Tampilkan postingan dengan label Tokoh Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Oktober 2014

Profil Susi Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan -

Siapa sangka seorang perempuan yang hanya punya ijazah SMP mampu menjadi seorang menteri dalam kabinet kerja Jokowi-JK. Hal itu dialami oleh wanita hebat dan perkasa sekelas ibu Susi yang diangkat mengisi salah satu pos kementerian dalam pemerintahan baru periode 2014-2019.

Mungkin banyak di antara teman-teman yang penasaran dengan sosok beliau. Banyak yang berkomentar miring di media sosial tentang ibu Susi, namun mereka tak mengenal bagaimana beliau di masa lalu yang gigih berjuang sampai mencapai titik sukses seperti sekarang. Beliau adalah pemilik perusahaan eksportir bidang perikanan dan pengusaha maskapai penerbangan yang hebat dan patut dijadikan panutan oleh pengusaha muda yang ingin memulai bisnis dari nol.

Kalau mau jujur, sangat jarang wanita Indonesia sekaliber beliau. Jadi mungkin tak salah bagi Pak Jokowi memilih ibu Susi Pudjiastuti menjadi seorang menteri Kelautan dan perikanan karena hal itu sudah menjadi bidang keahliannya. Tujuannya jelas, menggali potensi besar di sektor kemaritiman dalam hal ini laut dan isinya. Coba kenali sedikit biografi singkat Susi Pudjiastuti agar anda tidak salah kaprah dengan perbincangan di luar sana.


Profil dan Biografi Susi Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan

Ada momen kamera menangkap foto beliau sedang merokok, itu mungkin adalah kebiasaan buruk yang tak boleh dicontoh. Tapi apapun itu kita wajib mengapresiasi prestasi beliau, tak banyak orang yang sukses dari nol hingga memiliki bisnis besar di bidang perikanan dan penerbangan. Kalaupun banyak yang sukses itu kebanyakan diawali dari modal besar atau keturunan dari orang tua. Orang ini berbeda, dia punya prinsip hidup yang dipegang teguh,

Silahkan anda simak dulu profil lengkap Susi Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan Kabinet Jokowi-JK periode 2014-2019 :

Nama lengkap : Susi Pudjiastuti
Tanggal lahir : 15 Januari 1965
Umur : 49 tahun
Asal : Pangandaran
Pendidikan terakhir : Tidak tamat SMA
Jabatan sebelum jadi menteri : Presiden Direktur PT ASI Pudjiastuti yang bergerak di bidang perikanan dan PT ASI Pudjiastuti Aviation yang merupakan operator penerbangan Susi Air.

Kalau anda sudah mengenal sedikit prestasi ibu Susi Pudjiastuti maka pemikiran anda pasti akan berpihak pada beliau. Kita tidak boleh menghakimi seseorang hany akarena titik noda kecil yang dianggap kebanyakan orang salah namun kebanyakan orang pun melakukan hal sama seperti kebiasaan merokok tadi. Prestasi beliau bekerja keras dari usia remaja dengan modal usaha sendiri tentu sebuah prestasi yang luar biasa.

Beliau punya perusahaan penerbangan dengan armada 50 pesawat yang melayani rute sulit di kawasan timur Indonesia, Sumatera dan Kalimantan yang sangajat jarang dilirik oleh perusahaan lain walauu itu adalah sebuah BUMN yang notabene milik negara. Beliau bekerja bukan semata untuk dirinya tapi untuk negara, mungkin inilah yang membuat Bapak Presiden menunjuknya jadi menteri.

Semestinya kita sebagai masyarakat tak perlu mempersoalkan hal-hal kecil yang tak berdampak langsung kepada stabilitas negara. Justru para koruptor yang masih senyam-senyum di hadapan kamera wartwan yang harus kita waspadai karena mereka adalah perusak negara. Itulah sedikit profil menteri Kelautan dan Perikanan kabinet Jokowi-JK, semoga anda bisa memperoleh tambahan referensi dengan postingan ini, terimakasih.

Senin, 27 Oktober 2014

Profil dan Biografi Joko Widodo - Biodata JOKOWI


Biodata lengkap Jokowi

Ir. H. Joko Widiodo
Ir. H. Joko Widiodo
Nama Lengkap : Ir. H. Joko Widodo

Nama Alias : Jokowi

Agama : Islam

Tempat Lahir : Surakarta, Jawa Tengah

Tanggal Lahir : Rabu, 21 Juni 1961

Zodiac : Gemini

Hobby : Membaca | Traveling

Kebangsaan : Indonesia

Partai politik : Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

Istri : Ny. Hj. Iriana Joko Widodo

Anak : Gibran Rakabuming Raka - Kahiyang Ayu - Kaesang Pangarep

Alma mater : Universitas Gadjah Mada

Pekerjaan : Pengusaha

Akun Twitter : @jokowi_do2

Email : jokowi@indo.net.id
Mendengar nama Joko Widodo, tentu Anda pasti ingat dengan seorang gubernur yang suka blusukan. Sekarang ini nama Joko Widodo menjadi sangat terkenal dengan banyaknya para pakar yang menyebutkan jika dia adalah salah satu calon presiden yang paling potensial. Bahkan, banyak orang yang memprediksi jika dia adalah calon yang paling mungkin menang dalam pemilu tahun 2014.

