres II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Sumatranan Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi dll. Diantara mereka hadir pula dari kalangan Tionghoa sebagai pengamat yaitu Oey Kai Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Namun sampai sekarang masih belum diketahui latarbelakang pengutusan dari organisasi mereka. Sementara Kwee Thiamm Hong hadir sebagai wakil dari Jong Sumatrenan Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan Arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda keturunan Arab. 
 
C. Tujuan dan Peserta Kongres
Tujuan diadakan kongres adalah untuk membentuk badan sentral, memajukan paham persatuan kebangsaan, dan mempererat hubungan diantara semua perkumpulan pemuda kebangsaan. Sementara untuk peserta kongres terdiri dari berbagai organisasi pelajar di Indonesia seperti Jong Java, Jong Sumatera Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Batak, Jong Minahasa, dan Jong Islameten Bond.
2. Lahirnya Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan. Gagasan penyelenggaran Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia . Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Sehingga menghasilkan Sumpah Pemuda. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Mohammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika  Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan kongres ini).
Rapat pertama, Gedung Katholieke Jongenlingen Bond.
 
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jonngenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng. Dalam sambutannya, Soegondo berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Mohammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan.
 
Rapat kedua, Gedung Oost-Java Bioscoop
Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.
 
Rapat ketiga, Gedung Indonesiscche Clubgebouw.
Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
 
Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia, yang berbunyi: Pertama, kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah indonesia. Kedoea, kami poetera dan poeteri indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa indonesia. Ketiga, kami poetera dan poeteri indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa indonesia.
Djakarta, 28 Oktober 1928
 
Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat yang sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik  dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong. Sementara lagu Indonesia Raya pertama kali dipublikasikan pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan. Lagu tersebut sempat dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.
3. Arti penting sumpah pemuda bagi bangsa Indonesia
Eksistensi pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah penting. Sumpah Pemuda merupakan suatu awal dari cita-cita untuk menyatukan organisasi para pemuda dalam satu forum. Dapat diartikan juga bahwa organisasi pemuda ini mencakup ruang lingkup yang luas yaitu Indonesia. Gagasan terbentuknya sumpah pemuda itu juga merupakan hasil dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang telah bersama mengikuti beberapa kali rapat yang diselenggarakan ditempat yang berbeda. Rapat pertama di gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Rapat kedua di gedung Oost-Java Bioscoop dan rapat terakhir di gedung Indonesiscche Clubgebouw.
 
Dalam pembahasan rapat pertama dari sumpah pemuda tanggal 27 Oktober 1928 menetapkan ada lima faktor yang mampu meningkatkan atau memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, suku, hukum adat, pendidikan dan kemauan.
 
Dalam rapat kedua pada tanggal 28 Oktober 1928 juga menghasilkan pemikiran  bahwasanya seorang anak harus memperoleh pendidikan kebangsaan dan pendidikan itu harus diimbangi dengan pendidikan di sekolah. Karena kebanyakan anak akan berinteraksi dengan lingkungan sekitar tempat tinggal maupun di sekolah.
 
Sedangkan pada rapat ketiga, diputuskan bahwa sejak dini, anak harus dibekali rasa nasionlisme dan demokratis. Sehingga akan membentuk sikap disiplin dan mandiri dalam diri anak tersebut.
Selain itu, perlu kita ketahui rapat tersebut tidak hanya membahas tentang itu, tetapi juga membahas bagaimana cara mendorong semangat dalam mewujudkan cita-cita bangsa itu sendiri. Disini, kita harus sadar bahwa sebagai putera-puteri  Indonesia harus tetap bersatu untuk membangun suatu bangsa yang baik dan seorang pelajar harus mampu meningkatkan semangatnya dalam menggapai cita-cita bangsa. Sumpah pemuda merupakan sumpah atau janji yang diikrarkan oleh para pemuda di negeri ini. Sehingga mempunyai makna generasi bangsa Indonesia harus mengakui atas tanah air, bangsa dan bahasanya, mendorong semangat persatuan kebangsaan, mendorong semangat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan serta pertumbuhan bahasa Indonesia sebagai salah satu identitas bangsa dan unsur kebudayaan bangsa.

Sumber: http://wahyuadisukrisna.blogspot.com/2013/01/awal-pergerakan-nasional.html