Dalam biografi Joko Widodo disebutkan jika dia lahir pada tanggal 21 Juni 1961 di kota Solo. Dia berasal dari keluarga yang cukup sederhana. Akan tetapi dengan kerja keras, membuat pria ini bisa sukses.


Dalam biografi Joko Widodo dikatakan jika menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota Solo. Dan setelah itu pada pendidikan tinggi, Jokowi memilih untuk belajar di UGM. Pada saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi memang tidak ada prestasi yang menonjol yang dilakukan oleh Jokowi. Setelah selesai kuliah, pria ini memilih untuk bekerja pada sebuah perusahaan. Akan tetapi dia tidak bertahan lama dan memilih untuk meneruskan usaha mebel yang dimiliki oleh keluarga. Dalam waktu yang cepat, usaha mebel yang dilakukan berhasil mendapatkan banyak keuntungan.
jokowi foto
Pada tahun 2005 Jokowi terpilih menjadi walikota Solo. Ada banyak sekali prestasi yang sudah dilakukan pria ini di kota Solo. Karena melihat prestasi Jokowi yang bagus di kota Solo, pada tahun 2012 dia dicalonkan menjadi gubernur Jakarta. Dalam biografi Joko Widodo disebutkan, untuk menjadi gubernur Jakarta, Jokowi harus menghadapi perlawanan yang sengit dari lawan politiknya. Dengan kerja keras yang dilakukan, akhirnya Jokowi bisa menang dalam pilkada Jakarta.

Setelah menjadi gubernur Jakarta, tentu membuat pria ini semakin sibuk. Banyak sekali aktifitas yang harus dia lakukan. Tidak sedikit pula media yang membuat berita khusus akan Jokowi. Dengan popularitas yang semakin meningkat ini sudah pasti membuat banyak orang yang ingin Jokowi maju sebagai presiden. Pada tahun ini Jokowi resmi menjadi calon presiden dari partai PDI-P. Dengan maju sebagai calon presiden, pria ini menjadi semakin sibuk dan banyak musuh khususnya dalam dunia politik.

Tanggal 20 oktober 2014, sosok wong cilik yang dikenal dengan gaya blusukannya ini secara resmi di lantik sebagai Presiden Republik Indonesia ke-7. Hari yang begitu bersejarah untuk bangsa Indonesia dimana banyaknya masyarakat yang ikut merayakan pengangkatan Presiden ketuujuh ini. Tidak hanya dalam kalangan masyarakat biasa, beberapa artis pun ikut merayakan dengan menggelar acara konser salam 3 jari di Monas, Jakarta. Saat ini masyarakat menanti kinerja sosok Presiden RI ke-7 ini hingga tahun 2019. Semoga dengan membaca biografi Joko Widodo ini bisa menambah wawasan Anda.
Kutipan Jokowi
Kutipan Joko Widodo

   PENDIDIKAN JOKOWI   

  • SMP Negeri 1 Surakarta
  • SMA Negeri 6 Surakarta
  • Universitas Gajah Mada (UGM) Fakultas Kehutanan 

   KARIR JOKOWI   

  • Walikota Surakarta (2005-2012)
  • Gubernur Jakarta (2012-2014)
  • Presiden RI ke-7 (2014-2019)
  • Pengusaha mebel dan pertamanan

   PENGHARGAAN JOKOWI   

  • Bintang Jasa Utama - Presiden Republik Indonesia
  • Piala Citra Bhakti Abdi Negara (2008-2009-2010) - Presiden Republik Indonesia
  • Agent of change Kemandirian - Dompet Dhuafa
  • Democracy Award: Manusia Bintang - RMOL
  • Decade Award: Rising Leader - Men's Obsession
  • E-government - Kemkominfo
  • Adiupaya Puritama - Kemenpera
  • Best City Award - Delgosea
  • Pengendali inflasi - Bank Indonesia
  • Tata ruang kedua terbaik se-Indonesia - Kementrian PU
  • Top 50 Leaders dari Fortune
  • Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan - Kemennaker
  • Bung Hatta Anti Corruption Award - Meutia Hatta
  • Anti Gratifikasi - KPK
  • Program Perlindungan Anak - UNICEF Tahun 2006
  • Walikota No.3 Terbaik Dunia - The City Mayors Foundation
  • Social Media Award - Majalah Marketing & Frontier Consulting Group
  • 10 Tokoh Pilihan Tahun 2008 - Tempo
  • Tokoh Pluralis Tahun 2013 - dari Lembaga Pemilih Indonesia
  • Tokoh Seputar Indonesia Tahun 2013 - Anugerah Seputar Indonesia
  • Good Governance Award (20 September 2012) - Soegeng Soerjadi
  • Pencapaian target MDGs Untuk program KJP dan KJS - Bappenas
  • Pangripta Nusantara Utama - Bappenas
  • Nominasi World Mayor Tahun 2012
Seperti itulah ulasan dari profil dan Biografi Joko Widodo yang sempat di rangkum dalam rekam jejak sosok presiden ke-7 ini. Terima kasih telah membaca, semoga informasi diatas dapat membantu pembaca untuk dapat mengenal lebih dalam sosok Joko Widodo.

Jumat, 25 Oktober 2013

KYAI HAJI SAMANHOEDI, PAHLAWAN KEMERDEKAAN Kaya tetapi tidak memiliki rumah Kekayaannya habis untuk berjuang melawan penjajah



         Pada era 1900-an, Kyai Samanhoedi sudah menjadi orang yang terpandang dan kaya raya. Perusahaan batik yang dirintis dari kampung Laweyan Solo dapat berkembang pesat, mempunyai cabang di Surabaya, Banyuwangi, Bandung dan Tasikmalaya. Bahkan sudah sampai ke Negeri Belanda. Pada mulanya memang hanya membuat batik tulis halus asli buatan tangan yang menggunakan canthing itu. Dikarenakan batik halus asli itu pembuatannya membutuhkan waktu yang relatif lama, sedangkan kebutuhan pasar membanjir, maka muncullah ide. Bagaimana caranya memproduksi batik dengan cara yang lebih cepat dan mutunya tetap disukai pasar? Akhirnya untuk mengatasi hal itu dilakukan dengan memproduksi batik dengan teknik batik cap. Cara ini bisa memproduksi batik secara besar-besaran, untuk mencukupi pesanan dari berbagai cabang-cabang yang tersebar di Jawa Timur sampai Jawa Barat, hingga sampai wilayah Hindia Belanda.

Haji Samanhoedi Pahlawan Kemerdekaan Nasional
            Siapakah pengusaha batik yang memunculkan adanya Revolusi Batik dan kaya raya dari Laweyan Solo tadi?  Beliau adalah Haji Samanheodi sang pahlawan kemerdekaan nasional. Ditetapkan dengan Kepres Presiden Soekarno Nomor 540 tanggal 29 Nopember 1961. Lalu, bagaimana bisa pengusaha batik secara tiba-tiba menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional? Berikut Ceritanya : Memang Haji Samanhoedi disamping mempunyai filing bisnis yang kuat dan sukses, ternyata juga mempunyai jiwa seorang pejuang. Ketika usaha batiknya mengalami masa kejayaan, terkenal sampai ke luar negeri. Haji Samanhoedi mendirikan sebuah organisasi yang dirintis dari perkumpulan “Rondha Kampung” yang bernama “Reksa Rumeksa” hingga menjadi organisasi dengan nama Sarekat Islam (SI) atau ada yang menyebut dengan SDI (Sarekat Dagang Islam) tahun 1912. Pada saat itu usia Haji Samanhoedi adalah 34 tahun, lahir di Laweyan Solo tahun 1868.

Dalam Pengawasan Pihak Belanda
            SI berkembang dengan pesat meskipun pada saat itu masih Indonesia masih terjajah. SI sudah berani mengadakan konggres I (di Solo tanggal 25 Maret 1913), Haji Samanhoedi terpilih menjadi Ketuanya. Dengan 48 cabang di berbagai kota, satu cabang memiliki anggota kurang lebih 200.000 orang bertuliskan aksara Jawa. Dengan maksud agar sulit dibaca oleh kaum penjajah. Sarekat Islam semakin pesat, Haji Samanhoedi juga sering bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia seperti Haji Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, H.O.S. Tjokroaminoto, dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya. Disini, Haji Samanhoedi mengajak kaum pribumi untuk bersatu, berjuang bersama melawan penjajah, menuju Indonesia yang merdeka. Seiring dengan berjalannya waktu, lama-kelamaan aksi provokasi ini diketahui oleh Belanda. Pada saat itu Gubernur General Belanda William Frederick Idenburg (1909-1916) memerintahkan supaya SI-SI cabang mendirikan AD/ART sendiri-sendiri (local) pisah dengan AD/ART SI pusat yang ada di Solo. Dengan demikian gerak gerik SI dapat dikontrol oleh Belanda. Usaha dari Belanda pun berhasil, terjadi perpecahan antara CSI (Central Sarekat Islam) dan SI-SI lokal. SI lokal akhirnya dapat dikendalikan oleh Belanda.

Bintang Maha Putera dari Bung Karno
            Untuk menghormati jasa dan perjuangan Haji Samanhoedi dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi melalui organisasi. Pemerintah telah memberikan penghargaan Bintang Maha Putra kepada Haji Samanhoedi yang diberikan langsung oleh Presiden Soekarno, di Istana Merdeka Jakarta pada tanggal 15 Februari 1960, diterima oleh wakil keluarga Haji Samanhoedi yaitu Soekamto Samanhoedi, putera dari Kyai Haji Samanhoedi.