Kisah Kelam Para Wanita Indonesia Pada Masa Penjajahan Jepang



            Seperti yang tertulis diatas, Jugun Ianfu yang artinya wanita penghibur pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.  Jugun Ianfu ini merupakan sebagian kisah sedih dari para wanita Indonesia pada masa penjajahan Jepang yang dipaksa harus menuruti nafsu bejat para tentara Jepang.
            Ketika pada perang dunia II, Jepang memang bisa dikatakan telah menguasai Asia Timur Raya, Sedangkan yang dijadikan Jugun Ianfu sebenarnya bukan hanya  wanita Indonesia saja, tetapi ada juga wanita cina, Taiwan, Filipina, Melayu, Korea, dan Vietnam. Dalam kenyataanya, di Semarang pernah terjadi peristiwa yang disebut “Peristiwa Semarang”, pada saat itu para nyonya Belanda dari berbagai tangsi tahanan, dikumpulkan dan dijadikan “pelanyahan” untuk melayani nafsu serdadu Jepang.
            Karena peristiwa Semarang, wartawati Hillde Janssen yang dibantu Fotografer Jan Banning, melacak keberadaan wanita Indonesia yang dulu pernah menjadi Jugun Ianfu. Janssen melacak jejak para Jugun Ianfu dan mencari Informasi dengan cara masuk ke pelosok-pelosok pedesaan, guna mengadakan penelitian, megambil gambar dan wawancara. Diperkirakan terdapat 50.000-200.000 Jugun Ianfu, 5000 sampai 20000 diantaranya berasal dari Indonesia. Hasil foto yang diambil oleh Jan Banning dipamerkan di Eramus Huis (Pusat Kebudayaan Belanda) Jakarta.
            Sepanjang sejarah dunia, hanya Jepang yang menyediakan wanita penghibur untuk serdadu tentaranya. Para serdadu yang butuh wanita pastinya tidak diberikan secara gratis, mereka harus membayar sesuai dengan harga yang sudah ditetapkan. Uang tersebut tentunya tidak diserahkan kepada wanita yang melayaninya.
            Sebagian dari wanita Jugun Ianfu sekarang memang sudah berusia senja, tetapi peristiwa itu masih tetap diingat sepanjang hayat. Salah satunya, Wainem, wanita kelahiran Karanganyar 1925 ini, masih ingat benar ketika harus dipaksa melayani para tentara Jepang, dan setelah itu di tinggal begitu saja. Menurutnya ketika masih menjadi Jugun Ianfu, setiap hari diperiksa oleh Dokter Jawa, tetapi dimandhori oleh Dokter Belanda. Yang ketahuan hamil dipulangkan bahkan disuruh untuk menggugurkan kandungannya. Memang sungguh penganiayaan yang tidak berperikemanusiaan. Itulah sebagian kisah kelam dari para Wanita Indonesia yang harus dipaksa menjadi pelayan nafsu para Tentara Jepang.
 

Minggu, 20 Oktober 2013

Inilah Kehebatan Bung Karno Di Mata Dunia!

Gambar Perangko Negara tetangga yang ada gambar Soekarno: 



Gambar Perangko Negara tetangga yang ada gambar Soekarno:
Di Negara Adidaya:
Presiden Sukarno baru tiba di bandara Washington DC, AS, pada siang hari. Didampingi oleh wakil presiden AS, Richard Nixon, Bung Karno disambut penuh oleh pasukan AS dengan 21 kali tembakan kehormatan. Bung Karno tiba di Washington dalam rangka kunjungan selama 18 hari di AS atas undangan Presiden AS, David Dwight Eisenhower (Foto: 16 Mei 1956).
Kalo sekarang SBY ke amrik diperlakukan kayak gini ga ya??
Presiden Sukarno dan Presiden AS, Kennedy, duduk bersama di dalam mobil terbuka, sedang melewati pasukan kehormatan di pangkalan Angkatan Udara AS, MD. Bung Karno datang ke AS dalam rangka pembicaraan masalah insiden Kuba (Foto: 24 April 1961).
Bersama Mantan negara penjajah
Presiden Sukarno menjadi tamu kehormatan Kaisar Jepang, Hirohito, dan pangeran Akihito. Bung Karno dijamu makan siang di istana kekaisaran Jepang di Tokyo (Foto: 3 Pebruari 1958).
Menjadi cover majalah TIMES tahun 1946
Go International
Presiden Sukarno berdiri berdampingan dengan 4 pemimpin negara Non Blok setelah mereka selesai mengadakan pertemuan. Dari kiri kekanan : Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Kwame Nkrumah (Presiden Ghana), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), Bung Karno, dan Tito (Presiden Yugoslavia). Kelima pemimpin negara non blok ini mengadakan pertemuan yang menghasilkan seruan kepada Presiden AS, Eisenhower (Presiden AS) dan Perdana Menteri “Uni Soviet”/Rusia, Nikita Khruschev, agar mereka melakukan perundingan diplomasi kembali (Foto: 29 September 1960).
Presiden Sukarno bersama Perdana Menteri Perancis, Pompidou (Foto: 1965).
Presiden Sukarno sedang bercakap-cakap dengan Presiden Kuba, Osvaldo Dorticos Torrado (kiri), dan Perdana Menteri Kuba, Fidel Castro (kanan) di Havana, Kuba (Foto: 9 Mei 1960).
Presiden Sukarno tiba di bandara Karachi, Pakistan. Didampingi oleh Presiden Pakistan, Iskander Ali Mirza, Bung Karno tampak sedang memberi hormat, diapit oleh bendera Indonesia dan bendera Pakistan (Foto: 25 Januari 1958).