Hadiah berupa rumah dari Bung Karno
            Meskipun Haji Samanhoedi dengan usaha dagangnya yang sukses, tetapi beliau tetap menjadi pribadi yang sederhana. Suka membantu terhadap siapa saja yang membutuhkan. Uang hasil usahanya sedikit demi sedikit habis hanya untuk membiayai perjuangannya, untuk dana driah, Haji Samanhoedi merupakan pribadi yang dermawan, berjiwa sosial tinggi dan tidak ingin melihat bangsanya sengsara. Hingga akhirnya hartanya ludes sampai tidak punya tempat tinggal. Melihat kondisi ini, Bung Karno tergerak untuk memberikan hadiah rumah hasil rancangannya sendiri kepada Haji Samanhoedi, sebagai perintis kemerdekaan yang bertempat di Kampung Laweyan Solo.
            Disini ada tamabahan sedikit mengenai pengalaman Haji Samanhoedi ketika pergi Haji tahun 1904. Wiryowikoro (nama dari beliau sebelum naik haji) ketika berada di Jeddah setelah dari Mekkah, bermimpi lidahnya menjadi panjang hingga membelit seluruh dunia. Menurut ahli tafsir, mimpi yang diceritakan oleh Haji Samanhoedi, memberikan petunjuk bahwa nantinya Kyai Haji Samnhoedi akan menjadi pemimpin yang berpengaruh di negaranya.
            Berikut biografi singkat dari Kyai Haji Samanhoedi : Lahir di Solo tahun 1868. Pendidikan : Madrasah (SR) 6 tahun, mengaji di pesantren Sidosermo Surabaya. Umur 13 tahun HIS di Madiun. Wafat di Klaten 28 Desember 1956 dan dimakamkan di Kampung Mbanaran, Laweyan, Sukoharjo.

Minggu, 20 Oktober 2013

Biografi Tiga Serangkai: Kritis karena Benar!

Medio awal pergerakan (1900-1920), Hindia Belanda mulai bergeliat hendak melakukan perubahan, yang secara tidak langsung dipengaruhi oleh kebijakan politik etis pemerintah Hindia Belanda. Meskipun demikian arus ini tidak lantas segera berkembang besar. Setahap demi setahap para tokoh yang bermain di dalamnya melakukan berbagai upaya untuk membangun pondasi kebangsaan. Banyak yang masih malu-malu atau takut oleh pemerintah, namun beberapa lainnya berani melakukannya. Bahkan berteriak dengan lantang menyerukan kemerdekaan!


Biografi Tiga Serangkai

Adalah E.F.E. Douwes Dekker (1879-1950), Soewardi Soerjaningrat (1889-1959) dan Tjipto Mangoenkoesoemo (1886-1943), yang kerap dikenal dengan sebutan tiga serangkai. Ketiganya merupakan tokoh sentral di dalam Indische Partij (IP) yang berslogan “Hindia untuk Bangsa Hindia”. Dengan tuntutan merdeka dari negeri induknya yaitu Belanda. Tak hanya itu ketiganya merupakan tokoh-tokoh yang secara tajam mengkritik kebijakan pemerintah Hindia Belanda hingga membuat telinga pemerintah panas-memerah dan mencak-mencak.

Biografi Tiga Serangkai

Sebut saja, artikel Soewardi Soerjaningrat yang berjudul “Als Ik Nederland Was..” (Andai Aku Seorang Belanda) yang dimuat di harian De Express. Ia mengkritik kebijakan pemerintah yang akan merayakan peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis dan menolak dengan tegas perayaan tersebut diadakan di Hindia Belanda. Demi membantu sahabatnya itu, sehari kemudian Tjipto Mangoenkoesoemo mendukung pernyataan Soewardi di harian yang sama. Keduanya segera digiring ke penjara atas tuduhan penghasutan melawan pemerintah. Tertangkapnya kedua tokoh itu membuat Douwes Dekker membelanya dengan menyebutnya sebagai pahlawan. Empat hari kemudian Douwes Dekker turut diciduk aparat pemerintahan. Pada Agustus 1913 ketiganya dibuang ke Belanda.

Pembuangan tersebut membawa keuntungan bagi ketiganya. Di Belanda mereka meneruskan sekolah lagi dan tetap aktif di gelanggang politik. Douwes Dekker melanjutkan studinya bidang ilmu sosial dan politik di Universitas Zurich, Belanda, yang berhasil diluluskannya hanya dalam tempo 10 bulan dengan perolehan cumlaude. Soewardi melanjutkan ke ilmu pedagogie (pendidikan) hingga mendapat sertifikasi mengajar. Tjipto sendiri tidak melanjutkan pendidikannya karena dia hanya beberapa bulan saja berada di sana kemudian pulang karena sakit. Setelah itu ia aktif kembali di kancah politik Hindia Belanda dengan diangkat sebagai anggota Volksraad oleh pemerintah.

Sekembalinya dari pembuangan, tiga serangkai tetap berupaya membangun kekuatan IP yang telah berubah menjadi Insulinde (1914). Namun karena Misbach yang menggerakkannya adalah tokoh radikal, maka Insulinde Surakarta berkembang lepas dari kontrol ketiganya. Akibatnya pemerintah melakukan penekanan terhadap partai ini. Pungkasnya terjadi pada 1923, ketika Insulinde telah berganti nama menjadi Nationaal Indische Partai-Sarekat Hindia (NIP-SH), pemerintah melakukan penekanan hingga orang-orang Indo yang bernaung di dalamnya merasa ketakutan dan membubarkannya.

Pada 1923 ketika NIP-SH (perubahan nama IP) bubar, tiga serangkai lebih banyak menghabiskannya dengan terjun di dunia pendidikan. Douwes Dekker, yang telah bekerja sebagai guru di Sekolah Rendah pada September 1922, sepenuhnya sudah aktif dalam dunia pendidikan. Pada 1 Juli 1924 ia mengubah Preanger Instituut menjadi Schoolvereniging het Ksatriaan Instituut dan didaulat sebagai kepala sekolahnya. Tjipto semasa 1914, sekembalinya dari Belanda dan aktif di Volksraad, sempat bergeliat dalam pendirian Kartini Club di Solo. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya ia tidak banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan, akibat kesehatannya yang memburuk. Sedangkan Soewardi Soerjaningrat aktif dalam dunia pendidikan dan mendirikan Taman Siswa sebagai jawaban atas kegelisahannya dengan dunia pendidikan Barat. Tiga semboyan yang terkenal darinya yaitu ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani.

Minggu, 13 Oktober 2013

Indra Sjafri

Indra-sjafri.jpg

Indra Sjafri (lahir di Lubuk Nyiur, Batang Kapas, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 2Februari 1963; umur 50 tahun)[1] adalah seorang mantan pemain sepak bola yang kemudian menjadi pelatih sepak bola Indonesia.[2] Ia dipercaya menjadi pelatih Timnas Junior Indonesia (PSSI), seperti Timnas U-12, U-17 dan U-19 yang dijuluki Garuda Muda.

Indra Sjafri pernah membawa timnas junior merebut trofi juara pada turnamen sepak bola tingkat Asia, yaitu pada HKFA U-17 dan HKFA U-19 di Hongkong. Sebelumnya, Indra bertugas sebagai instruktur dan pemandu bakat di PSSI sejak Mei 2009. Indra merupakan mantan pemain sepak bola yang pernah membela PSP Padang pada tahun 1980-an, dan juga pernah menangani klub sepak bola dari ibukota provinsi Sumatera Barat itu sebagai pelatih.

Pada 22 September 2013, Indra Sjafri sukses membawa tim asuhannya, Timnas Indonesia U-19 menjuarai Turnamen Kejuaraan Remaja U-19 AFF 2013 setelah di final mengalahkan tim kuat Vietnam dalam pertandingan dramatis yang berujung adu penalti, dimana tim Indonesia menang dengan skor 7-6. Gelar juara ini merupakan gelar pertama Indonesia sejak 22 tahun terakhir dimana Indonesia tak pernah meraih satupun gelar juara baik di level Asia Tenggara maupun level yang lebih tinggi

Selasa, 17 September 2013

Jendral A.H Nasution

Biografi Jendral A.H Nasution

Jendral Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918, Pria Tapanuli ini lebih menjadi seorang jenderal idealis yang taat beribadat. Ia tak pernah tergiur terjun ke bisnis yang bisa memberinya kekayaan materi. Kalau ada jenderal yang mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya, Pak Nas orangnya. Tangan-tangan terselubung memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah Pak Nas pensiun dari militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, keluarga Pak Nas terpaksa membuat sumur di belakang rumah. Sumur itu masih ada sampai sekarang.


Memang tragis. Pak Nas pernah bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal Pak Nas sendiri menjadi tonggak lahirnya Orba. Ia sendiri hampir jadi korban pasukan pemberontak yang dipimpin Kolonel Latief. Pak Nas-lah yang memimpin sidang istimewa MPRS yang memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, tahun 1967.

Pak Nas, di usia tuanya, dua kali meneteskan air mata. Pertama, ketika melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi awal Oktober 1965. Kedua, ketika menerima pengurus pimpinan KNPI yang datang ke rumahnya berkenaan dengan penulisan buku, Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan.

Apakah yang membuatnya meneteskan air mata? Sebagai penggagas Dwi Fungsi ABRI, Pak Nas ikut merasa bersalah, konsepnya dihujat karena peran ganda militer selama Orba yang sangat represif dan eksesif. Peran tentara menyimpang dari konsep dasar, lebih menjadi pembela penguasa ketimbang rakyat.

Pak Nas memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomor wahid penguasa Orba. Namun sebagai penebus dosa, Presiden Soeharto, selain untuk dirinya sendiri, memberi gelar Jenderal Besar kepada Pak Nas menjelang akhir hayatnya. Meski pernah “dimusuhi” penguasa Orba, Pak Nas tidak menyangkal peran Pak Harto memimpin pasukan Wehrkreise melancarkan Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949.

Pak Nas dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya
melawan kolonialisme Belanda. Tentang berbagai gagasan dan konsep perang gerilyanya, Pak Nas menulis sebuah buku fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, jadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS). Dan, Pak Nas tak pernah mengelak sebagai konseptor Dwi Fungsi ABRI yang dikutuk di era reformasi. Soalnya, praktik Dwi Fungsi ABRI menyimpang jauh dari konsep dasar.

Jenderal Besar Nasution menghembuskan nafas terakhir di RS Gatot Subroto, pukul 07.30 WIB (9/9-2000), pada bulan yang sama ia masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ia nyaris tewas bersama mendiang putrinya, Ade Irma, ketika pemberontakan PKI (G-30-S) meletus kembali tahun 1965. Tahun 1948, Pak Nas memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang pernah 13 tahun duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Ia lalu menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan, sedang dalam persiapan. Masih ada beberapa bukunya yang terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid).

Ia dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadat. Ayahnya anggota pergerakan Sarekat Islam di kampung halaman mereka di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Pak Nas senang membaca cerita sejarah. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini melahap buku-buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW sampai perang kemerdekaan Belanda dan Prancis.

Selepas AMS-B (SMA Paspal) 1938, Pak Nas sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang. Tetapi kemudian ia tertarik masuk Akademi Militer, terhenti karena invasi Jepang, 1942. Sebagai taruna, ia menarik pelajaran berharga dari kekalahan Tentara Kerajaan Belanda yang cukup memalukan. Di situlah muncul keyakinannya bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah.

Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, Pak Nas menarik pelajaran kedua. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Mtode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (948-1949).

Pak Nas muda jatuh cinta pada Johana Sunarti, putri kedua R.P. Gondokusumo, aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, Pak Nas gemar bermain tenis. Pasangan itu berkenalan dan jatuh cinta di lapangan tenis (Bandung) sebelum menjalin ikatan pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua putri (seorang terbunuh).

Pengagum Bung Karno di masa muda, setelah masuk di jajaran TNI, Pak Nas acapkali akur dan tidak akur dengan presiden pertama itu. Pak Nas menganggap Bung Karno campur tangan dan memihak ketika terjadi pergolakan di internal Angkatan Darat tahun 1952. Ia berada di balik ”Peristiwa 17 Oktober”, yang menuntut pembubaran DPRS dan pembentukan DPR baru. Bung Karno memberhentikannya sebagai KSAD.

Bung Karno akur lagi dengan Pak Nas, lantas mengangkatnya kembali sebagai KSAD tahun 1955. Ia diangkat setelah meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta. Pak Nas dipercaya Bung Karno sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja. Keduanya tidak akur lagi usai pembebasan Irian Barat lantaran sikap politik Bung Karno yang memberi angin kepada PKI.

Namun, dalam situasi seperti itu Pak Nas tetap berusaha jujur kepada sejarah dan hati nuraninya. Bung Karno tetap diakuinya sebagai pemimpin besar. Suatu hari tahun 1960, Pak Nas menjawab pertanyaan seorang wartawan Amerika, ”Bung Karno sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia, sebelum saya faham perjuangan kemerdekaan”.?

Gaya hidup bersahaja dibawa Jenderal Besar A.H. Nasution sampai akhir hayatnya, 6 September 2000. Ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme. Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi. Namun Tuhan memberkatinya umur panjang, 82 tahun.

Biodata Jendral Abdul Haris Nasution

Nama: Abdul Haris Nasution
Pangkat: Jenderal Bintang Lima
Lahir : Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Meninggal: Jakarta, 6 September 2000
Agama : Islam
Istri: Ny Johanna Sunarti

Pendidikan :
= HIS, Yogyakarta (1932)
= HIK, Yogyakarta (1935)
= AMS Bagian B, Jakarta (1938)
= Akademi Militer, Bandung (1942)
= Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962)
= Universitas Padjadjaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
= Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962)
= Universitas Mindanao, Filipina (1971)

Karir :
= Guru di Bengkulu (1938)
= Guru di Palembang (1939-1940)
= Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
= Dan Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
= Dan Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948)
= Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (1948)
= Panglima Komando Jawa (1948-1949)
= KSAD (1949-1952)
= KSAD (1955-1962)
= Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
= Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1962-1963)
= Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
= Ketua MPRS (1966-1972)

Alamat Rumah :
Jalan Teuku Umar 40, Jakarta Pusat Telp: 349080

CUT NYAK DIEN


 


     Perempuan Aceh Berhati Baja Nangroe Aceh Darussalam merupakan daerah yang banyak melahirkan pahlawan perempuan yang gigih tidak kenal kompromi melawan kaum imperialis. Cut Nyak Dien merupakan salah satu dari perempuan berhati baja yang di usianya yang lanjut masih mencabut rencong dan berusaha melawan pasukan Belanda sebelum ia akhirnya ditangkap.
      Pahlawan Kemerdekaan Nasional kelahiran Lampadang, Aceh, tahun 1850, ini sampai akhir hayatnya teguh memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Wanita yang dua kali menikah ini, juga bersuamikan pria-pria pejuang. Teuku Ibrahim Lamnga, suami pertamanya dan Teuku Umar suami keduanya adalah pejuang-pejuang kemerdekaan bahkan juga Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Jiwa pejuang memang sudah diwarisi Cut Nyak Dien dari ayahnya yang seorang pejuang kemerdekaan yang tidak kenal kompromi dengan penjajahan. Dia yang dibesarkan dalam suasana memburuknya hubungan antara kerajaan Aceh dan Belanda semakin mempertebal jiwa patriotnya.
     Ketika Lampadang, tanah kelahirannya, diduduki Belanda pada bulan Desember 1875, Cut Nyak Dien terpaksa mengungsi dan berpisah dengan ayah serta suaminya yang masih melanjutkan perjuangan. Perpisahan dengan sang suami, Teuku Ibrahim Lamnga, yang dianggap sementara itu ternyata menjadi perpisahan untuk selamanya. Cut Nyak Dien yang menikah ketika masih berusia muda, begitu cepat sudah ditinggal mati sang suami yang gugur dalam pertempuran dengan pasukan Belanda di Gle Tarum bulan Juni 1878.
Begitu menyakitkan perasaaan Cut Nyak Dien akan kematian suaminya yang semuanya bersumber dari kerakusan dan kekejaman kolonial Belanda. Hati ibu muda yang masih berusia 28 tahun itu bersumpah akan menuntut balas kematian suaminya sekaligus bersumpah hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu usahanya menuntut balas tersebut. Hari-hari sepeninggal suaminya, dengan dibantu para pasukannya, dia terus melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.
     Dua tahun setelah kematian suami pertamanya atau tepatnya pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah lagi dengan Teuku Umar, kemenakan ayahnya. Sumpahnya yang hanya akan menikah dengan pria yang bersedia membantu menuntut balas kematian suami pertamanya benar-benar ditepati. Teuku Umar adalah seorang pejuang kemerdekaan yang terkenal banyak mendatangkan kerugian bagi pihak Belanda. Teuku Umar telah dinobatkan oleh negara sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

R.A Kartini

 Raden Ajeng Katini


 Duistermis tox Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.
Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.
Upaya dari puteri seorang Bupati Jepara ini telah membuka penglihatan kaumnya di berbagai daerah lainnya. Sejak itu sekolah-sekolah wanita lahir dan bertumbuh di berbagai pelosok negeri. Wanita Indonesia pun telah lahir menjadi manusia seutuhnya.

Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.
Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.
Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.
Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli “Max Havelaar” dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita

Bung Tomo

 Bung Tomo
.
Lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920, Sutomo atau lebih dikenal sebagai Bung Tomo adalah sosok yang aktif berorganisasi sejak remaja. Tumbuh di masa-masa sulit, masa penjajahan, Bung Tomo menjelma menjadi seorang pemuda yang tangguh. Tertarik dengan dunia jurnalisme, pada masa mudanya Bung Tomo tercatat sebagai wartawan freelance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya 1937. Pada tahun 1939 Bung Tomo menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa di Ekspres, Surabaya. Terakhir beliau tercatat sebagai Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya 1945.
Jiwa kepahlawanan Bung Tomo tidak perlu diragukan lagi. Sejarah mencatat seorang Bung Tomo sebagai sosok yang cinta tanah air, tak gentar melawan penjajah dan terus mengobarkan semangat para pejuang pada masanya. Sosok yang namanya telah melekat erat pada rakyat Indonesia umumnya serta warga Surabaya, arek-arek Surabaya khususnya, sebagai seorang pahlawan ini ternyata baru mendapat gelar pahlawan setelah dua puluh tujuh tahun wafat.
Sosok yang sejak kita sekolah, diajarkan di pelajaran sejarah, kita anggap sebagai pahlawan karena perjuangannya mulai dari melawan penjajah sampai mempertahankan kedaulatan republik ini yang sempat hendak diusik lagi oleh Belanda ternyata dulunya tidak diakui sebagai pahlawan oleh pemerintah kita. Bung Tomo, pahlawan pengobar semangat juang arek-arek Surabaya ini baru mendapat gelar pahlawan secara resmi dari pemerintah pada tahun 2008, yang disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/TH 2008.
Sesuatu yang menimbulkan tanda tanya besar, meski kemudian jika kita menilik kembali sepak terjang beliau pada masanya hal ini tidak lagi mengejutkan. Bung Tomo bukan hanya seorang pejuang yang kritis terhadap penjajah, beliau adalah sosok yang juga kritis terhadap pemerintah. Pada jaman orde baru, pemerintahan Soeharto, Bung Tomo bahkan sempat dipenjara. Kritik-krtitiknya terhadap pemerintah waktu itu membuat gerah penguasa. Pemikiran-pemikirannya yang kritis bisa dibaca di bukunya, Menembus Kabut Gelap: Bung Tomo Menggugat.
Menurut KBBI, pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dulu membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Kalau menilik pendefinisian di atas kiranya tak salah kalau selama ini kita menganggap Bung Tomo sebagai pahlawan meskipun, sekali lagi, ternyata pemerintah kita baru mengakui belum lama ini. Akan tetapi terlepas dari pengakuan pemerintah, ataupun pendefinisian, jasa Bung Tomo patut kita hargai. Bukan itu saja, di masa di mana kita sudah dinyatakan, diakui merdeka tapi ternyata masih “terjajah” ini, jiwa kepahlawanan seperti Bung Tomo sangat dibutuhkan. Bangsa kita butuh pahlawan-pahlawan untuk membawa bangsa ini menuju terwujudnya cita-cita bersama, cita-cita yang tertuang dalam butir-butir Pancasila terutama sila kelima, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Cita-cita yang sepertinya masih sekadar pengakuan, tertulis, resmi, tapi belum benar-benar diamalkan.

Pangeran Diponegoro



Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun) adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Makamnya berada di Makassar. Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama kecil Bendoro Raden Mas Ontowiryo.

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III, untuk mengangkatnya menjadi raja. Ia menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Diponegoro mempunyai 3 orang istri, yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu Ratnaningrum.

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian seperti itu tidak disetujui Diponegoro.

Riwayat perjuangan
Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan pasukan Diponegoro di Goa Selarong.

Selama perang ini kerugian pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden. Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan sayembara pun dipergunakan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada 1830.

Ki Hajar Dewantara



 Ki Hajar Dewantara
Nama: Ki Hajar Dewantara
Gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional
Dasar Hukum: Kepres No.305 Tahun 1959 tanggal 28 November 1959
Lahir: Yogyakarta, 2 Mei 1889
Wafat: Yogyakarta, 28 April 1959
Makam: Yogyakarta


R.M. Suwardi Suryaningrat, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara, lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Sesudah menamatkan Sekolah Dasar, ia melanjutkan pelajaran ke STOVIA di Jakarta, tetapi tidak sampai selesai. Sesudah itu, ia bekerja sebagai wartawan, membantu beberapa surat kabar antara lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, dan Utusan Hindia. Bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, pada tanggal 25 Desember 1912 ia mendirikan Indische Partij yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Pada tahun 1913 ia ikut membentuk Komite Bumiputra. Melalui komite itu dilancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dan penjajahan Prancis. Karangannya yang berjudul Als Ik een Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda), berisi sindiran dan kecaman yang pedas. Akibatnya, pada bulan Agustus 1913 ia dibuang ke negeri Belanda. Kesempatan itu dipergunakan untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran, sehingga ia berhasil memperoleh Europeesche Akte.


Setelah kembali ke tanah air pada tahun 1918, ia mencurahkan perhatian di bidang pendidikan. Pada tanggal 3 Juli 1922 didirikannya Taman Siswa, sebuah perguruan yang bercorak nasional. Kepada anak didik ditanamkan rasa kebangsaan agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Banyak rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa, antara lain adanya Ordonansi Sekolah Liar yang dikeluarkan oleh Pemerintah Belanda. Tetapi, berkat perjuangan Ki Hajar Dewantara, ordonansi itu dicabut kembali.

Pada masa Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan Ki Hajar Dewantara. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) pada tahun 1943, ia duduk sebagai salah seorang pemimpinnya di samping Ir. Sukarno, Drs. Muhammad Hatta, dan K.H. Mas Mansur. Jabatan yang pernah dipegangnya setelah Indonesia merdeka ialah Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan.
Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional dan pendiri Taman Siswa. Ajarannya yang terkenal ialah Tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sung tulada, artinya: di belakang memberi dorongan, di tengah memberi teladan.

Ia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di sana. Hari lahir Ki Hajar Dewantara, tanggal 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Ronny Pasla Kiper Indonesia yang Pernah Menahan Tendangan Pinalti Pele

Ronny Pasla kiper Indonesia (PSSI) legendaris kelahiran Medan, 15 April 1947. Dia berkiprah sebagai kiper tim nasional Indonesia tahun 1966 sampai 1985. Peraih Piagam dan Medali Emas dari PSSI (1968), Atlet Terbaik Nasional (1972) dan Penjaga Gawang Terbaik Nasional (1974), itu memulai karir sepak bolanya dari Medan.



Sebenarnya, Ronny lebih awal meminati olahraga tennis sampai sempat meraih juara pada Kejuaraan Tenis Nasional Tingkat Junior di Malang, 1967. Namun ayahnya, Felix Pasla menyarankannya ke sepakbola. Jadilah dia andalan di klub Dinamo, Medan, Bintang Utara, Medan dan PSMS Medan. Kemudian hijrah ke Persija Jakarta dan Indonesia Muda, Jakarta. Selama berkiprah di PSMS, Ronny dan rakan-rekannya meraih prestasi sebagai Juara Piala Suratin (1967) dan Juara Nasional (1967).

Kiprahnya sebagai penjaga gawang andalan Tim Nasional Indonesia (PSSI) juga meraih prestasi sebagai Juara Piala Agakhan di Bangladesh (1967), Juara Merdeka Games (1967), Peringkat III Saigon Cup (1970) dan Juara Pesta Sukan Singapura (1972).

Atas prestasinya yang gemilang sebagai kipper PSMS, Ronny berdarah Manado yang dijuluki Macan Tutul bertinggi badan 183 cm itu mendapat penghargaan sebagai Warga Utama Kota Medan (1967). Kiprahnya di sepakbola dan Timnas PSSI sebagai kiper andalan sejak 1966 hingga pensiun 1985 dalam usia 38 tahun dianugerahi Piagam dan Medali Emas dari PSSI (1968), Atlet Terbaik Nasional (1972), Penjaga Gawang Terbaik Nasional (1974).

Selama karir sebagai kiper tentu banyak pengalaman Ronny yang amat berkesan. Salah satu di antaranya, tatkala Timnas Brazil yang diperkuat pesepak bola legendaris Pele, tur ke Asia termasuk Indonesia pada 1972. Dalam laga Timnas Indonesia dan Brazil itu Ronny berhasil menahan eksekusi penalti Pele, kendati Indonesia akhirnya kalah 1-2.

Setelah pensiun dari dunia sepak bola pada usia 40 tahun di Indonesia Muda (IM), Jakarta, Ronny lebih banyak menggumuli olahraga tennis lapangan sebagai pelatih. Bahkan dia memiliki sekolah tenis lapangan bernama Velodrom Tennis School di Jakarta.